Risiko Sistemik Defisit APBN dan Transaksi Berjalan

Oleh: Fauzi Aziz

 

PERTAMA, not easy but very hard ketika dua tema besar ekonomi kita persandingkan. Keduanya adalah soal defisit anggaran dan defisit neraca transaksi berjalan. Reputasi sebuah kebijakan adalah taruhannya.

Kedua tema tersebut adalah nafas kehidupan dalam berekonomi karena tanpa APBN dan ekspor barang dan jasa yang, ekonomi bisa babak belur. Keduanya  bicara tentang pendapatan dan belanja. APBN bicara soal pendapatan negara dan belanja negara. Sedangkan neraca transaksi berjalan bicara tentang pendapatan ekspor barang dan jasa, dan belanja impor barang dan jasa.

KEDUA, menjadi menarik perhatian karena jika terjadi defisit ganda, maka ini pertanda buruk bagi perekonomian. Defisit APBN harus ditutup dengan utang. Defisit transaksi berjalan dicoba diimbangi dengan transaksi modal dan transaksi finansial.

Para pujangga ekonomi berujar bahwa jika berekonomi, maka pinter-pinterlah menghimpun pendapatan agar bisa menjadi kaya dan gunakan sebagian dari pendapatan tersebut untuk mencukupi berbagai kebutuhan, baik kebutuhan rutin maupun untuk mencukupi kebutuhan pembangunan dan investasi.

KETIGA, pendapatan itu adalah segala-segalanya, baik yang bersumber dari dalam negeri maupun yang berasal dari luar negeri. Risiko sistemiknya bisa terjadi bila kita gagal menghimpun pendapatan. Kalaupun berpendapatan ,tapi karena belanjanya masih lebih tinggi, maka terjadilah defisit.

Defisit yang berkelanjutan menjadi ancaman serius bagi perekonomian sebuah negara berdaulat. Risiko sistemik yang paling nyata adalah terjadi pailit dan kebangkrutan. Penyebabnya adalah karena defisit berkelanjutan.

Pendapatan APBN habis terpakai untuk membiayai belanja rutin, dan devisa hasil ekspor barang dan jasa terpakai untuk membiayai impor barang dan jasa. Untuk bayar utang, terpaksa harus berhutang. Bahkan penerimaan dalam negeri-pun harus dikorbankan untuk bayar utang yang akibatnya nilai tukar rupiah terpuruk karena ditukar dolar AS atau valas lain untuk bayar utang.

Tutup Defisit

KEEMPAT, para moneteris berpendapat bahwa coba tutup defisit transaksi berjalan dengan undang modal asing masuk. Oke kita ikuti  sarannya dan modal asing itu menurut pak Soros bisa masuk melalui tiga saluran, yaitu dalam bentuk kredit/pinjaman luar negeri, investasi portofolio, FDI menjadi pilihan terakhir.

Dewasa ini yang banyak  masuk adalah pinjaman luar negeri dan sekarang telah 41 terhadap PDB berupa utang publik dan swasta, investasi portofolio yang dananya hilir mudik sak enake dewe dan konon asing menguasai sekitar 40% dalam transaksi finansial di dalam negeri. Untuk FDI banyak yang wait and see karena investasinya bersifat jangka panjang , berisiko tinggi , yieldnya rendah dsb.

Dengan begitu berarti bahwa  modal asing yang masuk dengan dominasi dalam bentuk kredit dan investasi portofolio , secara struktural belum bisa menjadi penyeimbang, khususnya untuk menutup defisit transaksi berjalan. Bahkan  pinjaman luar negeri malah menjadi beban ekonomi nasional.

KELIMA, utang luar negeri jelas merupakan faktor kritis dalam pemulihan ekonomi Indonesia. Jika utang luar negeri tidak dapat diatasi  maka Indonesia akan berpotensi  menghadapi ancaman  besar ekonomi seperti prediksi WEF dan Menteri Keuangan RI mengamini prediksi tersebut.

