Pulih Dulu Baru Pertumbuhan

Oleh: Fauzi Aziz

 

PERTAMA, pemulihan menjadi  harapan dan sangat dinantikan karena krisis yang tak kunjung padam telah meluluhlantakkan sendi-sendi kehidupan sosial ekonomi masyarakat dimanapun berada.

Rumah tangga ekonomi keluarga stress. Rumah tangga ekonomi perusahaan lumpuh. Rumah tangga ekonomi negara juga menghadapi fiscal distress sehingga beban utang pemerintah membengkak.

KEDUA, covid-19, ekonomi memburuk inilah gambar besar kehidupan yang kini menelikung sendi-sendi kehidupan di alam dunia ini.Tujuh bulan lamanya dunia mengalami derita. Doa dan harapannya , semoga ujian berat ini segera berakhir. Tuhan yang akan memutuskan apakah doa -doa kita diterima atau ditolak.

Keputusan Tuhan tentang dunia pulih , apakah besok atau lusa, ataukah 31 Desember 2020 atau boleh jadi lebih lama lagi. Hanya Tuhan yang tahu. Mental kita benar-benar sedang diuji, tatkala Revolusi Mental dilahirkan hanya sekedar narasi politik dan kemudian sirna ditelan bumi. Di saat krisis sekarang ini, momentum bijak untuk mengatasi krisis tak ada yang muncul . Yang muncul justru “akrobat politik dan birokrasi” dalam mengelola krisis, ketika di saat yang sama muncul juga “krisis kepercayaan”.

KETIGA, pemulihan kesehatan, mata pencaharian dan pemulihan ekonomi jelas butuh vaksin dan obat mujarab. Ketiganya sama-sama membutuhkan dana stimulus yang besar untuk pemulihan.Menunggu tim kerja yang tangguh dan selaras di pusat maupun daerah untuk mengatasi krisis multidimensi menjadi harapan kita bersama.

Beban sosial bagi sebagian besar penduduk terasa berat dan jelas bisa berpotensi menimbulkan frustasi sosial. Menangani krisis butuh stabilitas politik dan keamanan yang terbaik karena  krisis yang telah menimbulkan  social stress berpotensi menimbulkan gangguan stabilitas polkam yang pada akhirnya bisa mengakibatkan terganggunya stabilitas ekonomi.

Menjaga dan memelihara stabilitas pada kedua sektor penting tersebut menjadi kunci menuju pemulihan yang kita nantikan bersama. Pemulihan memerlukan dukungan faktor-faktor ekonomi dan non ekonomi. Rutenya adalah pulih dulu, baru pertumbuhan.

KEEMPAT, pemulihan kesehatan karena covid-19 jelas butuh vaksin dan obat. Pemulihan mata pencaharian dan ekonomi akan terjadi bersamaan jika stimulus ekonominya efektif menstimulasi kegiatan ekonomi. Sederhananya seperti itu kalau fokus kita pada upaya pemulihan ketiganya. Khusus untuk pemulihan ekonomi tidak akan terjadi serta merta.

Mengapa demikian? Ada dua hal yang dapat kita rekam sebagai pembelajaran, yakni : 1). tergantung dari pertumbuhan permintaan agregat yang merupakan gabungan antara investasi, konsumsi, dan ekspor. 2). kita tahu kesalingtergantungan global sudah sedemikian rupa terintegrasi. Perekonomian nasional, regional dan global secara vital terkait, tetapi tidak ada satu pemain-pun yang dapat memaksakan kehendaknya pada bagian dunia lainnya. Sehingga pertumbuhan agregat demand pada dasarnya menjadi sangat tergantung pada situasi perekonomian global dan kawasan.

IMF telah membuat prediksi bahwa tahun 2020 ekonomi global tidak punya energi untuk menarik gerbong ekonomi regional maupun nasional karena perekonomian global tumbuh negatif minus 4,9%.Ekonomi negara maju minus 8%, dan negara berkembang minus 3%.Tahun 2021, prediksinya optimis yakni ekonomi global akan tumbuh 5,4%.Ekonomi negara maju 4,8%, dan negara berkembang 5,9%.Indonesia mematok angka pertumbuhan sebesar 5% , dan pemerintah menyediakan APBN Rp 2.750 triliun.

KELIMA, setelah pemulihan terjadi, faktor ketahanan ekonomi menjadi penting karena negara berkembang dengan pasar yang sedang tumbuh akan menjadi target pasar dan investasi. Diperkitakan akan terjadi pelepasan stock barang untuk memperbaiki cash flow. Pelepasan barang dalam stock akan mengalir ke negara-negara berkembang yang pasarnya sedang tumbuh. Wisdom kita akan mengatakan hati-hati dengan barang impor yang masuk dengan harga dumping maupun mengandung unsur subsidi sehingga harga yang ditawarkan murah.

Terkait dengan investasi dalam rangka pemulihan ekonomi harus berangkat dari titik kurs rupiah yang kuat dan inflasi yang rendah. Dalam APBN 2021, kurs rupiah dipatok Rp 14.500 per dolar AS dan inflasi 3%. Pemulihan investasi diperlukan suku bunga rendah. Pengadaan barang investasi sangat tergantung dari faktor suku bunga. Sebab itu, permintaan barang investasi berbanding terbalik dengan tingkat bunga. Artinya jika suku bunga tinggi, akan sulit investasi fisik akan tumbuh. Untuk merespon demand agregat yang digerakkan oleh investasi dan ekspor, tantangannya adalah daya saing. Pemulihan ekonomi tanpa daya saing,  Indonesia akan terus menghadapi tekanan ancaman defisit neraca transaksi berjalan.

