Perjalanan Hidup Manusia

Oleh : Suryadi

ilustrasi

ilustrasi

HAWA panas dan polusi menyergapku begitu aku duduk di samping sopir bemo menuju ke Pasar Anyar. Kejadian itu terjadi sepuluh tahun yang lalu ketika bemo masih menjadi salah satu angkutan di Bogor. Masih terlintas dalam ingatanku sampai saat ini adalah keluhan pak sopir bemo ditengah deru mesin bemo dan hawa panas.

Tak henti-henti sepanjang perjalanan yang hanya duapuluh menit itu, ia menggerutu. Saat kutanyakan permasalahan yang sedang dihadapi, secara tak langsung ia menyatakan bahwa menyesal menjadi sopir bemo. Kira-kira dua bulan sebelumnya ia masih menjadi sopir truk antarpropinsi.

“Waktu pegang truk dalam semalam aku mendapat uang limapuluh ribu rupiah dan bersih sekitar duapuluh ribu rupiah. Tetapi sekarang setiap hari hanya menerima uang receh terus.” Pak sopir menjelaskan disela-sela gerutunya.

“Walau demikian toh, pak sopir masih menikmati yang lain.” Aku berusaha menghibur. “Yaitu selalu berkumpul dengan keluarga.” Aku menambahkan.

Pak sopir hanya menarik nafas panjang. Setelah diam beberapa saat, dia mengaku sakit hati atas PHK terhadap dirinya yang dianggap tak adil. Masih banyak lagi keluhannya sampai aku turun di Pasar Anyar.

Berbagai macam perjalanan hidup manusia, ada cerita lain dari sepasang suami istri yang mempunyai toko sub grosir. Sang suami selalu menyalahkan istrinya sampai sang istri stres dan sakit-sakitan. Namun suaminya tetap berkeras kepala bahwa kerugian usahanya ini gara-gara istrinya yang terlalu murah hati kepada pelanggan.

“Ramah-tamahmu itulah yang membuat kamu mudah ditipu dan kita rugi besar.” Kata suaminya pada suatu waktu, masih ditambah lagi,”Orang di kampung ini tak perlu dilayani berhalus-halus.” hal inilah yang membuat sang istri stres. Sang istri tidak sependapat dengan suaminya, namun tidak mampu meyakinkan karena di sini di kampung Kidul-Pasar, ia setiap hari menyaksikan banyak orang di sekelilingnya, ada yang berhasil, ada juga yang tidak dan semuanya berperilaku kasar dengan suara keras, termasuk suaminya. Semuanya sangat berbeda dengan asal usul dirinya.

Kisah nyata sopir bemo dan ibu di atas, adalah sebagian kecil dari cerita perjalanan hidup manusia yang merasa tak berdaya karena tidak mengerti. Bila sang ibu menyaksikan bahwa berbudi pekerti baik itu tak banyak gunanya dalam berbisnis, maka sebaliknya di tempat lain seorang sopir truk dipecat dan terpaksa menjadi sopir bemo karena budi pekertinya yang kasar dan membahayakan umum.

Sukses dalam berusaha ditentukan oleh tujuan yang jelas dan perencanaan yang tepat. Tujuan jahat yang direncanakan secara tepat dapat saja menjadi sukses. Jadi, suatu pekerjaan bila tujuannya baik dan jelas, rencananya tepat dan budi pekertinya juga baik, seharusnya sukses. Bila tidak, pasti ada yang salah. Kesalahannya pasti pada manusianya, karena manusia faktor penentu utama, bukan pada barang atau alat. Cara mengatasi kesalahan dapat bermacam-macam. Namun salah satu cara untuk melangkah yang tepat saat menjalani perjalanan hidup ini adalah dengan “Bekerja didasari kesadaran yang dalam kepada Tuhan’ yang implemantasinya selalu sadar kepada Tuhan saat melaksanakan segala macam pekerjaan di dunia.

Andaikan seseorang ‘Bekerja didasari kesadaran yang dalam kepada Tuhan’ dan dapat selalu mendekat dengan Tuhan maka semua karyanya dipersembahkan kepada kebaktian terhadap Sang Maha Pencipta. Itulah yang menyebabkan ia selalu dengan gembira dan ikhlas menunaikan tugasnya, karena ada cita-cita luhur. Mempraktekannya bagaimana?

Setelah mengerti bahwa semua kegiatan di dunia seharusnya dilandasi kesadaran kepada Tuhan dan dipersembahkan karena baktinya kepada Tuhan, maka seluruh pikiran saat akan memulai kegiatan diusahakan selalu sadar dan percaya bahwa ‘Semua kuasa adalah kekuasaan Tuhan.’ Tentunya hal ini menjadi sukar dilaksanakan bila tidak dilandasi dengan budi pekerti yang halus. Budi pekerti yang halus adalah rasa ikhlas/tulus, menerima kenyataan yang ada, jujur, dan sabar menghadapi setiap perikehidupan di masyarakat.

Lalu bagaimana hubungan antara sukses dengan bidang usaha atau kerja kita?

Melaksanakan petunjuk di atas, ternyata akan berdampak positif terhadap hasil kerja kita. Andaikata saya sopir truk, maka kalau secara obyektif saya harus menerima kenyataan bahwa saya sedang dalam antri muatan, ketika saya menerima kenyataan ini, maka tidak akan terusik oleh ajakan kenek agar menyuap satpam untuk meperoleh antrian di depan.

Dampaknya saya akan tahu kapan waktu yang tepat untuk antri dihari-hari berikutnya, juga saya tahu kapan harus istirahat dan kapan harus menyetir. Bila situasinya menuntut saya harus bersabar, maka saya bersabar dan tidak tergoda untuk menyerobot jalan atau marah oleh klakson di belakang saya. Dampaknya saya tidak mengalami ketegangan.

Demikian pula kalau saya menjadi seorang pedagang, maka dengan menerima kenyataan kehidupan di dunia dagang maka kesabaran muncul, selain hati tenang, pelanggan diberi “ruang untuk bernafas” dan “waktu” untuk mengungkapkan semua keluhannya. Hasilnya dapat mendengar dengan lebih jelas dan tahu lebih banyak apa yang diinginkan pelanggan, sehingga dapat terungkap sebenarnya kenakalan pelanggan itu disebabkan oleh kepanikan yang dihadapi bersangkutan karena urusannya sendiri, namun sebagai penjual dapat memahami dan membantu sesuai kebutuhannya. Rasa aman akan terasakan karena kesadaran akan berbuah waspada, dan masih banyak lagi.

Bila ‘bekerja didasari kesadaran yang dalam kepada Tuhan’, dilaksanakan dengan terus menerus, maka dijamin hidup akan stabil dan bahagia.***

Penulis tinggal di Bogor

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar