Rela Saling Mendoakan

Oleh : Bambang Sutiyono

Ilustrasi

Ilustrasi

Dusun Tambak Rejo RW 16, Kelurahan Tanjungmas, Kota Semarang kedatangan tamu. Tidak main-main. Yang hadir adalah representasi Gubernur Jawa Tengah, Direktur SDM mewakili Dirut Pertamina, Rektor Universitas Negeri Semarang, Bupati Boyolali, Bupati Blora, Walikota Tegal, Walikota Semarang dan boleh jadi, komplit njerit dengan serombongan pengiring resminya, protokoler sebagai pejabat Negara.

Beralasan, karena mereka sedang menandai, dimulainya penerapan program Corporate Social Responsibility (CSR). Tanggung jawab sosial perusahaan, kepada masyarakat. Di mana Universitas Negeri Semarang (UNNES) sebagai pelaksana kegiatan, serta Pertamina sebagai penyedia anggaran akan membantu pembangunan Desa Binaan di Kota Semarang, Kota Tegal, Kabupaten Blora dan Kabupaten Boyolali meliputi bidang infrastruktur, kesehatan, pendidikan anak, dan usaha kecil mikro.

Bung…, kerja sama tentu tidak sama dengan kerja bersama-sama. Pada bekerja bersama-sama, dapat saja kita hadir di tempat yang sama, waktu yang sama, pekerjaan yang sama. Tapi sesungguhnya kita hanyalah sama-sama bekerja. Karena dalam kerja sama dibutuhkan niat yang sama, manajerial yang disepakati bersama dan tujuan serta ukuran hasil akhir yang sama pula.

CSR adalah sebentuk simbiosis mutualistis, antara Pemerintah Daerah, BUMN, Akademisi, Kelurahan, Lembaga Pemberdayaan Masyarakat dan tentu saja rakyat, dalam aksi kerja sama paripurna, membangun bersama-sama.

Dari sana, boleh jadi dapat ditarik pelajaran, bahwa falsafah Gotong Royong, masih pantas, kalaulah kita kembangkan. Sebab “Siapapun yang melihat ketimpangan, maka ia wajib meluruskan dengan tangan, lidah atau paling tidak dengan hatinya.”

Bung, ingatkah Engkau pada pesan guru kita, dulu..? Ketika beliau mengisahkan tentang anak ayam yang menciap-ciap, mencari induknya? Lantas kita katakan, “Kasihan, anak ayam itu”. Satu lagi, kisah tentang mereka yang berkelahi, gara-gara selisih paham. Itupun kita bilang, “kasihan deh lo”. Lantas, guru kita berpesan, “Jangan cuma kasihan, cobalah ditambah dengan mendoakan agar anak ayam itu segera bisa ketemu induknya.”

Demikian pula yang selisih paham, semoga cepat sadar. Bahwa negeri ini dibangun di atas landasan Bhineka, namun harus tetap Tunggal Ika. Bukan berputar kata dalam debat panjang. Lebih elok, bila kita rela saling mendoakan, dalam rengkuhan sifat Illahiyah. Karena ke sana pulalah kita akan bermuara. Bung, salamku untuk mbakyu…!! ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar