Presiden RI Terpilih Joko Widodo, Rumah Orangtuanya Pernah Digusur Walikota Solo

Laporan: Redaksi

ilustrasi

Joko Widodo

BUKAN rahasia umum lagi jika para pemimpin negeri ini apalagi pemimpin tertinggi, sebutlah menjadi presiden, dapat dipastikan berasal dari keluarga pejabat, sanak saudara preisden, putra atau putri, menantu petinggi atau banyak lagi asal muasal yang berdekatan dengan sebutan darah biru.

Memang tidak ada yang salah dalam kondisi ini. Siapa-pun bisa menjadi apa-pun di negeri ini. Semua warga negara memiliki hak yang sama. Sama-sama bisa dipilih dan bisa memilih, kecuali ada cacat hukum, jelas tidak dibenarkan untuk mencalonkan diri.

Namanya saja cacat hukum. Apa mungkin negeri ini dipimpin mantan ‘’penjahat’’. Jelas tidak bukan? Pasti risih rasanya..

Tapi begitulah adanya. Kembali kepada darah biru tadi. Sudah sejak Indonesia merdeka, presiden kita selalu dan selalu berasal dari keluarga yang terkenal, pejabat, kaya lagi. Belum pernah figure yang berasal dari keluarga orang miskin dan rakyat biasa. Jangankan terpilih, mencalonkan diri-pun belum pernah dengan alasan tidak akan terpilih ditambah lagi tidak ada jalur untuk masuk. Sebab biasanya jika bukan keluarga orang terkemuka, ya ketua umum partailah.

Sehingga kesannya selama ini untuk jadi presiden hanyalah ketua umum partai, anak presiden atau keluarga pejabat tinggi negara lainnya. Anggota partai-pun hamper tidak pernah maju sebagai calon presiden seolah sudah terpatri, untuk calon presiden itulah haruslah ketua umum partai, entah ketua umumnya mampu atau tidak, yang penting itu menjadi monopoli ketua umum.

Tapi kini. Kita dikagetkan sebuah peristiwa nasional bahkan mendunia. Seorang Joko Widodo dengan pangggilan akrab Jokowi terpilih menjadi presiden RI untuk periode 2014-2019 berpasangan dengan Jusuf Kalla (JK) dimana tadinya untuk menjadi angggota DPR-pun harus ada kaitannya dengan pengurus partai atau dengan orang tuanya. Lihat sekarang sejumlah angggota DPR yang ayah dan ibunya juga adalah pemimpin partai. Tapi gebrakan Jokowi ini bisa menjadi cikal bakal serta membumi hanguskan fenomena yang mengatakan harus anak pejabat tapi ternyata siapa-pun anak negeri ini asal mampu, bisa memimpin.

Hidup Berpindah

Sejak Joko bayi lahir 21 Juni 1961 di Rumah Sakit Brayat Minulyo, Joko Widodo tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah kontrakan yang berlokasi di tepi sebuah sungai di Solo. Hidup mereka sangat sederhana. Ayah Jokowi yang sehari-hari menghidupi keluarga dengan berjualan kayu terpaksa membawa istri dan anak-anaknya hidup berpindah dari satu rumah sewa menuju rumah sewa lainnya.

Bahkan dengan kondisi tersebut, keluarga Joko Widodo harus rela digusur Pemerintah Kota Solo dari tempat tinggalnya di bantaran kali Pepe dan tinggal menumpang di kediaman seorang kerabat di daerah Gondang.

Akan tetapi, pengalaman masa kecil tersebut tidak dirasakan Jokowi sebagai sebuah penderitaan. Ia berkata bahwa waktu-waktu sulit tersebut merupakan cara Tuhan yang sangat tepat untuk membangun karakter dirinya di masa depan.
Selepas berkuliah di Fakultas Kehutanan UGM, Jokowi muda sempat mencicipi pengalaman kerja pada sebuah perusahaan BUMN di Provinsi Aceh. Lokasinya yang berada di tengah hutan, kondisi kerja yang keras dan rencana untuk mempunyai buah hati menuntun Jokowi dan istri untuk kembali ke kota Solo 1988.

Ia kemudian bekerja sementara waktu pada pabrik milik pamannya, hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti dan memulai usaha mebelnya sendiri. Usaha yang mulanya berjalan dengan kondisi sederhana lambat laun berkembang. Dari ruang lingkup regional, usaha Jokowi tumbuh melingkupi pasar nasional, hingga kemudian merambah pasar mancanegara.

Kesuksesan atas bisnis mebel dan kemapanan finansial yang diraihnya menggerakkan Jokowi mulai mencurahkan energi pada ranah lain, yaitu sosial. Ia melihat banyak usaha kecil masyarakat Solo yang sesungguhnya memiliki potensi untuk maju, tetapi belum berkembang dengan baik. Dengan latar belakang masa lalunya yang sulit di bantaran sungai, ia dan beberapa rekan pengusaha menggagas terbentuknya organisasi pengusaha mebel nasional cabang Solo yang bernama Asosiasi Pengusaha Mebel Indonesia atau akrab disebut Asmindo. Jokowi didaulat menjadi ketua organisasi.

Setelah dua tahun Jokowi memimpin Asmindo, para pengurus dan anggota syarikat pengusaha tersebut mulai melontarkan ide pencalonan diri Joko Widodo pada Pemilukada Solo 2005. Pada mula ide itu muncul, Jokowi hanya menganggapinya dengan tawa dan secara halus menolaknya. Akan tetapi, aspirasi tersebut bertambah kuat dan dorongan dari dalam organisasi untuk maju mencalonkan diri sebagai Walikota Solo terus meningkat. Joko Widodo kemudian maju dalam Pemilukada bersama F.X Hadi Rudyatmo dan terpilih menjadi Walikota Solo periode 2005—2010.

Joko Widodo mulai dikenal dalam lingkup nasional setelah ia secara resmi mengganti mobil dinasnya dengan mobil Esemka, yang merupakan buah karya para pelajar SMK 2 dan SMK Warga Surakarta, Januari 2012.

Pada Maret 2012, PDI-P dan Partai Gerindra mengusung Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama sebagai calon Gubernur dan Wakil Gubernur pada Pemilukada DKI Jakarta 2012. Pasangan calon ini berhadapan dengan lima pasangan calon lain dan berhasil menduduki posisi teratas pada Pemilukada putaran pertama dengan persentase perolehan suara sebanyak 42,60 persen.

Pada Pemilukada putaran kedua, Jokowi dan Basuki berhasil mengungguli pasangan calon Fauzi Bowo dan Nachrowi Ramli dengan persentase perolehan suara sebanyak . Joko Widodo kini menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta periode 2012—2017.

Penghargaan

10 Tokoh Berpengaruh di Indonesia versi Majalah Tempo (2008)
Bung Hatta Anticorruption Award (2010)
Charta Politica Award (2011)
Penghargaan sebagai wali kota teladan dari Kementerian Dalam Negeri RI (2011)
Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama oleh Presiden RI (2011)
Marketers of the Year kategori Government (2012)
Tokoh publik pilihan Serikat Perusahaan Pers (2012)
Soegeng Sarjadi Award On Good Governance (2013)
Social Media Award (2013) (sabar/dari berbagai sumber)

Berita Terkait

Komentar

Komentar