Pertumbuhan Ekonomi Adalah Harapan Dan Keniscayaan

Oleh: Fauzi Aziz

 

PERTAMA, minggu ini media dibanjiri berita ekonomi yang membawa harapan baru bahwa Indonesia telah berhasil keluar dari jebakan krisis. Alhamdulillah pada triwulan-2, 2021 ekonomi tumbuh 7,07% year on year. Dan data quarter to quarternya tumbuh 3,31%.Sedangkkan angka c to c tumbuh 3,10%.Hingga triwulan 2,total nilai PDB yang terekam adalah Rp 4.175,8 triluin.Ini adalah fakta yang secara metodologis angka-angka tersebut mestinya dapat dipertanggung jawabkan karena dirilis oleh lembaga yang kompeten, yakni BPS.

KEDUA, di saat pandemi covid 19 , dan di saat pemerintah tengah melaksanakan PPKM level 4 untuk jawa-bali dan l di luar jawa-bali, ekonomi masih bisa tumbuh tinggi. Yang menarik cenderung berlangsung merata di semua propinsi ( tidak ada lagi yang mengalami kontraksi). Dari sisi pengeluaran-pun juga ada hal yang luar biasa bahwa semua sektor pembentuknya tumbuh positip, yakni konsumsi rumah tangga 5,93%, konsumsi LNPRT 4,12%, konsumsi pemerintah 8,06%, PMTB 7,54%, ekspor 31,78%, impor 31,22 %. Pertumbuhan di 6 koridor ekonomi juga spektakuler, yakni Sumatera tumbuh 5,27%, Kalimantan 6,28%, Sulawesi 8,51%, Maluku dan Papua 8,75%, Jawa 7,88%, Bali dan Nusa Tenggara 3,70%.

KETIGA, menarik memang bahwa sepertinya ada “kajaiban”.Hukum pasar meskipun bumi sedang digoyang pandemi covid 19 ,masih mampu bekerja dengan baik. Pertumbuhan di sisi pengeluaran menjadi berkah bagi pertumbuhan di sisi penawaran. Hal ini telah menimbulkan sentimen positif bahwa berbagai bidang lapangan usaha juga tidak ada lagi yang mengalami kontraksi. Secara year on year. Sektor pertanian tumbuh 0,38%.Yang luar biasa adalah sektor pertambangan dan penggalian mampu tumbuh 5,22%, industri pengolahan tumbuh 6,58% Sementara itu, sektor konstruksi tumbuh 4,42%, perdagangan dan koperasi 9,44%, serta sektor jasa lainnya tumbuh 10,37%.

KEEMPAT, fenomena ini telah membuat penulis tergoda oleh idiologi Alan Greenspan ( mantan gubernur the Fed, AS) yang mengatakan bahwa pasar paling tahu apa yang terbaik, dan pemerintah akan melakukan tugasnya dengan baik apabila selalu memberikan jalan. Boleh jadi karena pengaruh idiologi Alan Greenspan tersebut, Indonesia atau sejumlah negara di dunia sudah bisa keluar dari jebakan krisis selama masa pandemi covid 19 melanda negeri ini yang sudah mendekati 2 tahun. Artinya, walaupun ada PPKM darurat-level 4 ekonomi pasar masih mampu berkelit “melawan” berbagai tindakan pembatasan.Kata orang bijak, kan yang dibatasi pergerakannya hanya orang, barang dan jasa tetap dapat bergerak bebas kemana saja sesuai hukum pasar. Sistem logistik dan angkutan barang via darat/laut/udara tetap bekerja sesuai hukum pasar, sehingga pergerakan inflasi relatif terjaga. Sebab kalau inflasinya tinggi berarti pergerakan barang dan jasa pasti mengalami gangguan.

KELIMA, hal yang kita catat ini adalah data dan informasi yang bersifat makro. Kondisi riilnya di  lapangan secara mikro (at company level) tidak ada salahnya jika informasinya bisa digali lebih dalam. Ini penting karena di lapangan ternyata bahwa selama masa pandemi covid 19 hampir semua sektor ekonomi mengalami gangguan untuk menjalankan aktivitas ekonomi sehingga muncul kesulitan cash flow,  kapasitas produksi barang tidak  optimal karena mengalami tekanan berat untuk tumbuh, serta faktor lain yang berpengaruh. Sebagai contoh, posisi juni 2021,utilisasi industri pengolahan non migas rata-rata 63%.  Utilisasi paling tinggi adalah pada industri pakaian jadi 94,6%, kulit, dan barang dari kulit, alas kaki 82,2%, logam dasar 77,5%, bahan kimia,  barang dari bahan kimia 72%.dan industri farmasi, obat kimia dan obat tradisional 60% ( sumber data IOMKI ). Efek pertumbuhan ekonomi triwulan-2, nampaknya belum memberi pengaruh terhadap optimalisasi kapasitas produksi, tapi paling tidak telah memberi ruang pemulihan dibandingkan pada kondisi sebelumnya. Di ruang publik juga masih rame dimunculkan isu PHK. Pasar, mal, rumah makan, hotel masih sepi pengunjung. Hal ini terjadi karena pergerakan orang dibatasi.Lepas dari itu, maka perkembangan data makro sebaiknya dapat ditelusuri perkembangan data  mikronya juga  sehingga kita bisa tahu apakah efek pertumbuhan spektakuler tersebut  menimbulkan dampak positif terhadap pertumbuhan portofolio bisnis yang juga menggembirakan karena data makro per lapangan usaha,per sisi pengeluaran, dan per koridor ekonomi, secara spektakuler tumbuh mengesankan. Penggerak ekonomi itu adalah dunia usaha ( swasta, BUMN/BUMD, Koperasi dan UKM. Produksi barang dan jasa yang secara makro direkam sebagai PDB adalah output mereka pada periode tertentu.

KEENAM, ayolah kita tidak perlu terjebak pada perdebatan tentang angka pertumbuhan yang 7,07%.Penulis ingin melihat fakta yang lebih riil bahwa ketika kita bicara capaian tahun 2021,maka mestinya angka capaian pada triwulan -I dan II atau semester-1 tahun 2021 yang akan kita baca untuk dianalisis. BPS mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi secara faktual pada periode tersebut adalah 3,31% (q to q) , dan 3,10%% (q to q). Angka ini adalah capaian yang sesungguhnya. Bagaimana untuk triwulan III dan IV adalah tergantung sikon dan bagimana segenap pemangku kepentingan kebijakan dan pemangku kepentingan bisnis bekerja. Kita bekerja setiap tahun dipandu oleh RKP (pemerintah ) dan RKAP ( perusahaan) . Sasaran dan targetnya sudah ditetapkan. Kita kejar sisa waktu yang ada yaitu triwulan III dan IV. agar target pertumbuhan ekonomi tahun 202I dapat tercapai, yakni pada kisaran 3,7% – 4,5% ( angka yg telah dikoreksi). Kita syukuri capaian yang telah diraih dengan susah payah. Dan kita kejar bersama capaian hingga akhir tahun 2021.Kurva W ada di depan kita. Tugas bersama adalah merawat harapan dan kohesivitas. Bersama kita bisa. Alhamdulillah ada momen baik untuk tumbuh, dan bismillah untuk bekerja lebih baik memasuki episode ke3 dan ke4 tahun ini. Aamiin YRA , (penulis pengamat industri dan ekonomi tinggal di Jakarta)

Berita Terkait

Komentar

Komentar