KEENAM, selain itu, juga ada tantangan dalam pos  transaksi finansial yang pergerakannya sangat fluktuatif karena berisi aliran modal  berasal dari investasi portofolio yang merupakan aliran dana hot money. Arus modal jangka pendek yang masuk dan keluar dalam jumlah besar dengan mudah dapat menjadi pemicu terjadinya krisis. Sehingga pengawasan terhadap arus modal masuk keluar jangka pendek sebaiknya dilakukan.

Model pengenaan pajak atas devisa yang ditarik keluar sebelum mengendap satu tahun perlu dilakukan. Langkah ini penting untuk meredam fluktuasi mendadak dalam arus modal dan mencegah pasar finansial dan pasar modal menjadi media praktek casino capitalism para sepekulan yang bermain aksi ambil untung, dan manipulasi uang di kedua pasar tersebut. Tanpa pengawasan yang baik, maka ketika pemulihan terjadi, kita akan bertemu dengan situasi yang sama, yakni fluktuasi nilai tukar rupiah yang mengarah ke depresiasi akan menjadi pemandangan sehari-hari.

KETUJUH, ancaman dan tantangan tersebut bersifat terbuka disebabkan karena kebijakan pemerintah sendiri, dimana para penanam modal asing maupun dalam negeri diberi hal melakukan transfer dan repatriasi dalam valuta asing, antara lain terhadap modal, keuntungan, bunga bank, deviden dan pendapatan lain. Dana valas tersebut juga diperlukan untuk pembelian bahan baku, bahan penolong, barang setengah jadi dan barang jadi, dan barang modal. Di luar itu, dana valas juga diperlukan untuk tambahan dana yang diperlukan bagi pembiayaan penanaman modal ; untuk pembayaran kembali pinjaman ; royalty atau biaya yang harus dibayar; kompensasi atas kerugian ; dan sejumlah ketentuan lain yang diatur dalam UU tentang Penanaman Modal nomor 25 tahun 2007.

KEDELAPAN, sejak itu, ekonomi Indonesia tingkat ketergantungan eksternalnya tinggi. Hal ini terjadi karena kebijakan pemerintah sendiri ketika memulihkan ekonominya yang “bangkrut” akibat krisis 1997/1998.

Rupiah tidak berdaulat di negerinya sendiri karena dana valas yang lebih berdaulat. Inilah mengapa nilai tukar rupiah terus berfluktuasi yang mengarah ke depresiasi. Ancaman krisis ekonomi bagi Indonesia bisa datang kapan saja. Alasannya sangat sederhana yaitu jika disaat yang sama terjadi peningkatan kebutuhan valas untuk memenuhi kebutuhan penanaman modal yang diatur dalam UU Penanaman Modal tersebut. Dengan demikian berarti ada kebutuhan untuk mengatur kembali tentang aturan penanaman modal yang selama ini paling liberal di dunia.

KESEMBILAN, kapan pemulihan kesehatan, mata pencaharian dan ekonomi akan terjadi.Tidak ada pihak manapun yang dapat menjawab kapan krisis akan tutup buku, dan kemudian lembaran baru pemulihan akan segera terbit dari ufuk timur yang sekian waktu lamanya diselimuti awan gelap oleh virus covid dan ekonomi global yang dari semula sudah sakit. Hari ini kita praktis hanya mengandalkan prediksi dan proyeksi yang dikeluarkan oleh WHO, IMF dan WTO.

Pendapatan negara akan bertambah bila pertumbuhan ekonomi dijaga, dan justru akan makin berkurang bila kebanyakan berhemat. Politik ekonomi  Indonesia di era krisis sekarang ini jelas mengikuti premis tersebut, sehingga mengambil langkah Extraordinary dengan melonggarkan defisit anggaran, dan kita “dipaksa” menerima kenyataan tersebut untuk bersedia memikul beban utang negara yang membengkak. Beban utang luar swasta pun akan juga membengkak ketika harga pinjaman dari dalam tetap relatif mahal .

KESEPULUH, kalau kita berfikir moderat , maka boleh jadi pada tahun 2021 adalah merupakan periode transisi pemulihan kesehatan, mata pencaharian, dan ekonomi. Alasannya karena vaksinasi baru di mulai di berbagai negara. Mesin -mesin ekonomi produksi dan distribusi baru dihidupkan kembali. Putarannya akan semakin normal jika perbaikan perekonomian dunia yang ditopang oleh peningkatan global demand terindikasi bergerak dengan catatan tidak terjadi proteksionisme selama masa konsolidasi/pemulihan. AS dan China berdamai untuk bisa memimpin pertumbuhan ekonomi global.Kuncinya ada disitu, dan bila perbaikan permintaan global benar-benar berlangsung dengan damai tanpa ada proteksi, maka aktivitas perdagangan antar negara akan kembali normal. Barangkali pertumbuhan ekonomi akan mengalami rebound pada tahun 2022,dan bisa tumbuh seperti diprediksi oleh IMF dan lembaga internasional lainnya. Salam sehat dan kita tetap harus bersabar dan bersyukur menghadapi ujian berat ini. (penulis, pengamat ekonomi dan industri tinggal di Jakarta)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar