Peringatan Jumenengan Tjokronegoro, Menggugah Masyarakat Membangun Purworejo

put

PURWOREJO, (tubasmedia.com) – Peringatan Jumenengan Tjokronegoro dapat menggugah semangat masayarakat untuk membangun Purworejo, selain itu juga dapat menumbuhkan pariwisata, untuk menjadi ikon di Kabupaten Purworejo,harapannya bupati Purworejo Drs H Mahsun Zain.MAg. “Terkait dengan sejarah yang tertulis dan tersimpan dalam Arsip di Amsterdam Belanda, jika dananya memungkinkan akan kita lacak dan pelajari kesana,” ungkap pada Jumenengan Tjokokronegoro I ke 184, di pendopo kabupaten, pekan lalu.

Dikatakan bahwa peringatan Jumenengan Tjokronegoro, merupakan wujud penghormatan dan rasa cinta terhadap Bupati Tjokronegoro I. Peninggalannya juga terus dipertahankan karena sangat bermanfaat bagi masyarakat Purworejo. Seperti pendopo kabupaten yang termegah se Kedu, sungai Kedung Putri, bedug Pendowo yang terbesar di Jawa Tengah, dan masih banyak lagi. “Kita sekarang tinggal menempati kloso gumelar. Tidak usah mencari kloso, tetapi cukup berupaya terus menjaganya. Maka kita harus menjadi masyarakat yang selalu bersyukur dan hormat, sehingga termasuk dalam golongan masayarakat yang tidak sombong,” tandasnya.

Meskipun Hari Jadi Kabupaten Purworejo telah ditetapkan dengan peraturan daerah, namun masih ada yang meragukan kebenarannya. Seperti yang diungkapkan dari Trah Tjokronegoro HR Boedi Sardjono BRE (78), yang mengungkapkan penetapan Hari Jadi Kabupaten Purworejo perlu direvisi. Menurutnya, Apabila dilihat dari sejarah berdirinya Kabupaten Purworejo bersamaan dengan pengangkatan bupati Tjokronegoro I. “Sehingga jumenengan Tjokronegoro I di tahun-tahun mendatang, agar dijadikan sebagai Hari Jadi Purworejo,” harapnya.

Menurut Budi Sardjono, agar menjadi jelas maka perlu dilakukan revisi perda penetapan Hari Jadi Purworejo. “Nama Kabupaten Purworejo dan pemerintahannya, berdiri sejak 27 Februari 1831 yang ditandai dengan dilantiknya Bupati Tjkronegoro I sebagai bupati pertama. Bahkan untuk lebih akuratnya, agar melihat sejarah pada arsip Belanda di Delf Belanda. Tentu dalam melihat sejarah, hendaknya dengan jernih, bersih, agar tidak ada rekayasa politik atau kepentingan golongan,”tandasnya.

Budi Sardjono berharap, untuk perayaan peringatan jumenengan dapat dirayakan oleh segenap masyarakat Purworejo, bahkan kedepan bisa menjadi ikon kepariwisataan Kabupaten Purworejo. Sehingga perlu dikemas lebih meriah lagi seperti ditambah dengan kirab, pasar malam, pasar murah, hingga dimeriahkan ditingkat kecamatan. Sementara itu tokoh masyarakat Soekoso DM SPd ketika ditemui secara terpisah mengatakan, peringatan jumenengan Tjokronegoro semestinya tidak masuk dalam tupoksi Dinas Dikbudpora. “Jangan masuk ke Pemkab, tetapi membuat panitia sendiri, katanya. (ahmad)

Berita Terkait

  • Tidak Ada

Komentar

Komentar