Program DIM Manfaatkan SDA Desa Menggunakan Inovasi Teknologi

IMG_0375.jpgggggggggg

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Salah satu strategi yang dapat menjawab masalah di pedesaan untuk mengolah bahan baku, meningkatkan kompetensi sumber daya manusia (SDM) serta dapat memasarkan produk yang bermutu, adalah perlunya memberikan transfer teknologi yang telah teruji keberhasilannya.

Hal itu dikatakan Direktur Industri Kecil Menengah Pangan, Barang dari Kayu dan Furnitur, Ditjen IKM, Dr Ir Sudarto MM kepada tubasmedia.com di Jakarta kemarin.

Dan untuk menyalurkan transfer teknologi tambahnya, Kementerian Perindustrian telah mengembangkan program Desa Industri Mandiri (DIM). Melalui DIM kata Sudarto, diharapkan potensi wirausaha yang ada di daerah-daerah akan secara bertahap dapat tergali.

Program DIM menurut Sudarto merupakan sebuah program yang memanfaatkan sumber daya alam (SDA) desa dengan menggunakan hasil inovasi teknologi guna menciptakan produk yang mempunyai nilai tambah atau manfaat  yang lebih tinggi.

Pengembangan alih teknologi yang telah telah dilaksanakan dan yang sedang teruji keberhasilannya untuk diterapkan di masyarakat pedesaan atau pesisir berupa inovasi bioteknologi pupuk organic cair (POC), inovasi teknologi pengaraman paten dan inovasi pemb uatan tepung mangrove dari buah mangrove sebagai bahan pangan.

Dijelaskan kalai program DIM berbasis inovasi teknologi telah dimulai sejak 2012 di beberapa daerah di antaranya Kabupaten Bone Bolango, Kabupaten Sidrap, Lombok Timur, dan beberapa kabupaten di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat dan Lampung.

Bahkan terdapat MoU antara Ditjen IKM Kemenperin dengan Badan Penelitian Pengembangan dan Inovasi Kemnetreian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tentang Implementasi Model Pengembangan IKM dan Wirausaha Berbasis Inoevai Teknologi dalam rangka pengembangan DIM. ‘’Rencana pembangunan DIM tahun 2016 di Kabupaten Sanggau, Minahasa, Buol serta Kabupaten Blitar,’’ katanya.

Model DIM menurutnya memanfaatkan potensi sumber daya alam secara optimal dengan menghasilkan produk yang bernilai tambah tinggi sehingga meningkatkan ekonomi masyarakat setempat.

Pelaksanaan program DIM merupakan amanat Undang-Undang Nomor 3 tahun 2014 tentang Perindustrian, bahwa pembangunan sumber daya industri meliputi pembangunan SDM, pemanfaatan sumber daya alam, pengembangan dan pemanfaatan teknologi industri, pengembangan dan pemanfaatan kreativitas dan inovasi, serta penyediaan sumber pendanaan. Program DIM juga sejalan dengan Undang-Undang Nomor 6 tahun 2014 tentang Desa.

Sementara itu, Dirjen Industri Kecil dan Menengah, Euis Saedah pernah mengatakan, hasil bioteknologi POC yang diterapkan di berbagai daerah telah meningkatkan produksi dan kualitasnya menjadi organik sehingga mampu mendongkrak harga.

Misalnya di Gorontalo, dari rata-rata 4,5 ton per ha menjadi 7,4 ton per ha. Sedangkan, pada tanaman jagung di Jember, meningkatkan produksi dari 7,6 ton per ha menjadi 12,7 ton per ha.

Bahkan, katanya ada beberapa petani padi yang memadukan hasil penelitian benih Gorontalo di Kabupaten Bone Bolango, dimana produktivitasnya dapat mencapai 5,10-7,76 ton atau meningkatkan sebesar 52 persen.

Sementara itu, penerapan NOC pada hewan dan ternak dapat meningkatkan produktivitas, penurunan jumlah kematian, penurunan pemberian pakan sekitar 20 persen, penurunan bau kotoran dan peningkatan nilai tambah serta pendapatan.

“Aplikasi NOC pada pembuatan model pakan ferami (fermentasi jerami) yang dilaksanakan di Lombok Timur bisa meningkatkan efisiensi penggunaan pakan hijauan,” lanjutnya.

Euis juga menjelaskan, hasil penerapan inovasi teknologi pegaraman di Jawa Tengah dapat meningkatkan produksi garam dari rata-rata 70 ton/ha/tahun menjadi di atas 100 ton/ha/tahun. Di samping itu dapat meningkatkan kualitas garam dari K2, K3 menjadi K1, putih, bersih dan homogen serta meningkatkan harga mencapai 30 persen.

“Sedangkan inovasi pegaraman lainnya dapat menghasilkan garam beryodium yang memenuhi syarat SNI atau kadar iodium 30-80 ppm,” ujarnya seraya mengatakan teknologi pembuatan tepung mangrove dari buah mangrove dapat mensubstitusi tepung karena layak sebagai bahan pangan.

Dengan adanya program DIM, kata Euis, diharapkan dapat menumbuhkan industri inti yang dapat mendorong pertumbuhan industri berbasis inovasi teknologi, meningkatnya kompetensi SDM, tumbuhnya wirausaha baru, penyerapan tenaga kerja lokal, dan meningkatnya perekonomian desa melalui keseimbangan nilai tambah bagi para pelaku usaha terkait dan koperasi menuju desa atau sentra industri mandiri yang berwawasan lingkungan. (sabar)

Berita Terkait