Pilar Utama

Ilustrasi

Sepertinya negeri kita tercinta ini sedang berada pada tahap cobaan yang datang silih berganti. Dan hampir dari semua sisi kehidupan, bangsa ini didera dan didera. Sebutan kondusif sepertinya belum layak disematkan kepada bangsa dan negara ini, bak api dalam sekam. Dimana-mana timbul perseteruan baik itu antar masyarakat, antar mahasiswa dan antar para anggota legislatif, hampir setiap pagi dapat kita saksikan lewat tayangan stasiun televisi.

Juga tidak ketinggalan antar tokoh lintas agama dengan pihak eksekutif yang sedang memimpin negeri saat ini, tampak ‘’memanas’’. Tokoh-tokoh lintas agama menuduh kelompok eksekutif sering menebarkan berita bohong kepada khalayak ramai, namun eksekutif segera pula menampik tuduhan itu bahkan tokoh lintas agama dikatakan sudah bermain politik.

Dari sisi penegakan keadilan juga terlihat semakin tidak jelas. Kasus mereka-mereka yang ditangkap dan ditahan karena dituduh terlibat kasus korupsi dan manipulasi, kelihatanannya sulit untuk dituntaskan.

Masyarakat awam menjadi bingung sebab jika ada pihak yang dituduh terima suap, seharusnya yang menyuap juga harus diperiksa paling tidak jadi saksi kalau penegak hukum enggan menjadikannya jadi tersangka.

Tapi yang terlihat saat ini, penanganan kasus demi kasus yang masuk kategori tipikor (tindak pidana korupsi) terkesan berbelit-belit. Tampaknya susah sekali menjadikan kasus itu terang benderang seperti yang diinginkan Presiden SBY. Malah sebaliknya, semakin gelap gulita.

Keberadaan para pengamat dan pemikir juga hanya berputar-putar sekitar debat. Ibarat gangsing yang awalnya berputar cepat, makin malam makin melambat dan akhirnya berhenti tanpa jelas tujuannya.

Dari sisi ekonomi, ketika pemerintah mengumumkan terjadi pertumbuhan ekonomi, seketika itu kita saksikan di layar televisi sejumlah masyarakat miskin meninggal karena tidak makan. Demikian juga pertumbuhan sektor industri yang dilaporkan meningkat secara signifikan karena berhasil melewati target, seketika itu juga harga bahan-bahan pokok melambung tinggi dan angka pengangguran juga membengkak.

Untuk mengatasi semuanya ini tampaknya leadership harus bertabiat seperti nabi dan rasul dan memegang teguh keimanan dan bukan sekedar mengakui adanya Tuhan, tetapi jauh daripada itu yaitu paham tentang hakekat hidup sesuai ajaran agama yang dianut. Hasilnya, berdasakan leadership tersebut akan melahirkan kepercayaan dan recognize yang selalu dihormati oleh semua pihak yang dipimpin.

Di sisi lain pendidikan harus menjadi pilar utama baik spritual maupun materail agar insan pendidikan memahami maksa sebuah hakekat. Hakekat berbicara dari qalbunya, faham dan mengerti tentang yang tersurat dan tersirat. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar