Resesi Ekonomi Indonesia Sudah di Ambang Pintu

Oleh; Sabar Hutasoit

 

SUDAH ada ultimatum kalau mulai bulan Oktober 2020, perekonomian Indonesia dapat dipastikan akan masuk jurang resesi. Sepertinya keadaan yang tidak mengenakkan ini sudah tidak bisa lagi ditampik mengingat data-data penunjang ekonomi nasional-pun telah mengalami penurunan.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati pernah berkata kalau proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III berada di kisaran minus 2,9% sampai minus 1%. Sementara untuk seluruh tahun 2020 berada di kisaran minus 1,7% sampai minus 0,6%.

Berdasarkan angka-angka tersebutlah Menkeu yakin betul kalau ekonomi Indonesia akan masuk jurang resesi bahkan sulit bagi ekonomi Indonesia keluar dari jurang resesi tersebut.

Tidak hanya Sri Mulyani yang yakin kalau ekonomi Indonesia pasti masuk jurang resesi. Para pengamat ekonomi dan juga kalangan bank dunia-pun tidak beda dengan Menkeu, Mereka juga memastikan di Indonesia akan terjadi resesi ekonomi. Mengerikan!

Tidak bisa dibayangkan akan seperti apa keadaan rakyat Indonesia ini nantinya jika benar-benar resesi ekonomi melanda bumi pertiwi yang sama-sama kita cintai ini. Pandemi virus Corona saja masih menggerogoti kehidupan warga Indonesia dan masih belum sirna, sudah ada pula ancaman resesi yang lebih menakutkan lagi.

Jika melansir Forbes, 1 September 2020, resesi adalah merupakan penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan. Bisa berlangsung  berbulan-bulan, bisa juga bertahun-tahun.

Para ahli penah berkata kalau resesi dimaksud terjadi ketika ekonomi suatu negara mengalami produk domestik bruto (PDB) negatif, tingkat pengangguran meningkat, penjualan ritel turun, serta ukuran pendapatan dan manufaktur menyusut dalam jangka waktu yang lama.

Lalu apa penyebab resesi? Ada lebih dari satu penyebab untuk memulai resesi. Mulai dari guncangan ekonomi yang tiba-tiba, hingga dampak inflasi yang tak terkendali. Berikut beberapa pendorong utama terjadinya resesi:

Guncangan ekonomi yang tiba-tiba. Guncangan ekonomi merupakan masalah kejutan yang menimbulkan kerusakan finansial serius. Wabah virus Corona yang mematikan ekonomi seluruh dunia, menjadi contoh terbaru dari guncangan ekonomi yang tiba-tiba.

Utang yang berlebihan. Saat individu atau bisnis mempunyai terlalu banyak hutang, biaya membayar hutang dapat meningkat ke titik di mana penghutang tak dapat membayar tagihannya.

Deflasi Meskipun inflasi tak terkendali dapat membuat resesi, deflasi bisa menjadi lebih buruk. Deflasi terjadi saat harga turun dari waktu ke waktu, menyebabkan upah menurun dan menekan harga.

Perubahan teknologi. Penemuan baru meningkatkan produktvitas dan membantu perekonomian dalam jangka panjang, tapi mungkin terdapat periode penyesuaian jangka pendek untuk terobosan teknologi.

Apa dampaknya pada masyarakat? Inflasi yang tak terkendali membuat daya beli masyarakat menurun, menyebabkan pertumbuhan ekonomi semakin terpuruk.

Selain itu, resesi dapat meningkatkan angka pengangguran dan kemiskinan, juga berdampak langsung terhadap daya beli masyarakat yang menurun. Hal ini mengartikan kebutuhan masyarakat dan pendapatan tak sebanding.

PHK

Tidak tertutup juga kemungkinan kalau resesi dapat menimbulkan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di berbagai sektor usaha dan industri. Kalau hal ini semua terjadi tidak tertutup kemungkinan akan muncul tindakan-tindakan kriminal, penjarahan dan tindakan-tindakan pidana lainnya, termasuk kerusuhan.

Pasalnya untuk mempertahankan kehidupan akan sangat sulit, sebab mencari uang jadi tidak mudah, sembako juga sulit ditemukan dan kalaupun ada harganya akan melejit

Kalau begitu apa yang bisa dilakukan?

Bisnis di bidang digital menjadi salah satu hal yang menjanjkan di masa sulit, lantaran masyarakat banyak memenuhi kebutuhan melalui platform digital. Beberapa cara bertahan saat resesi, seperti melindungi sumber penghasilan.

Sebagai karyawan, sebaiknya tidak agresif pindah pekerjaan sebelum ada kepastian bahwa pekerjaan yang baru lebih stabil. Sementara sektor usaha, pertimbangkan rencana ekspansi.

Presiden Joko Widodo menyebut salah satu cara mencegah terjadinya resesi ekonomi adalah dengan bersedianya warga Indonesia belanja produk-produk buatan dalam negeri. Hentikan belanja barang-barang impor.

Dengan belanja di dalam negeri dan menghentikan beli barang impor, devisa Indonesia tidak akan keluar kemana-mana namun tetap tinggal di Indonesia.

Kalau demikian, guna mewujudkan harapan Jokowi tersebut, produsen barang-barang nasional harus bisa meningkatkan mutu produk dengan harga yang terjangkau.

Mengutip ucapan Budiman Sudjatmiko, Ketua Umum Inovator 4.0 Indonesia, saat ini katanya banyak uang perusahaan menengah yang beredar di luar namun tidak berkembang.

Industri mereka tak bisa mendarat. Bensinnya banyak, tapi dimasukin ke mobil yang mesinnya rusak. Itu kan percuma juga, enggak jalan. Ini harus ditaruh di mana dong kalau gitu. Seharusnya dialokasikan ke masyarakat karena masyarakat memiliki jejaring sosial yang mampu mengaktifkan kegiatan kelompoknya.

Uang-uang orang kaya ini masukin ke masyarakat. Kenapa ? Karena mereka ada social network, ada jaringan kerja, ada jejaring sosial. Jejaring sosial inilah bisa mengaktifkan aktivitas ekonomi.

Hal tersebut bisa membuat perekonomian Indonesia kembali stabil dan perusahaan kembali berkembang maka resesi ekonomi akan bisa ditampik. (penulis adalah seorang wartawan, tinggal di Jakarta)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar