Pertumbuhan Demand Side Lambat Direspon

images.jpgaaaaaaaaaaaaaaaa

Oleh: Fauzi Aziz

KALAU kita percaya pada hukum pasar, maka kenaikan harga-harga bahan pokok boleh jadi memang di pasar terjadi fenomena seperti judul tulisan ini. Tapi di Indonesia yang terjadi debat bahwa semestinya harga-harga bahan pokok tidak naik karena supplynya cukup.

Suara pemerintah umumnya seperti itu, meskipun kadangkala tidak sama dengan apa yang disuarakan. Padahal pasar bersuara apa adanya, pasokan tidak cukup akibat permintaan naik. Debat ini berkepanjangan, sehingga yang terjadi adalah harga tetap nangkring, penambahan pasokan tak kunjung tiba, apalagi jika penambahannya berasal dari impor.

Baiklah semua berlalu begitu saja dan semua pihak hanya bisa mengatakan harap maklum. Buat Indonesia gaduh adalah hal biasa. Komoditas bisa menjadi dagangan politik. Kalau sudah lelah akhirnya sirna sendiri dan ujungnya semua pihak happy.

Ada yang happy karena dapat untung besar, ada pula yang happy karena dapat rente dan happy karena gaji ke-13 akan segera dibayar. Indonesia barangkali mempunyai problem disupply side. Semen tara itu, demand sidenya terus bertumbuh. Tiap tahun menurut BPS jumlah golongan kelas menengah Indonesia bertambah antara 8-9 juta orang.

Total jumlahnya mencapai 130 juta jiwa (separoh dari jumlah penduduk Indonesia). Pendapatan yang dibelanjakan per hari berada pada kisaran USD 2-20. Mereka ini adalah “pembelanja” yang potensial karena mereka memiliki pendapatan menganggur yang cukup memadai.

Ahli marketing mengatakan Rule of Thumb  yang umum dijadikan patokan adalah 1/3 dari total pendapatan adalah pendapatan menganggur. Dalam kasus harga daging, boleh jadi mereka itu  termasuk yang kebutuhan konsumsi dagingnya meningkat.

Menurut data yang dirilis  “Yuswohadi”, jumlah populasi kelas menengah Indonesia berdasarkan kisaran pengeluaran dan wilayahnya di tahun 2012 sebagai berikut.

Di tingkat nasional, dengan jumlah kelas menengah 129.187.392 jiwa yang pengeluarannya per hari USD 2-4 sebanyak 70,25%. Sementara itu, yang pengeluaran per harinya antara USD 4-10 per hari adalah 26,69% dan yang sebesar USD 10-20 per hari adalah 3,05%.

Rhenald Kashali juga menyampaikan data menarik bahwa menurut ADB (2010), antara tahun 2002-2008 terdapat 102 juta orang Indonesia 46% dari jumlah penduduk yang berhasil naik kelas bergabung menjadi kelas menengah.

Kenaikan ini terbesar ke 3 di dunia setelah Tiongkok (meningkat sebanyak 817 juta) dan India (274 juta jiwa). Dengan demikian, pertumbuhan terbesar jumlah konsumen kelas menengah dunia ada di Asia. Lebih dari 1,2 miliar pendatang baru kelas menengah adalah potensi yang menjadi motor perubahan dan pertumbuhan baru Asia.

Diperkirakan tahun 2030, konsumen kelas menengah Asia ini akan membelanjakan USD 32 triliun atau 43% konsumsi dunia. Oleh sebab itu, benar apa yang menjadi fokus kebijakan presiden, yakni meningkatkan investasi dan produksi.

Baik peningkatan investasi dan produksi di sektor pertanian maupun di sektor industri manufaktur. Kalau sekarang kedodoran mengantisipasi bekerjanya hukum pasar ada hal yang salah mesti dibenahi.

Pertama data supply demand harus dibenahi. Sekarang kita bukan hanya memerlukan data makro, tapi juga data mikro yang akurat. Kedua, ruang kosong antara supply dan demand harus diisi di saat yang tepat dengan memberikan ruang membuka kran impor kalau demand-nya lebih besar dari supply-nya.

Jika sebaliknya, maka kelebihannya menjadi stok nasional maupun di daerah. Ketiga, fenomena pertambahan golongan kelas menengah Indonesia ini harus dicermati para perumus kebijakan ekonomi agar potensi captive market-nya tidak diisi oleh impor.

Bagaimanapun impor adalah menguras penggunaan cadangan devisa. Namun imporpun adalah merupakan kebijakan penyangga apabila produksi nasional mengalami hambatan. Pencermatan atas siklus bisnis dan siklus ekonomi adalah basis utama yang harus bisa dimengerti bukan hanya dari sisi makro, tetapi juga dari sisi mikro.

Pada zaman orba, setiap sidang kabinet di bidang ekonomi yang dibahas pertama kali adalah soal ketersediaan dan perkembangan harga sembilan bahan pokok. Tujuannya adalah bila ada potensi gangguan di sisi pasokan, pemerintah dapat segera mengambil tindakan remedy-nya secara tepat untuk menjaga stabilitas ekonomi.

Ini adalah pelajaran baik  yang tidak ada salahnya diterapkan di era sekarang. Dengan memanfaatkan teknologi informasi harusnya semua informasi tentang kondisi suppy demand atas komoditi strategis dapat ditangani dengan baik. Ini masalah klasik. Semestinya ada kemajuan dalam menangani masalah manajemen stok dan logistik di republik ini.

Sistemnya bisa dibenahi kalau memang yang berlaku sekarang tidak memadai.Termasuk penerapan sistem diteksi dini harus bisa berfungsi dengan baik. Semua menteri yang bertanggungjawab menangani sisi produksi, setiap sidang kabinet di bidang ekonomi wajib menyampaikan informasi yang akurat tentang barang strategis baik dari sektor  pertanian, ESDM dan industri pengolahan. (penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi dan industri).

Berita Terkait