Pragmatisme Mematikan Ide dan Kreatifitas

Oleh : Fauzi Aziz

Ilustrasi

Ilustrasi

TIDAK enak kedengarannya judul tulisan ini, tapi apa boleh buat. Kalau demikian kenyataannya, meski pun juga diyakini tidak semua ide dan kreatifitas mati karena persoalan pragmatisme. Dalam menyambut HUT Proklamasi Republik Indonesia ke-66 tanggal 17 Agustus 1945, banyak tokoh, para analis di berbagai bidang menyumbangkan berbagai buah pikirannya dengan caranya masing-masing tentang berbagai aspek kehidupan yang mendera bangsa ini.

Pandangan mereka pasti beragam dan sudut pandangnya pasti berbeda satu sama lain. Rambut sama hitam, pendapat boleh berbeda. Dari sebagian telaahan yang mereka ulas, ada titik-titik kesamaan, yang antara lain, bangsa ini tengah terperangkap pada cara berpikir pragmatis sempit dalam mengatasi berbagai masalah kehidupan berbangsa dan bernegara. Permasalahan yang dihadapi bangsa ini tidak sedikit dan bobot permasalahannya juga bervariasi dari yang sangat berat, berat dan ringan-ringan saja.

Semua permasalahan bangsa ini tentu harus bisa ditanggulangi dan diselesaikan satu per satu. Kalau tidak, nanti menggunung seperti makin menggunungnya timbunan sampah di TPA Bantar Gebang. Pragmatisme sempit dalam cara berpikir dan bertindak sangat tidak memberikan pendidikan yang baik bagi pembangunan peradaban.

Dalam lingkup yang lebih sempit, berpikir dan bertindak dengan gaya pragmatis sempit dapat menjadikan seseorang malas berkarya dengan optimal, kerangka analisisnya dangkal, bahkan bisa asal-asalan. Kecerdasan intelektual yang dimiliki seseorang, bisa tergadaikan dan tersandera oleh sikap pragmatisme sempit tadi dalam berbagai aspeknya. Idealisme dan kreatifitas sepertinya menjadi tidak diperlukan atau tanpa secara sadar pelan-pelan mati, minimal mati suri.

Kalau kita kembalikan kepada kondisi negara ini yang sedang mengalami sumbatan masalah, maka cara mengatasinya kalau dilakukan dengan pendekatan pragmatisme sempit, hasilnya tidak akan optimal untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi oleh bangsa ini. Kalau pun bisa diselesaikan, maka penyelesaian itu hanya terjadi di permukaan saja tanpa bisa menyelesaikan akar masalah yang sebenarnya.

Menjadi teringat pendapat yang dikemukakan Prof Dr Koentjoro Ningrat dalam bukunya Mentalitet Pembangunan yang di dalam tulisannya antara lain dikemukakan bahwa bangsa Indonesia memiliki mentalitet pembangunan yang tidak baik, yaitu sikap suka menerabas. Inilah barangkali sikap pragmatis sempit yang menjadi penciri cara berpikir dan bertindak sebagian elite bangsa pada dewasa ini.

Atau karena aktifitasnya dibatasi oleh ruang dan waktu bertindaknya menjadi demikian, sementara masalahnya sudah kelewat menumpuk setinggi gunung Semeru. Rasanya tidak harus demikian. Idealisme dan kreatifitas tidak boleh mati atau dimatikan dalam keadaan apa pun dan oleh siapa pun. Idealisme dan kreatifitas harus hidup dan dihidup-hidupkan di sepanjang masa, apinya tak boleh padam dan dipadamkan.

Mengatasi masalah besar yang dihadapi bangsa ini diperlukan semangat idealisme dan menjunjung tinggi nilai kreatifitas. Diperlukan karya-karya besar dan berfikir out of the box untuk memberikan kontribusi nyata untuk menjawab masalah dan tantangan yang dihadapi bangsa saat ini dan ke depannya. Jangan sampai kita kehilangan pemimpin yang mempunyai gagasan dan mau bekerja keras dengan pengabdian tulus untuk bangsa Indonesia.

Dengan alasan pragmatisme sempit, jangan pernah menjadi pemimpin atau bercita-cita menjadi pemimpin yang hanya memimpin segelintir orang di lingkungannya yang sempit. Sebelum idealisme dan kreatifitas sempat mati atau dimatikan karena alasan pragmatisme sempit tersebut, maka kesadaran kolektif kita harus bangkit, yaitu, membangun negara yang merdeka dan berdaulat dengan alasan apa pun tetap memerlukan semangat idealisme dan kreatifitas dari para elite bangsa ini dan para warga negaranya yang cerdas dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kita yang hidup di negeri ini dan mencari rezeki yang halal, harus bisa menjadi bagian inti solusi masalah yang kita hadapi bersama. Akhiri segera perdebatan konyol di negeri ini yang tidak pernah menghasilkan apa-apa, karena diskusi-diskusi tersebut pada umumnya hanya menjadi ajang berolok-olok. Maaf kalau dinyatakan demikian. Dengan semangat idealisme dan kreatifitas yang bersemi di pikiran kita, mari kita bersama-sama mendedikasikan diri menjadi bagian dari solusi sesuai bidang keahlian masing-masing.

Penulis perlu mengutip kembali pandangan Daoed Yoesoef, Menteri P&K tahun 1978-1983 (Kompas 16 Agustus 2011) yang menyatakan bahwa saatnya para intelektual diminta memberikan ide-ide yang mencerahkan bangsa ini. Lebih lanjut dikatakannya bahwa sekarang ini zaman edan karena dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat terjadi pemutarbalikan nilai-nilai.

Sesuatu yang benar disalahkan, sedangkan yang salah dibenarkan. Menghadapi zaman edan sangat perlu kreatifitas untuk menciptakan nilai-nilai. Lepas dari setuju atau tidak realitasnya memang demikian dan sekali lagi semuanya bisa terjadi karena cara berpikir dan bertindak para elite bangsa ini bersandar pada cara berpikir pragmatis sempit bahkan transaksional. Orang punya ide bagus diledek, makan itu idealisme. Keterlaluan memang kedengarannya, tapi ada kalanya realitasnya banyak kita temukan.

Oleh karena itu, jangan pernah berusaha mematikan idealisme dan kreatifitas. Kita hidup di negara demokratis. Hidup di negara yang demokratis seharusnya idealisme dan kreatifitas tumbuh dengan subur. Membangun Indonesia memerlukan idealisme dan kreatifitas. Bangkit dan jayalah idealisme edan kreatifitas. Isi kemerdekaan yang kita peroleh dengan susah payah dengan ide-ide baru dengan kreatifitas yang tinggi untuk mengatasi masalah bangsa ini. Lupakan dan kubur pragmatisme sempit dan politik transaksional yang korup. ***

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.