Plastik Bekas Bukan Sampah, Melainkan Bahan Baku Industri

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Direktur PT Agropoly , Arman Chandra mengatakan jika pemerintah benar-benar menghentikan impor plastik bekas, industri hilir pengolah produk-produk berbahan baku plastik, akan gulung tikar, alias tutup.

‘’Pasalnya, jika hanya mengharapkan bahan baku industri hilir itu dari dalam negeri, jelas tidak cukup, sebab pengadaan bahan baku dari dalam negeri hanya 60 persen dari total kebutuhan nasional dan sisanya harus didatangkan dari luar negeri.,’’ kata Arman kepada wartawan kemarin di Jakarta.

PT Agropoly  adalah pengumpul plastik bekas dari pemulung untuk kemudian diproses menjadi polybac, wadah tanam-tanaman. Namun karena jumlah plastik bekas dari pemulung itu tidak mencukupi kebuhuhan industrinya, Arman terpaksa harus mengimpor plastik bekas.

‘’Terus terang, seandainya pemulung plastik bisa memenuhi seluruh kebutuhan nasional, kami pasti menghentikan impor plastik bekas walau sebenarnya plastik bekas impor itu lebih menguntungkan bagi produsen karena sudah siap pakai,’’ katanya.

Utamakan Lokal

Namun demikian, lanjutnya, demi mensejahterakan masyarakat pemulung, pihaknya selalu mengutamakan plastik bekas yang dikumpulkan pemulung, baru kemudian memberi plastik bekas dari luar negeri, hanya untuk memenuhi kebutuhan industri.

Kesulitan yang akan dihadapi industri hilir pengguna bahan baku plastik, kata Arman lagi, akan semakin memuncak manakala pemerintah mengkampanyekan untuk menghentikan penggunaan kantong plastik dan mengkonsumsi makanan minuman yang berplastik.

Jika impor plastik bekas dihentikan, kemudian di dalam negeri ada kampanye mengurangi penggunaan kantong dan kemasan plastik, maka pasokan bahan baku plastik ke industri hilir yang memproduksi ember, panci, mangkok dan talang yang terbuat dari plastik, akan terhenti.

‘’Kalau itu yang terjadi, dapat dipastikan industri pemroduksi bahan-bahan plastik akan gulung tikar alias tutup,’’ kata Arman.

Arman mengharapkan agar pemerintah tidak mempersulit izin impor plastik bekas. Pasalnya plastik bekas itu sejatinya bukan sampah, melainkan bahan baku industri produk-produk olahan berbahan baku plastik.

Sebagai informasi, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Siti Nurbaya Bakar pernah mengatakan bahwa Indonesia tidak boleh menjadi tempat sampah bagi negara maju. Hal ini diungkapkannya menyusul meningkatnya impor sampah dan limbah dari negara maju.

Siti mengatakan, sampah-sampah impor yang masuk terdiri atas banyak jenis. Dia mengatakan seringkali sampah dan limbah tersebut diselundupkan dalam impor scrap plastik dan kertas.

“Bukan kita tidak mau impor scrap plastik atau scrap kertas. Persoalannya adalah scrap plastik dan kertas ini ditumpangi oleh sampah dan limbah. Macam-macam sampahnya. Ada bekas infus, ada bekas pampers, ada bekas ampul suntik obat, hingga aki bekas dan lain-lain,” ungkapnya.(sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar