PLTM Aek Silang Butuh Penghijaun Hutan

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

MENUNJUK - Koordinator Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hibrida (PLTM) Aek Silang, Humbahas, M Simatupang (kiri) bersama Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian (IPAMP) Ditjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT), Teddy C Sianturi sama-sama menunjuk data pada papan pengumuman. –tubas/sabar hutasoit

DOLOKSANGGUL, (TubasMedia.Com) – Gerakan penghijau harus terus ditingkatkan agar pasokan listrik di Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) tidak mengalami gangguan. Guna mendukung gerakan ini, kepada masyarakat perlu juga digalakkan sosialisasi, biar mereka jangan sembarangan menebang pohon, bahkan hutan harus dilestarikan.

Demikian Koordinator Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hibrida (PLTM) Aek Silang, Humbahas, M Simatupang, kepada tubasmedia.com saat berkunjung bersama Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian (IPAMP) Ditjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi (IUBTT), Teddy C Sianturi didampingi Kepala Kantor Pertambangan dan Energi Humbahas, Minrod Sigalingging ke lokasi PLTM di Aek Silang, Doloksanggul, Humbahas pekan silam.

Simatupang menjelaskan, realisasi kinerja PLTM Aek Silang selama ini selalu menggembirakan, kendati pernah terjadi gagal mencapai target. Tahun 2011 misalnya, dari target 5.760.000 kwh, yang tercapai hanya 5.590.063 kwh atau minus 169.937 kwh. Penyebabnya, akibat gangguan alam seperti petir, jaringan rusak dan kemarau panjang yang terjadi pada bulan-bulan tertentu.

‘’Nah, untuk mengantisipasi kemarau dimaksud, dipandang perlu digalakkan penghijauan, agar seluruh anggota masyarakat terlibat melestarikan hutan’’ katanya.

PLTM Aek Silang dibangun 20 tahun silam dan diresmikan Akbar Tanjung (saat itu sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga) 8 September 1991 untuk melayani listrik di 5 lokasi, 4 kecamatan dan dua kabupaten meliputi 36 desa. Saat itu kebutuhan listrik di 36 desa sangat terpenuhi, n amun kini kebutuhan telah meningkat.

Untuk itu dirasa perlu peningkatan kwh menyusul meningkatnya kebutuhan masyarakat. ‘’Sebaiknya PLN dapat meningkatkan produksi pembangkit listrik dengan mengoptimalkan potensi yang ada,’’ kata Minrod Sigalingging.

Atau paling tidak lanjutnya, PLN mendorong pihak swasta untuk berinvesatsi dalam hal pembangunan PLTN karena pembangkit listrik seperti itu bersifat non emini yang ramah lingkungan.

Sementara itu, Teddy Sianturi menyatakan kapasitas pembangkit listrik di daerah tersebut masih sangat mungkin ditingkatkan. Pertanyaan sekarang, PLN mau tidak menambah kapasitasnye. Kalau PLN mau sumber pembangkitnya sangat bisa dilayani oleh PLTM Silang,’’ katanya.

Namun ketika berada di PLTM Silang II, Teddy menyatakan kekecewaannya sebab turbin yang digunakan proyek yang dibangun dengan biaya sekitar Rp 600 miliar itu, adalah turbin impor. ‘’Kenapa harus gunakan turbin impor, turbin yang kita produksi juga tidak kalah mutunya,’’ kata Teddy.

Teddy juga mengimbau pengelola PT Toba Pulp Lestari (TPL) kalau menanam pohon eukaliptus jangan terlalu dekat dengan sumber mata air karena kalau pohon ditebang, atau daun-daunnya rontok akan mengganggu jaringan air. (sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar