Quo Vadis Perdagangan Bebas

bebas

Oleh: FauziAziz

 

GLOBALISASI dan perdagangan bebas adalah dua tema utama yang masih menjadi harapan bagi dunia sebagai mesin pertumbuhan ekonomi global sehingga mampu menciptakan kemakmuran.

Perdagangan bebas adalah produk kebijakan ekonomi liberal yang mendorong aliran barang dan jasa, modal, teknologi dan manusia antar negara.

Umumnya bebas hambatan tarif dan non tarif. Jika ditelusuri di balik dari apa yang dikehendaki sistem perdagangan bebas, ada beberapa hal yang menjadi kata kunci, antara lain lancar dan bebas hambatan; mendorong efisiensi produksi dan distribusi.

Kata kunci ini menjadi ciri utama yang menstigma berlakunya sistem perdagangan bebas di dunia yang konsepnya adalah liberalisasi ekonomi, perdagangan dan investasi.

Aliran barang dan jasa dan lain-lain agar mengalir dengan bebas hambatan dan peningkatan efisiensi, adalah doktrin yang sebenarnya hanya merupakan standar minimal economic of scale agar semua negara di dunia yang terlibat tidak merugi.

Kalau di dalam produksi, kapasitasnya minimal harus bisa mencapai skala regional dan global. Sebab itu, kegiatan investasi menjadi penting dan urusannya harus dimudahkan.

Pembebasan/keringanan pajak dan bea masuk adalah merupakan cita rasa yang selalu melekat pada sistem politik ekonomi liberal karena pajak dan bea masuk dianggap hanya membebani dunia usaha dalam mengembangkan investasi dan bisnisnya.

Inilah mengapa salah satu konsep liberalisasi perdagangan mendukung dihapuskannya bea masuk dan penetapan pajak yang tidak terlalu tinggi. Pelopornya adalah AS. Bagaimana realitasnya yang dapat kita cermati hingga saat ini dan analisa sederhana berikut ini dapat menjadi catatan-catatan yang dapat diperhatikan.

Pertama, dewasa ini perdagangan global melambat. Pertumbuhannya rata-rata pada kisaran tidak lebih dari 2%. Dampaknya berantai, pertumbuhan ekonomi global melambat dan bisa dikatakan lesu. Aliran modal untuk investasi langsung tidak menggairahkan jika dibandingkan dengan investasi portofolio.

Sementara itu, pertumbuhan perdagangan ekspor dan impor juga melandai. Investasi langsung dan perdagangan ekspor-impor yang tidak bergairah, tentu mengakibatkan pertumbuhan ekonomi melemah. Para penganut liberalisasi tetap berpendapat bahwa sistem perdagangan bebas harus tetap berjalan karena doktrin ini diyakini yang paling benar menciptakan pertumbuhan dan kemakmuran.

Pandangan ini terkesan “memaksakan” kehendak agar idiologi liberalisasi tetap menjadi policy mainstream dalam mengelola ekonomi global. Para pemimpin dunia, bolak balik berkumpul, tapi fatwanya tidak pernah mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi dunia.

Yang keluar hanya angka-angka ramalan pertumbuhan ekonomi, tapi realisasinya tidak pernah ada dan hasilnya stuck. Apakah dengan demikian sistem perdagangan bebas telah mengalami kegagalan.

Menjawab pertanyaan ini tentu tidak mudah. Satu hal perlu dicatat bahwa perdagangan bebas sedang bermasalah karena semua negara besar pendekar liberalisasi sedang sakit.

AS, pasca Donald Trump terpilih sebagai presiden yang ke-45, menebarkan bendera perang akan menerapkan kebijakan proteksi, meskipun belum dilaksanakan. Uni Eropa juga terjebak pada persoalan beban hutang yang bertumpuk dan menghadapi tekanan masalah pengungsi yang semakin membebani ekonominya.

Kedua, dunia menghadapi tantangan berat soal kerusakan lingkungan yang jika beban ekonominya diperhitungkan seluruhnya dalam penghitungan GDP pasti akan semakin menggerogoti pertumbuhan ekonomi. Belum lagi beban hutang yang terkait pembayaran pokok pinjaman dan bunganya.

Dalam konteks ini, pertumbuhan ekonomi global yang rendah pada dasarnya menjadi “korban” perilaku ekonomi liberal yang lalai dan melanggar kepatutan dalam mengelola kebijakan ekonomi. Bisa-bisa situasinya bisa menjadi derita tiada akhir karena untuk membayar biaya kerusakan lingkungan dan melunasi pokok pinjaman dan bunga hutang, menyedot likuiditas yang tidak sedikit.

Sementara itu, likuiditas negara semakin menipis akibat penerimaan pajak dan bea masuk yang rendah. Cadangan devisa tidak bisa diobral karena akan dipergunakan mencover biaya mitigasi resiko moneter. dan pembiayaan impor.

Efek dominonya sangat instan, yakni pertumbuhan ekonomi negara-negara berkembang juga menghadapi tekanan berat. Pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya bisa tumbuh rata-rata 5%, meskipun persoalan di dalam negeri banyak yang menjadi faktor penghambat.

Tiongkok juga mabok sehingga pertumbuhan ekonominya hanya pada kisaran rata- rata 6%, masih di bawah India yang tumbuh 7%.

Ketiga. Merujuk pada hasil pertemuan APEC di Peru nampak sistem perdagangan bebas akan tetap dilanjutkan dengan satu keyakinan bahwa ekonomi global harus bangkit.

Kebijakannya seperti apa, tidak terlalu jelas platformnya. Tapi satu hal yang terekam adalah kebangkitan ekonomi mutlak diperlukan agar masing-masing negara, bisa membayar kewajibannya. Yang paling besar adalah biaya kerusakan lingkungan di darat, laut dan udara, serta biaya untuk melunasi hutang dan bunganya.

Jika semua kewajiban ini bisa dibayar tiap tahun, janganlah berharap pertumbuhan ekonomi global akan tumbuh tinggi karena besarnya biaya ekonomi yang  harus dibayar.

Istilah perdagangan bebas sebaiknya tidak perlu lagi dipakai. Gunakan saja istilah perdagangan internasional. Misi utamanya meningkatkan kelancaran arus barang dan jasa dan mendorong peningkatan efisiensi produksi dan distribusi.

Free trade terlalu ambisius dan arogan. Nyatanya tidak berhasil mengubah wajah dunia lebih sehat ekonominya, lebih humanis dan eco-friendly.

Dan satu hal, AS akhirnya loyo. Indonesia diharap dapat mempelopori upaya ini di fora internasional, termasuk dimungkinkannya setiap negara menerapkan proteksi terbatas dan sifatnya sementara untuk melindungi ekonomi domestiknya karena alasan pengamanan kepentingan nasionalnya. (penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi dan industri).

Berita Terkait

Komentar

Komentar