Perut

Oleh: Edi Siswojo

Ilustrasi

Ilustrasi

UNGKAPAN lama stomach cannot wait masih berlaku. Urusan perut tidak bisa ditunda. Saking pentingnya acara penting bisa berhenti gara-gara perut lapar. Ada kawan saya yang menempatkan urusan perut di atas segala-galanya. Apa saja dimakan, tidak peduli yang direbus, digoreng, dikukus atau yang baru dipetik dari pohonya.

Memang, di dunia ini ada orang yang berpandangan “hidup untuk makan”. Makan sama kuatnya dengan ideologi. Apapun yang dilakukan atas dorongan perutnya. Tapi, ada juga orang yang menggunakan akal–pikiran–sehatnya berpandangan “makan untuk hidup”.

Ada juga rumus tua yang mengingatkan “sumber keburukan itu terdapat pada makanan”. Maksudnya, bila yang dimakan–masuk ke dalam perut–barang yang haram akan mendorong perbuatan yang haram. Jika yang masuk ke dalam perut barang yang halal berpengaruh berbuat yang halal pula.

Bisa jadi pertemuan pandangan yang bersumber dari stomach cannot wait itu yang mendorong pergolakan di Papua sekarang ini. Buruh PT Freeport Indonesia yang mengaduk-aduk isi perut bumi cendrawasih mogok kerja menuntut kenaikan upah dari 1.50 dolar AS atau setara Rp 13.270 per jam menjadi 7.50 dolar AS atau setara Rp 66.340 per jam. Di sana juga terjadi pembakaran, penembakan sampai kongres rakyat Papua.

Sebenarnya, konstitusi negara Indonesia–UUD 1945–telah mengatur pemanfaatan isi perut bumi ibu pertiwi. Ditegaskan, kekayaan yang terkandung di dalam tanah, air dan udara dikuasai negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Nah, di sini duduk perkaranya. Kita semua lupa pesan konstitusi yang di dalam pembukaanya menyatakan penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Tapi, pemerintah melalui kontrak karya dengan Freeport telah “memperkosa” kekayaan alam di tanah Papua. Penguasaan model seperti itu yang dikatakan Bung Karno sebagai imperialisme modern.

Ideologi Pancasila sebagai dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) secara tegas anti imperialisme dan kolonialisme. Namun, perkembangan dunia telah melahirkan interdependensi antar bangsa di muka planet bumi ini. Imperialisme tak lagi bergerak dengan baju lama, berganti baju baru yang di Indonesia namanya kontrak karya.

Perjanjian kerja sama eksploitasi kekayaan alam itu tidak hanya terjadi di bumi cendrawasih juga wilayah lain di Indonesia. Memang stomach cannot wait, tapi akal, pikiran juga hati yang sehat juga perlu digunakan. Hidup bukan untuk makan tapi makan untuk hidup!***

Berita Terkait

Komentar

Komentar