Rakyat Butuh Proyek Pembangunan, Bukan Bulkonah

seminaru

Oleh: Fauzi Aziz

 

JIKA anda sering mengikuti seminar dan diskusi atau rapat-rapat kerja, maka langsung takjub karena disuguhi gambar-gambar bulatan dan panah-panah (bulkonah) oleh sang pembicara kondang yang dihadirkan dalam event tersebut.

Paling sederhana bentuknya ketika sang pembicara menggambarkan sebuah simbol bagaimana  input-proses-output dapat terjadi. Lebih lanjut juga dijelaskan result-nya, berupa outcome dan dampaknya.

Gambar itu makin menarik bila sang penyiap power point jagoan dan profesional. Disirep simbol-simbol dan panah-panah yang menarik, kita terperana dibuatnya. Habis acara selesai semua peserta yang berebut minta foto dan menyalami sang pembicara bahkan ada yang meminta soft copy-nya karena saking tertariknya atas paparan sang pembicara.

Kita tahu dan maklum dengan peristiwa itu dan memang siapapun yang diundang menjadi pembicara dalam diskusi atau seminar, si pembicara harus bisa tampil memukau bak selebriti yang pentas di panggung. Tugas pembicara tentu hanya sampai di situ se lesai. Tidak bisa dituntut hasil dari apa yang disampaikan. Pertanyaannya justru patut ditujukan kepada yang punya hajatan. Apa hasil dari seminar atau diskusi tersebut.

Pihak-pihak yang berkepentingan tentu berharap ada tindak lanjutnya. Jika yang dibahas soal pembangunan ekonomi, kita menunggu output-nya apa? Jika berupa kebijakan apa bentuknya dan kapan kebijakan tersebut dikeluarkan. Bila bentuknya proyek pisik, kapan proyeknya dibangun dan kapan selesai.

Jadi nampak jelas dari celotehan ringan ini ada satu harapan agar apa yang dibahas dalam seminar atau diskusi ada hasil nyata yang bisa dirasakan manfaatnya dan secara pisik ada hasil yang bisa dilihat. Fenomena semacam ini memang sudah terlalu sering diutarakan, terutama jika yang mengadakan seminar lembaga pemerintah.

Para pemangku kepentingan menunggu apa hasilnya. Apa ada proyek atau kebijakan yang akan segera direalisasikan. Catatan ini penting karena ini menyangkut kredibilitas lembaga penyelenggara. Jika result-nya konkret, kredibilitas lembaga akan dipercaya dan jika diundang lagi pada kesempatan yang berbeda, peserta yang datang pasti berjubel.

Namun bila sebaliknya, kredibilitas penyelenggara akan turun karena seminar dan diskusi yang diadakan hanya talking-talking saja.

Tapi perlu dicatat, memang tidak semua seminar atau diskusi  bisa dituntut hasilnya sesuai dengan tema yang dibahas karena keputusan akan lanjutannya dalam bentuk proyek atau yang lain sangat tergantung dari para pejabat pengambil keputusan di lembaga tersebut.

Mengapa demikian? Karena seminar dan diskusi hakekatnya merupakan bagian dari serangkaian proses yang dilalui sebelum keputusan diambil oleh pejabat berwenang. Jadi jangan berharap hasil seminar dan diskusi dapat segera dieksekusi dalam bentuk proyek atau yang lain.

Bulkonah memang hanya sekedar simbol yang umum dipakai pembicara dalam satu seminar/diskusi/rapat-ra pat kerja agar pesertanya dapat mudah memahami tema yang dibahas. Soal bulkonah akan ada tindak lanjutnya lebih lanjut tunggu episode berikutnya.

Hal ini perlu disampaikan karena banyak pihak bosan menghadiri seminar/diskusi. Kebosanan ini wajar saja dilihat kepentingan yang hadir karena mereka hanya disuguhi aksi teatrikal para pembicara yang piawai menampilkan bulkonah. Seminar/diskusi adalah media atau bagian dari sebuah proses panjang dalam pengambilan keputusan penting yang akan diambil lembaga yang empunya gawe.

Bulkonah tidak lebih hanya sekedar alat bantu yang dipakai pembicara untuk membuat diskusi menarik dan memahami materi yang disampaikan. Soal tindak lanjutnya tanyakan pada lembaga penyelenggara. Yang sering terjadi kalau penyelenggaranya lembaga pemerintah suka dicuragai hanya sebagai kegiatan proyek APBN, sehingga timbul olok-olok jangan bikin proyek seminar saja.

Yang penting result-nya harus ada yang landing dalam bentuk proyek pembangunan atau kebijakan atau bentuk yang lain. Inilah mengapa presiden selalu memberikan intonasi pengarahan kepada jajarannya di kabinet  dan di lingkungan birokrasi supaya fokus kerja, kerja dan kerja karena pemerintah butuh prestasi dan legacy yang akan dipertanggungjawabkan.

Itulah mengapa anggaran rapat-rapat/seminar/diskusi dipangkas tetapi tidak dihapuskan sama sekali karena kegiatan-kegiatan semacam itu tidak bisa diabaikan sebagai bagian dari pengambilan keputusan dan wahana sosialisasi dan komunikasi antara pemerintah dan masyarakat.

Walau pemerintah perlu prestasi dan legacy, jangan habiskan waktu hanya untuk seminar/diskusi/rapat-rapat dinas dalam porsi berlebihan karena rakyat butuh keputusan dan perlu ada kegiatan proyek pembangunan agar rakyat Indonesia bisa bekerja dan hidup layak.

Kalau terlalu banyak seminar, yang terhimpun hanya pikiran-pikiran saja dan sejumlah bulkonah yang tertumpuk dalam rak-rak arsip saja. Pikiran dan proses berfikir penting, tetapi yang tak kalah penting adalah pikiran-pikiran yang konstruktif landing dalam tindakan nyata karena kita memerlukan prestasi dan legacy.( penulis adalah pemerhati sosial ekonomi.)

Berita Terkait

Komentar

Komentar