Produk Nasional tidak Dilirik Konsumen Dalam Negeri. Kenapa?

Oleh: Sabar Hutasoit

 

JUDUL tulisan di atas yang bernada pertanyaan  ini sebenarnya adalah persoalan yang sudah lama dihadapi para pelaku industri nasional yakni produk mereka tidak laku di dalam negeri atau dengan kata lain produk nasional tak dilirik konsumen nasional itu sendiri. Konsumen lebih mengutamakan produk asing alias impor.

Apa pasalnya, apa penyebabnya dan apa pula alasannya para konsumen yang kelihatannya lebih mencintai produk asing. Kalangan pelaku industri di dalam negeri sulit menjawab pertanyaan ini walau pemerintah sudah membuat kebijakan agar konsumen nasional khususnya proyek-proyek pemerintah mengutamakan produk dalam negeri.

Salah satu kebijakan yang sudah terkenal adalah program P3DN (Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri). Namun seberapa jauh efek positif dari P3DN terhadap penggunaan produk nasional ? Atau seberapa besar program P3DN mempengaruhi minat konsumen agar mengalihkan perhatian dari barang impor ke barang lokal? Jawabnya kalau mau jujur adalah “gak ngaruh”.

Mengeluhkan

Buktinya ? Pelaku industri nasional apakah itu barang modal seperti alat-alat pertanian, alat-alat kesehatan, mesin dan alat-alat perkakas dan banyak lagi produk lain, produknya tak dilirik konsumen dalam negeri khususnya proyek-proyek pemerintah.

Hampir seluruhnya pelaku industri yang pernah ditemui penulis mengeluhkan nada yang sama yakni mereka tak direken konsumen nasional.

Apakah karena mutu ? “Tidak”, itu kata mereka. Bahkan para pelaku industri menantang pembeli, maunya mereka barang apa, kami siap kerjakan dengan mutu yang sesuai standar.

Berdasarkan data yang dibeberkan pelaku industri, misalnya biaya belanja mesin-mesin perkakas dalam satu tahun di Indonesia bisa mencapai US$ 1,3 miliar, namun yang dibelikan ke barang produk dalam negeri nilainya di bawah 10 persen selebihnya dbelanjakan untuk barang impor.

Demikian juga anggaran belanja alat-alat kesehatan dan pertanian serta yang lain. Persentasinya untuk membelanjakan di dalam negeri sangat kecil yang artinya devisa negara menjadi lari ke luar negeri dan produk kita tidak terjual alias numpuk atau produsen tak berproduksi.

Kalaupun berproduksi tidak mencapai kapasitas produksi.

Padahal kata pelaku industri alat-alat kesehatan, kalaulah semua pengelola rumah sakit di Indonesia memesan peralatan rumah sakit dari produsen dalam negeri, berapa banyak devisa yang tinggal di Indonesia serta berapa banyak tenaga kerja yang diserap industri.

Demikian juga misalnya penggunaan produk lain, karpet misalnya. Kabarnya, hampir seluruh bandara di Indonesia menggunakan karpet yang diimpor dari China, lalu kenapa tidak menggunakan karpet yang diproduksi di Indonesia ? Apa pula alasannya ?

Sebenarnya Presiden Jokowi sendiri sudah pernah “geram” tentang cangkul yang masih harus diimpor. ‘’Cangkul saja masih impor?”, kira-kira begitu pertanyaan pak Jokowi saat itu. Tapi dampaknya kegeraman itu tidak kelihatan, impor tetap jalan, produk dalam negeri tetap lebay.

Lalu apa fungsi lembaga P3DN? Mari kita tunggu, apakah P3DN hanya sekedar slogan atau jargon politik ? (penulis seorang wartawan tinggal di Jakarta)

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar