Prabowo Jadi Menhan? Pengamat: Berbahaya, Punya Agenda Terselubung….

JAKARTA, (tubasmedia.com) – ┬áPengamat pertahanan dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Muhammad Haripin mengingatkan pada visi-misi Prabowo soal pertahanan yang pernah diungkapkan dalam dua kali debat calon presiden pada 2014 dan 2019.

“Ketika dia kampanye pada 2014, dia bilang Indonesia akan menjadi macan Asia,” kata Haripin seperti dilansir detik.com.

Saat debat keempat Pilpres 2019, Prabowo menyatakan kondisi pertahanan Indonesia lemah. “Jauh dari yang diharapkan karena kita tidak punya uang,” ujar Prabowo saat itu. Dia pun mengutip sebuah adagium ‘yang kuat akan berbuat sekehendaknya, yang lemah akan menderita’.

Peribahasa ini juga disebut Prabowo saat berpidato dengan tajuk ‘Indonesia Menang’ tiga bulan sebelum debat pilpres. Ketika itu, Prabowo menyebut jangan lupakan rumus terkenal dari Thucydides, ahli sejarah dari Yunani kuno yang hidup kurang-lebih 50 tahun sebelum Masehi, “The strong will do what they can, the weak suffer what they must.”

Untuk mengatasi pertahanan yang disebutnya lemah, Prabowo mengemukakan strategi peningkatan anggaran pertahanan dengan menghentikan kebocoran anggaran. Prabowo juga mengaitkan kekuatan militer saat sesi terkait hubungan internasional. Menurutnya, diplomasi tidak akan berarti jika tak didukung kemampuan militer mumpuni.

Haripin menyatakan seandainya pernyataan-pernyataan Prabowo tersebut, terutama saat mengutip adagium Thucydides bisa dijadikan sebagai patokan bagaimana nantinya kebijakan pertahanan, maka Indonesia akan jadi negara militeristik.

“Bisa diprediksi Indonesia jadi negara militeristik,” kata doktor lulusan Ritsumeikan University, Kyoto, Jepang, itu.

Hal ini, menurut Haripin, mengkhawatirkan, apalagi jika Prabowo menggunakan posisinya itu untuk menguatkan militer bukan demi kepentingan menjaga negara dari ancaman luar. Namun penguatan itu justru untuk kepentingan keamanan internal yang seharusnya merupakan domain kepolisian.

“Ini kan sangat berbahaya bagi kita jika hasil latihan, alat utama sistem persenjataan dan organisasi militer dititikberatkan untuk mencapai keamanan dan ketertiban masyarakat. Militer bisa bertindak eksesif dan melakukan kekerasan terhadap warga biasa yang non-kombatan,” ujar Haripin.

Karena itu, menurut Haripin, diperlukan kontrol yang kuat. Dalam sebuah negara demokratis, yang jadi prinsip utama pengelolaan militer dibutuhkan kontrol sipil.

“Kontrol sipil itu dipegang satu sisi DPR, yang sayangnya dalam periode sebelumnya Komisi Pertahanannya tak bekerja dengan baik, sisi lainnya harusnya Menhan. Tapi sudah dua periode Menhan selalu purnawirawan, berbeda dengan Presiden SBY.”

Haripin pun berpendapat penunjukan Prabowo merupakan bagian langkah politik Jokowi mengamankan periode kedua pemerintahannya ketimbang langkah strategis meningkatkan postur pertahanan.

“Kalau dilihat dari rekam jejak pernyataannya, Prabowo tidak punya visi dan misi serius untuk membenahi postur pertahanan,” ujarnya.

Mengherankan

Sementara itu, pengamat militer Aris Susanto menilai pengangkatan Prabowo itu lebih pada faktor politis. Meski punya latar belakang sebagai mantan Panglima Kostrad dan Danjen Kopassus, Prabowo dinilainya tak punya kualifikasi mumpuni memegang jabatan Menhan. “Menurut saya, setelah reformasi, Menhan yang punya kualifikasi hanya Juwono Sudarsono. Ryamizard Ryacudu juga tidak,” ujar Aris.

Aris mengatakan sebenarnya agak mengherankan jika Prabowo meminta ataupun menerima posisi tersebut. “Dia (Prabowo) itu capres. Secara moral dia itu presiden,” katanya.

Aris menduga Prabowo punya agenda terselubung dengan jabatan tersebut. “Mengapa dia mau hanya jadi menteri. Dia kan nggak polos, dia punya otak, punya dana. Dugaan saya, dia punya agenda sendiri.”

Dengan kekuatan karisma dan finansial yang dimiliki, Aris menyebut, Prabowo akan melakukan penggalangan lewat kementerian itu untuk kepentingan pemilu lima tahun mendatang.

“Bulan madu Prabowo dan Jokowi tidak akan lama. Saya perkirakan hanya setahun. Habis itu ribut lagi. Karena ada agenda itu,” katanya.

Sebagaimana diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memanggil Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai salah satu calon menteri yang diperkenalkan kepada publik.

Sekitar satu jam berada di dalam Istana Negara, Prabowo, yang didampingi Wakil Ketum Partai Gerindra Edhy Prabowo, menyatakan Presiden Jokowi memintanya ikut memperkuat kabinet.

Prabowo, yang selama ini jadi rival politik Jokowi, tak menyebut secara spesifik posisi apa yang ditawarkan kepadanya. “Untuk membantu beliau di bidang pertahanan,” ujar mantan Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat (Kostrad) itu, Senin (21/10/2019). Dari beberapa sumber, Prabowo disebut akan menjadi Menteri Pertahanan.(dari berbagai sumber)

Berita Terkait

Komentar

Komentar