PSSI dan Gerakan Kebangsaan

Oleh: Paulus Londo

Ilustrasi

Ilustrasi

DALAM waktu dekat, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) akan kembali menggelar kongres. Rakyat Indonesia terutama pencinta sepak bola berharap, forum permusyawaratan itu tidak hanya dapat menyelesaikan berbagai permasalahan yang membuat sepak bola nasional terus terpuruk, tapi juga jadi titik awal untuk meraih kejayaan sepak bola Indonesia sebagaimana pernah terjadi di masa lampau.

Terkait dengan itu, salah satu yang kini tampak telah dilupakan oleh berbagai pihak yang terkait dengan dunia sepakbola nasional adalah hakekat PSSI sebagai organisasi perjuangan bangsa di bidang olah raga sepakbola. Dalam sejarahnya, pembentukan PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia) pada tahun 1930 di Yogyakarta, merupakan perlawanan bangsa Indonesia terhadap diskriminasi penguasa kolonial Belanda di bidang olah raga sepak bola.

Sejarah mencatat, kendati pada dasawarsa 1920-an, berbagai klub sepak bola pribumi berkembang menjamur di berbagai pelosok tanah air serta menunjukkan prestasi gemilang, namun diperlakukan tidak adil oleh induk organisasi sepak bola Hindia Belanda, Nederlandsch Indische Voetbal Bond (NIVB) yang kemudian berubah nama menjadi Nederlandsch Indische Voetbal Unie (NIVU).

Perlakuan tidak adil itu, dijawab oleh klub-klub sepak bola pribumi dengan mendirikan induk organisasi sepak bola terpisah berdasarkan semangat kebangsaan Indonesia. Peristiwa historis fenomenal ini, merupakan buah pikiran Ir. Soeratin Sosrosoegondo, yang tak kenal lelah menumbuhkan jiwa kebangsaan di bidang persepakbolaan.

Soeratin, kelahiran Yogyakarta 17 Desember 1898 adalah insinyur tamatan Sekolah Teknik Tinggi di Hecklenburg, Jerman. Ia adik ipar Dr. Soetomo, tokoh penting di organisasi Boedi Oetomo. Keakraban dengan kakak iparnya itu menyeret Soeratin ke dalam kancah perjuangan pergerakan nasional sehingga ia jadi peserta Kongres Pemuda, 28 Oktober 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda.

Seusai menghadiri Kongres Pemuda, Soeratin pun merancang pertemuan dengan sejumlah tokoh sepakbola pribumi, antara lain dengan Soeri, ketua VIJ (Voetbalbond Indonesische Jacatra, kini menjadi Persija). Dengan usaha keras, gagasan tersebut akhirnya terwujud. Pada tanggal 19 April 1930, di gedung Hande Proyo (sekarang gedung Batik dekat Alun-alun Utara) Yogyakarta, bertemu para tokoh sepak bola pribumi dari Bandung, Solo, Yogya, Magelang dan Jakarta. Mereka bersepakat membentuk organisasi induk sepak bola kebangsaan bernama PSSI (Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia).

Sejumlah tokoh pergerakan nasional yang memberikan dukungan terhadap pendirian organisasi sepak bola kebangsaan Indonesia ini antara lain, Daslam Hadiwasito, Amir Notopratomo, A Hamid, Soekarno (bukan Bung Karno), dan Soediro (Ketua Asosiasi Muda Magelang).

Dengan terbentuknya PSSI, Soeratin dan kawan-kawan menunjukkan kepada penguasa kolonial bahwa kaum pribumi (inlander) juga mampu berprestasi di bidang sepak bola. Untuk memacu prestasi setiap klub, PSSI adalah wadah sepak bola yang pertama menerapkan pemeringkatan. Sistem ini kemudian ditiru oleh NIVB, induk sepak bola Kolonial Belanda. Untuk mendorong pemeringkatan, PSSI mewajibkan setiap bonden/perserikatan melakukan kompetisi internal untuk strata I dan II. Bagi pemenang dilanjutkan dengan ke kejuaraan antar perserikatan yang disebut Steden Tournooi dimulai pada tahun 1931 di Surakarta.

Kemajuan PSSI dalam memajukan sepak bola berciri kebangsaan Indonesia kian memicu rakyat Indonesia menekuni olah raga permainan ini. Dengan cara swadaya, masyarakat yang tinggal di perkampungan semakin giat mengadakan pertandingan, meski dengan fasilitas seadanya. Hal ini menggugah hati Susuhunan Paku Buwono X yang kemudian mendirikan satu stadion dengan fasilitas memadai yang diberi nama “Stadion Sriwedari”.

Ia merupakan fasilitas olah raga pertama milik pribumi yang dilengkapi lampu untuk pertandingan pada malam hari. Stadion yang diresmikan pada 1933 ini, berdiri sebagai bentuk apresiasi terhadap kebangkitan “Sepakbola Kebangsaan” yang digerakkan PSSI. Dan, melalui stadion ini pula, bangsa Indonesia melalui PSSI mampu menunjukkan prestasi lebih baik di mata penguasa kolonial.

Akar historis PSSI sebagai gerakan sepak bola kebangsaan tentu relevan untuk dibangkitkan kembali agar pengelolaan sepak bola nasional saat ini maupun mendatang, tidak menyimpang dari alur sejarahnya yang hakiki. Semoga para elite sepak bola yang terus bertengkar menyadari akar sejarah PSSI ini. ***

(Penulis, seorang pemerhati olah raga sepak bola)

Berita Terkait

Komentar

Komentar