Pertumbuhan Ekonomi, Bukan Tujuan dari Pembangunan Ekonomi

Pertumbuhan Ekonomi, Bukan Tujuan dari Pembangunan Ekonomi

Oleh: Fauzi Aziz

KITA tidak boleh terjebak oleh kerangka kerja pragmatis yang mendorong kita menjadi bekerja secara pragmatis dalam pembangunan ekonomi. Sifat pragmatis muncul secara kasat mata ketika berbicara tentang ekonomi.

Saat itu pikiran kita langsung tertuju pada isu pertumbuhan ekonomi. Penangkapan ini tidak salah, tapi tidak tepat. Perkeliruan persepsi ini yang kemudian membuat kita tergiring pada fenomena seakan pertumbuhan ekonomi adalah tujuan dari pembangunan ekonomi.

Padahal sejatinya ia hanya salah satu bagian dari indikator kinerja ekonomi saja. Mari kita telusuri adakah negara di dunia dalam melaksanakan pembangunan ekonominya, menempatkan posisi pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan ? Tidak ada.

Mengapa kita terseret ke isu pertumbuhan ekonomi sebagai sesuatu yang penting. Hal ini terjadi karena kita terjebak oleh fenomena global, dimana kita distigma oleh suatu keadaan yang “menakutkan” seakan dunia akan runtuh, ketika pertumbuhan ekonomi kawasan dan global melambat.

Padahal kalau baca kembali tentang konsep pembangunan ekonomi suatu negara,yang dibahas adalah soal paradigma pembangunan ekonomi. Seperti kita di Indonesia, dalam RPJPN 2005-2025,tema utama pembangunan ekonomi nasional adalah perekonomian dikembangkan dengan memperkuat perekonomian domestik, serta berorientasi dan berdaya saing global.

Untuk itu, dilakukan transformasi bertahap dari perekonomian berbasis keunggulan komparatif menjadi perekonomian berbasis keunggulan kompetitif. Pada kasus China, secara sederhana kita dapat catat, pembangunan ekonomi negaranya dibangun untuk melakukan march to modernity dan berhasil menjadi negara peradaban. John & Doris Naisbitt dalam bukunya China’s Megatrends mengatakan yang membuat China menjadi dahsyat dan muncul sebagai kekuatan ekonomi dunia karena 8 pilarnya.

Salah satunya “emansipasi pikiran”. Salah duanya bisa kita sebutkan “bergabung dengan dunia”. Kedelapan pilarnya dinyatakan sebagai fondasi masyarakat China baru yang akan dikembangkan.

Dari dua contoh paradigma pembangunan tersebut jelas bahwa misi utama pembangunan ekonomi adalah membangun fondasi yang kokoh dan kuat dan mampu tampil di panggung dunia sebagai bangsa yang unggul.

Di dalamnya tersurat hendak membangun kemandirian dan ketahanan bangsa secara berkelanjutan dan mampu mengelola kelembagaan ekonomi yang menerapkan praktek kepemerintahan yang baik, serta mengelola sumber daya alam secara berkelanjutan.

Manakala kini kita “terjebak” dalam fenomena ekonomi pragmatis, kita berada dalam sekat ekonomi yang tidak tepat, yakni isu pertumbuhan ekonomi. Padahal kita tahu pertumbuhan ekonomi bukanlah tujuan dari pembangunan ekonomi. Namun ia muncul sebagai salah satu sosok outcome economy dari sebuah proses pembangunan ekonomi suatu bangsa.

Dalam konteks negara, yang menjadi tujuan adalah membangun kemakmuran bangsa dan dalam konteks perusahaan, biasa disebut sebagai membangun portofolio perusahaan, bukan membangun profit perusahaan.

Oleh sebab itu, pembangunan ekonomi pada dasarnya sangat komplek dan multi dimensi. Dengan demikian jika kita hanya berfokus pada masalah pertumbuhan ekonomi, kita hanya membahas satu aspek saja dari keseluruhan isu ekonomi.

Dan hukum ekonomi menjawabnya sendiri bahwa pertumbuhan ekonomi sebagai indikator kinerja bisa naik-turun akibat pengaruh siklus ekonomi. Pada kondisi pertumbuhan ekonomi naik-turun,pemerintah mempunyai “hak jawab” untuk meresponnya dengan memberikan stimulus ekonomi agar kegiatan ekonomi kembali normal bekerja seperti biasanya.
*
Akuntabilitas pemerintah yang paling utama bukanlah angka pertumbuhan ekonomi yang dicapai, tapi yang lebih tepat ditanggung- gugat adalah apakah pemerintah telah melaksanakan progam pembangunan dengan efektif sesuai rencana sehingga pembangunan ekonomi mampu menciptakan kemandirian dan ketahanan bangsa.

Pertumbuhan ekonomi yang berada di wilayah outcome ini ketika melambat pasti disebabkan beberapa kegiatan ekonomi yang mengalami kelesuan. Dan volatilitas ini terjadi karena pengaruh faktor eksternal maupun internal pada saat yang sama.

Kita percaya bahwa semua negara di dunia mendambakan ekonomi global akan kembali bekerja secara normal. Pertumbuhan ekonomi meskipun hanya sebagai indikator tetap penting diperhatikan.

Dari berbagai penjelasan tadi, kita akhirnya dapat menemukan jawaban bahwa pertumbuhan ekonomi global mengalami pelambatan hanyalah sebuah akibat dari berbagai masalah ekonomi mengganggu sistem ekonomi global bekerja.

Bicara soal korupsi, ini semua kalau dihitung dalam mata uang, jumlahnya sudah sebesar “gunung uhud”. Jadi ekonomi terperangkap oleh fenomena ekonomi sendiri yang “gagal” kelola dan dampaknya merambah merusak alam akibat sistem politik yang korup, sehingga biaya untuk menumbuhkan kembali kegiatan ekonomi bebannya terlalu besar. Soal korupsi, pelakunya yang terbukti bersalah harus dihukum seberat-beratnya.

Menjadi jelas bahwa pertumbuhan ekonomi tetap penting meskipun bukan menjadi tujuan pembangunan ekonomi suatu bangsa. Dalam hubungan ini, hal yang paling penting dilakukan dalam memecahkan masalah ekonomi adalah membenahi carut marut yang terjadi disisi proses karena disinilah berbagai dilema dan trade off ekonomi berlangsung. (penulis adalah pemerhati masalah sosial, ekonomi dan industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar