Produsen Baja China, Ingin Inves, Tapi Minta Listrik Dijamin Tersedia

Laporan: Redaksi

ilustrasi

BERBINCANG - Menteri Perindustrian RI Mohamad S. Hidayat berbincang-bincang dengan Franky Widjaja dari Sinarmas Group usai melakukan pertemuan membahas pembangunan pabrik baja terpadu Wuhan Iron and Steel Group dan Red Capital Group, di Kementerian Perindustrian, 19 Maret 2014. (tubasmedia.com/sabar hutasoit)

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Produsen baja terbesar keempat di Cina, Wuhan Iron and Steel Group (Wisco), berniat membangun pabrik di Indonesia. Pabrik pengolahan besi dan baja ini digadang-gadang sebagai yang terbesar di Indonesia karena memiliki kapasitas produksi 5 juta ton setahun. Namun investasi senilai US$ 5 miliar atau Rp 56,6 triliun ini ada syaratnya.

Menurut Menteri Perindustrian MS Hidayat, Wisco meminta beberapa hal, yakni akses ke pelabuhan dengan kedalaman laut yang memadai dan jaminan listrik. Yang paling penting, kata Hidayat, Wisco meminta disediakan lahan seluas minimal 1.500 hektare untuk membuat kawasan industri (industrial park). “Saya tawarkan di Jawa Timur,” katanya, Rabu, 19 Maret 2014.

Hidayat mengakui penyediaan lahan bukan perkara mudah bagi investasi di Indonesia. Karena itu, dia berharap Grup Sinar Mas sebagai calon rekanan Wisco turut membantu menyelesaikan masalah ini.

Jika investasi ini terwujud, pabrik besi baja Wisco akan menjadi yang terbesar di Indonesia dengan kapasitas produksi 5 juta ton per tahun. Produk Wisco bisa menjadi solusi atas tingginya impor besi dan baja. Sebab, hingga saat ini produsen besi-baja nasional hanya mampu memasok 6 juta ton atau separuh dari kebutuhan yang melebihi 10 juta ton per tahun.

Kepala Eksekutif Sinar Mas Group Franky Oesman Widjaja mengatakan rencana kerja sama membangun pabrik dengan Wisco masih dalam penjajakan. “Pembicaraannya masih sangat dini,” katanya. (sabar)

Berita Terkait

Komentar

Komentar