Pergelaran Tari Rakyat Jawa Tengah

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Tari Boyong Menoreh dari Kabupaten Temanggung (tubas/roian dee)

SOLO, (TubasMedia.Com) – Jawa Tengah mempunyai beragam seni tradisi yang hingga saat ini masih dipelihara dan dilestarikan oleh masyarakat, bahkan di sejumlah wilayah seni dimodifikasi dengan mengadopsi elemen-elemen modern pada desain atau pola geraknya.

Taman Budaya Jawa Tengah menyelenggarakan Pesta Seni Jawa Tengah berupa Pergelaran Tari Rakyat ini dalam rangka menyongsong Tahun Kunjungan Wisata/Visit Jawa Tengah Tahun 2012 serta sebagai lembaga konservasi dan pengembangan seni budaya. Kemeriahan pagelaran ini didukung oleh beberapa komunitas tari rakyat.

Dari masing-masing perwakilan daerah menyajikan karya tari rakyat unggulan sebagai identitas daerah, diantaranya berasal dari Kabupaten Kudus, Temanggung, Boyolali, Demak, Kota Semarang, Klaten, Purbalingga, Pekalongan, Purworejo, Wonogiri, Wonosobo dan Purwodadi.

Selasma dua hari, 28-30 Mei 2012 Taman Budaya Surakarta Jl. Ir. Sutami Solo, tak ubahnya bagai taman bunga semerbak indahnya warna kostum para penari dengan semangat menampilkan tarian dari daerah masing-masing. Misalnya tarian dari Kabupaten Kudus dengan nama Tari Kretek dari Sanggar Puringsari yang menceritakan tarian tersebut merupakan tarian kebanggaan masyarakat Kudus.

Tarian ini melambangkan Kota Kudus sebagai “Kota Kretek” yang berarti pusat produksi rokok kretek baik tradisonal dengan tangan maupun modern dengan mesin. Bentuk tarian diwujudkan dengan gerak tari yang indah, dinamis, dan menarik. Tarian ini menggambarkan seluruh proses produksi rokok kretek nasional. Berbalut busana khas masyarakat Kudus yang juga biasa dikenakan saat menerima tamu-tamu kehormatan.

Tak kalah indahnya Kabupaten Temanggung menyuguhkan “Tari Boyong Menoreh” diperankan oleh Paguyuban Seni Kuda Lumping Turonggo Bhexso. Tarian ini mengisahkan Adipati Soemodilaga seorang Bupati Menoreh yang berkedudukan di Parakan gugur dalam perang Diponegoro sebagai penggantinya diangkatlah Raden Aryo Joyonegaro pada tahun 1826.

Ibu Kota Menoreh (parakan) telah porak poranda karena perang, maka pada hari anggoro kasih Bupati Raden Tumenggung Aryo Joyonegaro memindahkan/memboyong Kadipaten Menoreh ke Temanggung dengan harapan mendapatkan ketentraman dan kesejahteraan kehidupan masyarakat Temanggung di masa mendatang.

Pagelaran ini diharapkan bisa memacu aktifitas dan kreatifitas bagi para pekerja seni tradisi dan sekaligus sebagai penghargaan atas kesetiaannya dalam berkiprah dalam dunia seni tari tradisi yang mempunyai tantangan berat ketika kemajuan zaman mengancam segala sesuatu yang berbau tradisi. (roian)

Berita Terkait

Komentar

Komentar