Penulis kutip dua aspek ancaman tersebut yakni krisis utang dan kegagalan menstabilkan harga. Keuangan negara dan perusahaan kewalahan oleh akumulasi utang dan/atau pembayaran utang. Ancamannya adalah mengakibatkan gagal bayar, krisis likuiditas, krisis utang negara dan ujungnya adalah pailit.

Soal harga komoditi digambarkan dengan situasi ketidak mampuan untuk mengontrol kenaikan harga, dan penurunan harga yang tidak terkendali pada tingkat harga umum barang dan jasa. Indonesia jelas menghadapi situasi itu sekarang ini karena Indonesia punya problem utang dan ketergantungan terhadap ekspor komoditas.

Belum Berhasil

KEENAM, jika itu problemnya, maka risiko sistemik bisa terjadi  dari satu keadaan dimana Indonesia belum sepenuhnya berhasil mengelola sumber sumber pendapatannya dengan baik. apakah berasal dari sumber pendapatan dalam negeri maupun pendapatan dari luar negeri.

Modal asing bukan merupakan sumber pendapatan luar negeri. Yang murni menjadi sumber pendapatan luar negeri adalah Devisa Hasil Ekspor barang dan jasa. Jika DHE-nya surplus, maka Indonesia akan memilki kapasitas untuk minimal mencapai tiga tujuan finansial  yakni : 1) bisa dipakai pengembangan investasi dan re- investasi. 2) membiayai impor 3) melunasi utang.

KETUJUH, sedang APBN yang surplus, Indonesia memiliki kemampuan secara mandiri untuk membiayai belanja rutin, progam sosial, pendidikan , kesehatan dan pelayanan publik seiring dengan arah politik ekonomi nasional menuju terbentuknya negara kesejahtaraan pada 2045.

Investasi pemerintah dilakukan melalui LPI sehingga pos belanja modal keluarkan saja dari APBN agar tidak double account. Urus BUMN dengan baik jangan dipakai bancaan. Percepat pengembangan keuangan inklusif dengan memobilisasi dana masyarakat untuk dikelola sebagai sumber dana investasi mandiri, baik untuk keperluan investasi langsung maupun investasi portofolio.

Indonesia salah langkah memberi kewenangan terlalu besar kepada kementrian keuangan yang ujungnya bolak balik konsultasi dan minta di supervisi oleh IMF dan World Bank soal pengelolaan utang. Ubah segera UU tentang Keuangan Negara dan Perbendaharaan Negara untuk mencapai tujuan tersebut.

Pun segera diubah UU tentang BI agar bisa manuver lebih luwes dalam memberikan dukungan pada pembangunan ekonomi nasional. Kembalikan saja fungsi kontrol perbankan oleh Bank Sentral seiring dengan rencana BI untuk menerbitkan Central Bank Digital Currency (CBDC) atau mata uang rupiah digital. Termasuk dalam pengendalian cryptocurrency.

KEDELAPAN, sebagai diskursus, defisit neraca transaksi berjalan sejatinya adalah  merupakan fenomena sektor riil. Ekspor Indonesia tahun 2000 mencapai 41% terhadap PDB. Sejak tahun 2018 hingga kini turun hingga berada pada kisaran 21% terhadap. PDB. Turun separoh. Dapat di mengerti jika kemudian kontribusi sektor manufaktur tertekan dan sementara ini terpatri di angka 19%.Jika defisit transaksi berjalan terus berlangsung dan terjadi sejak tahun 2011, kemudian tidak bisa diredam dan kian melebar, maka instrumen berbasis rupiah menjadi tidak menarik dan risiko rugi kurs bagi investor asing semakin melebar. Dampaknya pasti akan menimbulkan gangguan pada neraca modal dan neraca finansial.

Inilah risiko sistemik jika defisit APBN dan defisit tidak bisa diredam dan kian melebar. Jadi sekali lagi betul bahwa  current account defisit (CAD) adalah murni menjadi fenomena sektor riil, bukan fenomena moneter maupun fiskal. (penulis adalah pemerhati ekonomi dan industri, tinggal di Jakarta)

Berita Terkait

Komentar

Komentar