Ramai-ramai Nyaleg, Mau Apa???

Oleh: Sabar Hutasoit

 

PROSES  pendaftaran calon legislatif (Caleg) periode 2019-2024 sudah berakhir dan nama-nama Caleg-pun sudah masuk ke bundel pihak yang ditunjuk sebagi pelaku pemilihan anggota legislatif (pileg).

Drama pendaftaran Caleg sebenarnya bukan hal luar biasa, bahkan hal yang sangat biasa karena drama itu selalu diulang dan diulang sekali dalam lima tahun.

Menjelang pendaftaran Caleg, sudah pasti para pimpinan Partai Politik (Parpol) sibuk melakukan penjaringan dengan harapan agar partainya bisa mendapatkan Caleg yang punya bobot dan punya nilai jual yang tinggi, moga-moga masyarakat berkenan menjatuhkan pilihan kepada Caleg tersebut.

Namun melihat arus gelombang para Caleg yang berdatangan dari beragam professi, kita layak bertanya, apakah kriteria yang dilakukan para pimpinan Parpol adalah mutu atau hanya karena ketenaran nama.

Lihat saja misalnya, ramainya artis dan pekerja seni yang terjun ke dunia politik, ingin jadi anggota DPR yang bermarkas di Senayan sana. Demikian juga pejabat negara yang sudah duduk di kursi menteri atau dirjen, juga turun gunung dan mendaftarkan diri jadi Caleg dengan harapan bisa terpilih lalu duduk di kursi empuk di markas wakil rakyat di Senayan.

Kita khawatir, begitu para mantan itu terpilih dan duduk di DPR, mereka bisanya hanya bengong, plangah…plongoh…tak tau mau bicara apa karena memang bidangnya mereka bukan disana.

Belum lagi sebagian dari Caleg itu merupakan mantan terpidana korupsi yang dengan bangga membawa map berisikan data-data pribadi, sembari mengenakan baju kebanggaan partai yang mengusungnya. Mau jadi apa lagi mereka itu, besar kemungkinan akan mengulang kejahatannya.

Pertanyaan kita, apakah mereka yang ramai-ramai ingin menjadi anggota DPR, tau persis tugas pokok dan tugas utamanya jika nanti terpilih menjadi anggota dewan? Atau hanya karena ingin terkenal atau tergiur oleh glamournya professi tersebut.

Atau jangan-jangan tergiur oleh harta karena sebagai anggota dewan, selain fasilitas mewaqh dari pemerintah, juga tidak jarang bahkan sering mendapat proyek-proyek yang mendatangkan rupiah bahkan dolar dalam jumlah banyak.

Artinya, menjadi anggota DPR, selain merupakan pekerjaan, sekaligus lahan untuk memperkaya diri. Idealisme yang dituntut dari seorang anggota dewan jangan-jangan sudah sirna dan diganti dengan sikap yang sudah materialistis.

Menumpuk Kekayaan

Dengan berbagai cara sebagai anggota DPR akan ditempuh untuk menumpuk kekayaan dan sebagai anggota DPR sangat memungkinkan melakukan hal itu karena sedang berkuasa. Hidup matinya negeri ini kana da di tangan mereka, jadi tidak jarang mereka itu ditakuti kalangan eksekutif.

Periode kali ini, Senayan akan diisi oleh mereka para mantan. Mantan terpidana korupsi, mantan artis, mantan menteri, mantan preman, mantan dirjen, mantan penjahat, mantan cagub dan juga mantan cabup.

Mereka para mantan ini akan bergabung dalam satu atap dengan motto ingin membela rakyat. Tapi apakah benar nanti setelah para mantan itu terpilih jadi anggota legislatif akan benar-benar membela rakyat, atau hanya membela partainya atau membela pundi-pundinya.

Akankah terjaring anggota dewan yang punya rasa idealisme yang tinggi dan benar-benar memperjuangkan nasib rakyat.  Bukan seperti yang terjadi akhir-akhir ini, sebagian besar dari anggota DPR, tidak pernah berbuat untuk kepentingan rakyat, bahkan ikut serta membuat rakyat menderita.

Banyak anggota dewan saat ini bukan lagi alat pemersatu, tapi sudah menjadi alat pemecah belah persatuan. (penulis seorang wartawan)

 

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar