Piala Dunia dan Bisnis

Oleh: Enderson Tambunan

ilustrasi

DEMAM bola sejagat akhirnya berakhir dengan tampilnya tim nasional Jerman sebagai juara. Trofi itu, yang sudah untuk ke-15 kalinya diperebutkan, diboyong oleh tim Jerman ke negaranya dan empat tahun kemudian akan diperebutkan lagi. Selama sebulan, sejak 12 Juni 2014, penduduk dunia bagaikan “disihir” oleh permainan sepakbola, yang ditampilkan di 12 kota di Brasil.

Maka mata pun tertuju ke Brasil, negara yang sudah lama dikenal sebagai negara bola. Tiga puluh dua tim nasional dari lima zona, yakni, Eropa, Concacaf, Amerika Selatan, Asia, dan Afrika, bekerja keras, mengerahkan segala keterampilan perorangan dan kekuatan tim, untuk satu tujuan, menang, mulai dari babak penyisihan hingga final. Penggemar bola pun antusias mengikuti permainan sejagat itu dengan harapan, dapat menikmati permainan indah, operan bola panjang dan pendek bagaikan tarian, dan terciptanya gol-gol indah.

Setiap Piala Dunia selalu memunculkan kejutan dan pemain hebat yang kemudian disanjung-sanjung. Nama besar, baik dari pemain, pelatih, wasit, dan bahkan penyelenggara atau tuan rumah, muncul setiap kali pertandingan bola sejagat itu digelar. Piala Dunia menyemburkan kemasyhuran yang tidak mudah dilupakan.

Federation of International Football Association atau FIFA sebagai penyelenggara Piala Dunia terus berupaya meningkatkan kualitas pertandingan empat tahun sekali itu. Kemajuan teknologi pun diikutsertakan untuk menghilangkan keraguan publik, umpamanya, mengenai offside atau tidak. Kini, dipakai pula goal-line technology untuk memastikan bola yang terpantul dari mistar atas gawang ke baris bawah termask gol atau tidak. Bahkan, bola yang disepak-sepak itu terus disempurnakan. Kabarnya, bola yang dipakai pada PIala Dunia 2014 didesain dan diuji coba sekitar 2,5 tahun.

Piala Dunia menjadi bisnis menggiurkan bagi banyak pihak. Berbagai jenis cenderamata, yang berhiaskan logo, maskot, dan aksesori Piala Dunia, serta gambar pemain, bendera, dan jersey, sudah dipasarkan di seantero dunia jauh sebelum pertandingan dimulai. Jersey masing-masing tim ditiru lalu diperbanyak dan kemudian dipasarkan.

Setiap tuan rumah menyiapkan prasarana dan sarana yang terbaik, karena Piala Dunia juga sebagai kesempatan terbaik mempromosikan pariwisata. Kabarnya, Brasil mengeluarkan biaya sekitar Rp 23i triliun untuk Piala Dunia 2014. Negara itu pun, antara lain, mempromosikan Rio de Janeiro sebagai tempat menyaksikan sunset. Tuan rumah Piala 2018, Rusia, dan Qatar 2022, sudah jauh-jauh hari membuat persiapan.

Kita pun yakin, acara nonton bareng atau lebih dikenal dengan nobar menghasilkan keuntungan yang tidak sedikit bagi penyelenggaranya. Belakangan ini, acara nobar makin ramai. Buktinya, di kota-kota besar banyak pihak yang menyediakan tempat untuk nobar. Bahkan, acara nobar sudah diiklankan.

Maka, tidak heran jika berbagai negara berupaya keras agar tim nasionalnya dapat tampil di Piala Dunia. Persiapan matang, lewat pendidikan, pelatihan, serta berulang kali uji tandang, dilakukan. Organisasi persepakbolaan kita pun termasuk aktif menyiapkan skuad unggulan agar dapat unjuk kemampuan di pertandingan internasional, baik tingkat Asia maupun dunia.

Sudah pasti kita berharap tim nasional Indonesia pada saatnya nanti mampu tampil di PIala Dunia. Acara nobar sekali dalam empat tahun akan lebih asyik melihat tim Garuda menjadi salah satu peserta. Kita dukung pemangku kepentingan untuk menyiapkan tim nasional yang tangguh. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar