“Rewriting The Rules”

Oleh: Fauzi Azis

Ilustrasi

Ilustrasi

TANGGAL 20 Mei dan 01 Juni telah kita lewati. Kita semua pasti tahu tentang kedua tanggal tersebut yaitu hari kebangkitan nasional jatuh pada 20 Mei 2011 dan hari lahirnya Pancasila 1 Juni 2011. Semua negarawan, politisi dan media, dibuat sibuk dengan dua peristiwa bersejarah tersebut karena memang patut difahami makna filosofinya, historikanya dan syukur ada yang telah menyiapkan konsep-konsep dasar untuk dioperasionalkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kalau kita sepakat dan sadar sesadar-sadarnya bahwa kebangkitan itu penting, maka di balik itu kita berarti mengakui bahwa sebagai negara, bangsa kita pernah mengalami keterpurukan. Terpuruk dalam kehidupan politik, terpuruk di bidang ekonomi, bahkan kita juga terpuruk di bidang budaya dan pertahanan negara.

Jujurlah, nggak apa-apa, hal ihwal keterpurukan ini harus kita akui memang terjadi dan rasanya para elite di negara ini sedang berjuang keras untuk kembali bangkit dengan berbagai daya upaya, baik di bidang politik, hukum, ekonomi dan bidang-bidang lain termasuk bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Namun, fenomena kebangkitan tadi harus berdiri di pijakan yang kokoh dan mengakar dalam segenap denyut nadi kehidupan masyarakat Indonesia. Pijakan tadi harus mengacu pada landasan yang jelas yaitu Pancasila sebagai landasan ideologi dan UUD 1945 sebagai landasan konstitusionalnya.

Visi dan misi pemerintah dalam mengelola negara, mutlak harus berpedoman pada landasan ideologis dan konstitusi tersebut. Kebangkitan nasional dan peringatan lahirnya Pancasila 1 Juni 2011 yang baru berlalu dan kemudian kita bertemu lagi di tahun berikutnya dalam peringatan yang sama dan kemudian berlalu lagi.

Para pemimpin di negeri ini yang sekarang mendapat mandat menjadi para CEO, harus menjadi tokoh sentral untuk melakukan perubahan dan pembaharuan. Merekalah seharusnya melakukan Rewriting The Rules dan juga bahkan yang melakukan renewable of life (perubahan pola pikir dan pola tindak, sikap hidup) untuk menjadikan bangsa Indonesia lebih baik dan berdiri sederajad di antara bangsa-bangsa lain di dunia.

Proses ini tidak dapat disusun dengan cara hanya sekedar untuk mengakomodasi, karena dunia telah berubah dan terjadi globalisasi. Ada atau tidak ada globalisasi, perubahan harus dilakukan, menata kembali kehidupan berbangsa dan bernegara juga harus dijalankan, baik yang terkait dengan aspek struktur, maupun sistem di bidang politik, hukum, ekonomi dan otonomi daerah. Desentralisasi tidak cukup hanya dilakukan dalam kaitan desentralisasi kekuasaan politik dan fiskal semata, tapi lebih dari itu, yaitu desentralisasi di bidang ekonomi untuk merespon sistem demokrasi ekonomi. Pemikiran ini disampaikan dengan suatu landasan pikir bahwa kerangka struktur kelembagaan dan sistem yang dihasilkan selama ini masih mengandung kelemahan.

Contoh konkritnya, banyak UU yang dibuat menempatkan UUD 1945 hanya dalam diktum menimbang saja, tapi isinya tidak bisa dijamin sebagian atau seluruhnya sesuai dengan semangat yang terkandung dalam UUD 1945 dan Pancasila. Materi pengaturannya bisa tumpang tindih dan kurang netral terhadap kepentingan nasional.

Tidak ada salahnya dan tidak usah takut dikatakan mundur kalau negeri ini rasanya perlu memiliki GBHN, peran lembaga legislatif perlu dibatasi, demikian pula sistem kepartaian yang ada sekarang ini sangat tidak sehat untuk dilanjutkan karena fungsinya hanya dipakai untuk kendaraan meraih kekuasaan semata tanpa dibarengi dengan kontribusi nyata dalam melakukan perubahan dan pembaharuan.

Dan dalam beberapa hal, nampak tidak ada sedikitpun semangat idealisme, kecuali transaksional. Katakan ya kepada ya dan katakan tidak kepada tidak. Artinya, bagi pekerjaan yang belum baik dan tidak benar harus dikoreksi dan disempurnakan. Semangat perubahan dan pembaharuan harus secara konsisten kita jalankan sesuai dengan semangat Pancasila dan UUD 1945 dan tata nilai budaya yang hidup di masyarakat dari NAD sampai Papua. Tema besarnya adalah menata kembali aturan main, dan memperbaharui cara hidup kita. Rewriting The Rules and Renewable Of Life. Bangkitlah negeriku. ***

Berita Terkait

  1. maka itu kt pilih pemimpin yg pro rakyat

    Reply
  2. Bagaimana indonesia bisa maju,, wonk fasilitas yang sudah ada saja di biarkan ambruk.

    Reply
  3. Borneo Merdeka 5 Juni 2011, 02:28

    Pancasila adalah ideologi jawa…
    dan Indopahit (indonesia majapahit)

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published.