Primordialisme yang Sempit Ancam Keutuhan NKRI

Oleh: Fauzi Azis

Ilustrasi

INDONESIA adalah negara kesatuan berlandaskan hukum dan berkedaulatan rakyat. Pada saat yang sama, negeri ini sebagai sebuah bangsa mengakui adanya kebinekaan yang berarti mengakui adanya perbedaan etnis, ras, agama dan adat istiadat.

Pengakuan ini menegaskan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk dan azas primordialisme mau tidak mau harus diakui sebagai sumber kekuatan aset bangsa yang harus bisa dikelola dengan bijaksana dan adil, agar potensinya dapat dimobilisasi sebagai sumber kemajuan.

Persatuan dan kesatuan tidak boleh terciderai sedikitpun. Begitu pula semua warga negaranya memilki hak dan kewajiban yang sama untuk bisa hidup di negeri ini, dimana masing-masing entis, suku, ras, agama dan adat istiadat memiliki kesempatan yang sama untuk hidup dan berkembang.

Sistem perpolitikan nasional harus mampu mewadahi seluruh kekuatan primordial yang ada di masyarakat. Sistem perpolitikan yang bijaksana dan adil agar primordialisme tidak melahirkan ego yang bersifat primordial sempit yang bisa berujung mengganggu stabilitas politik nasional yang sewaktu-waktu bisa mengganggu keutuhan NKRI.

Sistem politik nasional harus bisa memberikan pendidikan politik yang sehat, bermoral dan mampu memberikan motivasi dan inspirasi tentang wawasan kebangsaan yang akan mengokohkan rasa persatuan dan kesatuan meskipun kita hidup dalam kebinekaan etinis, ras, agama dan adat istiadat.

Semangat ini diharapkan akan memacu lahirnya nasionalisme dan patriotisme baru yang akan membawa bangsa Indonesia menjadi digdaya di dunia dan jika ini berhasil diwujudkan maka Indonesia dapat menjadi salah satu role model sebuah negara bangsa yang sukses mengelola kemajemukan.

Tapi kalau perilaku sistem politik nasionalnya berjalan seperti yang sekarang, yakni sangat pragmatis transaksional dan koruptif, interestnya tidak jelas dalam konteks membangun wawasan kebangsaaan yang berperadaban, maka kita menjadi ragu apakah republik ini bisa mengelola NKRI dan sekaligus mampu menjaga keutuhannya.

Dapat dicatat bahwa sistem politik yang pragmatis transaksional dan koruptif, tidak akan pernah berhasil menjadi penguasa di negeri ini yang bisa membawa bangsa ini hidup berdampingan secara damai dan saling mau membantu sesamanya. Karena yang pragmatis dan transaksional itu tidak pernah memikirkan bagaimana memberikan pendidikan politik yang baik dan bermoral, kecuali hanya berfikir sesaat dan tidak pernah berfikir tentang pentingnya peradaban suatu bangsa, tentang pentingnya keutuhan sebuah bangsa untuk membangun peradabannya.
Para penganut aliran politik pragmatis dan transaksional koruptif terseebut yang akan menjerumuskan negara ini ke arah yang bisa mempercepat terjadinya dis-integrasi bangsa karena mereka hanya berfikir untuk kepentingan golongannya saja.

Konflik sosial yang terjadi dimana-mana sebagian diantaranya disebabkan karena politisi yang berkuasa terjebak kepada persoalan conflict of interest dan ini terjadi karena politisi bersangkutan adalah penganut aliran politik pragmatis transaksional dan koruptif. Primordialime adalah sebuah realita.

Mau dipandang itu sebagai sebuah primordialisme sempit atau apapun istilahnya, dia adalah sebuah entitas yang harus diakui eksistensinya. Kita sepakat mengakui adanya primordialisme di masyarakat dan ini tidak lepas dari pengakuaan kita terhadap bhineka tunggal ika (pengakuan sebagai bangsa yang majemuk).

Dia akan bisa dikelola sebagai sebuah kekuatan, tentu sangat tergantung sistem politik nasional, apakah mampu memberikan pendidikan politik dan wawasan kebangsaan yang baik dan paripurna kepada seluruh warga bangsa di negeri ini yang semangatnya adalah memperkuat rasa persatuan dan kesatuan dalam bingkai NKRI yang sekaligus mengakui adanya perbedaan.

Kalau gagal, maka potensi terjadinya dis-integrasi bisa saja terjadi setiap saat. Ini harus menjadi catatan kita bersama dan saudara-saudara kita yang berniat berkarir di bidang politik, maka tugas berat yang anda akan pikul adalah menjaga keutuhan NKRI, di saat ternyata isu primordialisme sempit masih bersemi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di negeri ini.

Sebagai rakyat, tentu akan menjadi bagian penting dari proses membangun masa depan negeri ini dengan semangat NKRI, sepanjang rakyat dipimpin dengan cara-cara yang baik, beradab dan tidak koruptif. ***

Berita Terkait

Newer Post

Komentar

Komentar