Profit dan Benefit

images.jpggggggggg

OLeh: Fauzi Aziz

 

JIKA kita membicarakan soal ekonomi dan bisnis, maka hal utama yang secara pragmatis diperlukan para pemangku kepentingan adalah pemerintah, dunia usaha dan masyarakat. Tapi sejatinya bermuara pada dua hal, bagaimana menciptakan profit dan benefit.

Dari kepentingan dunia usaha, yang diperlukan adalah profit dan ini adalah tujuan utama. Sedangkan bagi pemerintah dan masyarakat tujuan utamanya bagaimana mendapatkan benefit ketika kegiatan ekonomi dan bisnis tumbuh berkembang.

Profit dan benefit sangat penting. Ini menjadi indikasi bahwa kegiatan ekonomi dan bisnis berjalan secara sehat. Para pihak bisa saling menarik manfaat. Kerjasama antara dunia usaha dan pemerintah tidak bisa dinafikkan. Itulah mengapa konsep tentang pentingnya mewujudkan semangat Indonesia Incorporated diperlukan, seperti Jepang sudah melakukannya hingga kini, termasuk Korea Selatan.

Profit dan benefit pertanda kegiatan ekonomi dan bisnis menggeliat yang bagi kepentingan siapapun secara pragmatis diperlukan. Oleh sebab itu, iklim usaha yang kondusif adalah keniscayaan, meskipun hal ini kelihatannya bersifat normatif.

Jika profit bisnis selalu terjaga, investasi pasti berkembang. De ngan mendapatkan keuntungan yang memadai dan wajar, perusahaan dapat memiliki leverage yang baik untuk mendapatkan return dan membagi deviden kepada pemegang saham.

Kesempatan untuk melakukan re-investasi juga terbuka luas, apalagi jika pemerintah memberikan kemudahan dan fasilitas. Tingkat profitabilitas yang memadai dan berkelanjutan akan berdampak positif bagi daya tarik investasi.

Dilihat dari benefit pemerintah dan masyarakat dampaknya jelas, ekonomi akan tumbuh, kesempatan kerja terbuka luas, pemupukan cadangan devisa meningkat manakala ekspor atas produk dan jasa meningkat.

Dan yang tak kalah penting adalah penerimaan pajak akan meningkat. PPh badan sebagai contoh hanya akan bisa dihimpun jika perusahaan sebagai wajib pajak, bisnisnya selalu mencetak laba. Benefit lain yang diperoleh, pasar modal akan semakin menarik bagi investor bila para emitennya selalu tampil sebagai perusahaan pencetak laba terbaik (top ginner).

Profit dan benefit bukan soal simplifikasi dari masalah ekonomi dan bisnis. Kenyataannya antara profit dan benefit memang menjadi nyawanya bagi pembangunan ekonomi, baik dilihat dari sisi makro maupun mikro. Aksi profit taking dalam bisnis dan investasi adalah hal yang biasa karena realitasnya kita perlukan profit dan capital gain.

Dunia ekonomi, bisnis dan investasi adalah dunia profit dan benefit. Jika keduanya tidak ada, perusahaan akan limbung dan akhirnya mereka memilih hengkang dan pindah ke negara lain yang bisa memberikan harapan baru untuk mencetak laba.

Pemerintah akan menanggung beban berat jika kegiatan ekonomi dan bisnis lesu di dalam negeri dan akhirnya pemerin tah harus menggunakan cadangannya untuk menstimulasi ekonomi agar tetap  menggeliat.

Inilah mengapa pemerintah dimanapun selalu memberikan perhatian pada pentingnya stabilitas ekonomi, pengendalian inflasi, stabilitas nilai tukar, selain juga faktor iklim usaha dan kepastian hukum. Saking percayanya terhadap bekerjanya sistem ekonomi liberal dan mekanisme pasar, tokoh sekaliber “Alan Greenspan” mantan gubernur Bank Central AS mempunyai keyakinan sendiri bahwa pasar paling tahu apa yang terbaik dan pemerintah akan melakukan tugasnya dengan sangat baik.

Dalam konteks Indonesia barangkali sikap yang diperlukan pemerintah adalah tutwuri handayani, atau cukup bertindak sebagai fasilitator, selain tentu tetap bertindak sebagai regulator, yang harus dibarengi oleh penerapan tata kelola pemerintahan yang baik.

Akhirnya, masyarakat harus mengambil posisi sebagai pemangku kepentingan yang bisa ikut menikmati benefit akibat perkembangan kegiatan ekonomi dan bisnis harus pula dapat memberikan kontribusi misalnya menempatkan diri sebagai konsumen yang loyal menggunakan produk dan jasa yang dihasilkan perusahaan di dalam negeri.

Konsumen sebagai penikmat benefit sebaiknya dapat memberikan sentimen positif bagi perkembangan ekonomi dan bisnis di dalam negeri agar roda ekonomi nasional tetap berputar meskipun kondisi eksternalnya tidak selalu menggemberikan. Indonesia secara sistemik dan struktural harus memperbaiki tatanan kelembagaannya dan proses bisnis agar menjadi lebih efisien dan bebas hambatan.

Tujuannya agar kegiatan ekonomi dan bisnis di dalam negeri terus menggeliat tanpa ada hambatan bagi mesin pencetak laba.

Ibarat tanaman yang produktif, mereka harus terus dipupuk dan kebutuhannya dilayani secara wajar sebagai mesin pencetak laba.

Pemerintah tidak sering-sering membuat kebijakan yang terkesan dibuat karena “panik” seperti yang terjadi dalam menangani masalah industri peternakan di dalam negeri. Panic policy malah menimbulkan masalah baru ketimbang mendatangkan profit dan benefit. (penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi dan industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar