Pisau itu Tajam ke Bawah

Bukan rahasia umum lagi kalau hukum di negeri tercinta Indonesia ini, kemampuannya menegakkan keadilan ibarat pisau yang tajamnya hanya ke bawah sementara ke atas teramat tumpul. Yah, memang ibarat pisau. Mana ada pisau yang tajam ke bawah dan ke atas, sebab jika tajam ke atas, pisaunya bisa-bisa akan mencedarai pemegang pisau itu sendiri.

Lihatlah sendiri. Jika tersangkanya warga negara yang derajatnya, baik status maupun tingkat sosial dan tingkat ekonominya berada di papan paling bawah, sebutlah misalnya pencuri pisang, semangka dan sejumlah buah kapuk, sanksi hukumnya sangat tegas. Hukumannya sangat jelas dan penangannya tidak bertele-tele. Bahkan sesuai pengamatan di lapangan, terdakwa yang berasal dari papan bawah itu, diberlakukan benar-benar penjahat dan kadang-kadang mendapat perlakukan di luar kewajaran.

Tapi coba lagi lihat tuh mereka yang berasal dari papan atas alias jetset. Sekalipun sudah dijadikan tersangka atau terdakwa, kehidupan sehari-hari mereka bak orang bebas, bisa plesiran ke beberapa negara, bisa merombak kamar tahannya menjadi ruangan hotel berbintang.

Bahkan yang aneh lagi, Jefferson Rumajar, terdakwa korupsi yang sedang mendekam di balik terali besi penjara Cipinang, Jakarta, dilantik sebagai Walikota Tomohon, Sulawesi Utara. Tidak hanya itu, Jefferson bisa melantik sejumlah pejabat Kota Tomohon di dalam LP Cipinang. Sudah barang tentu, acara pelantikan pejabat Kota Tomohon difasilitasi pemerintah.

Aneh tapi nyata. Wali Kota Tomohon Jefferson Rumajar dilantik saat mendekam dalam tahanan dan Jefferson selaku Wali Kota Tomohon melantik sejumlah pejabatnya di dalam sel tahanan Cipinang.Tapi yang lebih aneh lagi, para pejabat Kota Tomohon itu koq mau dilantik di dalam penjara. Ironi memang. Tapi tampaknya demi sebuah jabatan, apapun dipertaruhkan.

Itu baru ulah Jefferson. Bagaimana dengan Gayus Tambunan. Tokoh kunci kasus mafia hukum dan manipulasi pajak ini, begitu bebasnya keluar masuk tahanan, plesiran lagi ke luar negeri. Tahanan yang mendekam di sel Polsek atau Cipinang serta Salemba saja, tidak mungkin lagi bisa bebas keluar masuk sel. Jangankan ke luar negeri, ke serambi sel saja sudah diawasi.

Akan tetapi, Gayus yang ditahan di Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok yang terkenal ketat dan seram itu, ternyata menjadi lebih bebas. Pertama pergi ke Bali menonton pertandingan tenis kelas dunia. Heboh dulu gara-gara itu. Eh, nongol lagi berita Gayus plesiran ke beberapa negara.

Akibat plesiran itu, perhatian masyarakat kini beralih dari kasus manipulasi pajak ke proses plesiran. Padahal yang perlu ditanyakan adalah siapa orang yang membuka gembok sel tempat Gayus mendekam dan siapa orang yang memerintahkan membuka gembok tersebut.

Namun yang pasti, sebelum pertanyaan itu terjawab secara jujur, apa yang dialami Gayus adalah potret dari sebuah negeri yang pengelolanya bisa dipermain-mainkan semau gue dan bisa dibeli dengan dolar. Anehnya lagi, panglima tertinggi negeri ini tampaknya tidak peduli. Memang Gayus, de jure status terdakwa tapi de facto dialah yang mengatur negeri ini.***

Berita Terkait

Komentar

Komentar