Pers Jangan Timbulkan Kegelisahan

Laporan : Sabar Hutasoit

Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA, (Tubas) – Dalam menjalankan tugas jurnalistiknya, insan pers nasional diminta untuk tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budi pekerti dan jika melontarkan kritik, lontarkanlah dengan kritik yang sehat sehingga tidak menimbulkan kegelisahan.

Demikian dilontarkan Koordinator Ikatan Kekeluargaan Advokat Universitas Indonesia (IKA UI), Suria Nataadmadja kepada pers di Jakarta, Rabu petang. Sebelumnya, anggota IKA UI bersama para pengurus mengadakan bincang-bincang bertema Tanggungjawab dan Kebebasan Pers.

Acara bincang-bincang tersebut diselenggarakan sehubungan adanya perseteruan antara Sekab Dipo Alam dengan beberapa media sehubungan adanya ancaman dari Dipo Alam yang akan memboikot beberapa media dengan alasan telah menjelek-jelekkan pemerintah. Akibat ancaman tersebut, Dipo Alam dilaporkan ke Polda Metro Jaya.

“Atas dasar itulah kami coba bahas dari aspek hukum dan aspek kepentingan pers itu sendiri,” kata Chudri Sitompul, salah seorang pengurus IKA UI.

Dari hasil bincang-bincang itu, lanjut pengurus IKA lainnya, Rufinus Hotma Hutauruk, disepakati bahwa Dipo Alam tidak memenuhi unsur pidana. Karena itulah lanjutnya IKA mencoba menjembatani Dipo dengan media.

Di bagian lain keterangannya, Rufinus menyebut peranan pers dalam membangun bangsa dan negara cukup besar bahkan untuk mengentaskan kemiskinan peranan pers sangat tinggi. Kalau pers melakukan kegiatannya secara benar, kemiskinan tidak akan ada lagi, tegas Rufinus.

Sementara itu Wina Armada dari Dewan Pers yang hadir dalam temu wartawan menyebut saat ini sejumlah media tidak lagi independen, melainkan dikendalikan pemilik modal, bahkan wartawan dari beberapa penerbitan dikomandoi pemegang saham.

“Ini yang tidak benar. Dewan Pers sudah menyiapkan aturan untuk mencegah intervensi pemilik modal kepada jajaran redaksi sehingga julukan juraganisme tidak boleh lagi ada di perusahaan penerbitan pers nasional,” katanya. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar