Pesta Telah Usai

Oleh: Edi Siswoyo

ilustrasi

PANGGUNG drama politik pesta demokrasi pemilihan umum presiden dan wakil presiden (pilpres) 2014 telah usai. Puncaknya, Kamis malam pekan lalu setelah Mahkamah Konsitusi (MK) memutusan menolak seluruh gugatan yang diajukan pasangan capres dan cawapres Prabowo-Hata Rajasa. Pasangan nomor urut satu itu menggugat perselisihan hasil pilpres ke MK karena menuduh ada kecurangan dalam proses pelaksanaan pemungutan suara 9 Juli 2014.

Sebagai lembaga yang diberi mandat oleh konstitusi untuk menyelesaikan sengketa pemilu–pilpres–MK telah menjatuhkan putusan yang bersifat mengikat dan final. Dalam keputusan hukumnya yang dibacakan secara terbuka 21 Agustus 2014, MK tidak mengubah ketetapan Komisi Pemilihan Umumu (KPU) mengenai hasil pemungutan suara 9 Juli 2014 yang memenangkan pasangan nomor urut dua Joko Widodo-Jusuf Kalla dengan memperolehan 53,15 persen suara dan pasangan nomor urut satu Prabowo-Hata Rajasa meraih 46,53 persen suara.

Terlepas dari kualitas gugatan pasangan Prabowo – Hata Rajasa, putusan yang dijatuhkan MK telah memberikan pelajaran penting dan bermakna bagi upaya penguatan proses pelaksanaan pesta demokrasi di masa mendatang. Banyak yang berharap setelah keputusan MK tersebut pandangan kita arahkan ke depan dengan mengakhiri segala perbedaan pendapat dan kontroversi proses pelaksanaan dan hasil pilpres 2014.

Ada tantangan yang menghadang di depan kita–dalam waktu dekat–bagaimana menggalang kembali kebersamaan dan kekompakan kita sebagai satu bangsa yang sempat terpolariusasi dalam pilpres 2014. Pemerintah baru diharapkan dapat segera memulihkan kekompakan dan kebersamaan di masyarakat yang sempat merenggang. Kekompakkan dan kebersamaan sangat dibutuhkan untuk membereskan berbagai persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia.

Deretan angka kemiskinan masih tinggi dan kesenjangan sosial ekonomi semakin melebar. Tentu, penyelesaian persoalan itu akan bertambah berat karena mengganasnya korupsi yang merebak di mana-mana. Meski demikian, penyelesaian berbagai persoalan bangsa harus bergerak maju, tidak hanya berjalan di tempat. Kita membutuhkan tata kelola pemerintahan yang baik, bersih dan efektif melalui rekruitmen anggota kabinet yang profesional, kredibel dan memiliki integritas.

Pesta demokrasi telah mencapai klimaknya. Kini, waktunya bagi seluruh kekuatan bangsa untuk kembali menjadi satu dalam gerak dan upaya bersama mempercepat pembangunan agar Indonbesia semakin mandiri, kuat dan tidak kalah bersaing dengan kemajuan bangsa lain. Semoga! ***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar