Road Map Pendidikan Indonesia

Oleh : Afri Apriyanto

Ilustrasi

Ilustrasi

MENJELANG Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei 2011, Indonesia masih berkutat dengan persoalan tentang pola dan program pendidikan/kurikulum yang pas, bagi rakyat Indonesia hingga turun program pendidikan berkarakter yang dicanangkan mulai tahun 2011 ini.

Carut marutnya dunia pendidikan di Indonesia, sangat disayangkan sekali dan dapat merusak pola pengajaran yang sudah ada. Malaysia yang dulu belajar dari Indonesia, kini memiliki program dan pola pengajaran yang terarah dan lebih baik dibandingkan Indonesia.

Dari segi anggaran, terhitung mulai dari 2010, undang-undang memerintahkan pemerintah untuk mengalokasikan dana APBN bagi pengembangan pendidikan 20% dari total anggaran negara untuk membiayai biaya pendidikan Indonesia.

Katakanlah Rp 1.000 triliun APBN, Rp 200 triliun diwajibkan untuk membiayai pendidikan Indonesia. Misalnya Rp 100 triliun untuk membiayai gaji dari seluruh pegawai yang terkait dengan dunia pendidikan, masih tersisa dana yang cukup untuk membangun dan melengkapi kualitas dari sarana dan prasarana pendidikan.

Tetapi, mengapa masih ada sekolah yang roboh, tanpa atap ataupun kekurangan tenaga pengajar? Sebuah ironi yang terjadi di depan mata kita sendiri! Kualitas tenaga pendidik juga memegang peranan penting dalam peningkatan mutu pendidikan Indonesia.Yang terjadi saat ini, guru hanya mengejar selembar kertas sertifikasi, bukan meningkatkan kualitas mutu pribadi. Demi meningkatkan gengsi dan gaji serta tunjangan mengajar.

Banyak kasus, siswa keluar dari sekolah, mengakhiri hidup secara tragis atau melakukan tindakan kriminal, karena tidak mampu membayar biaya sekolah. Dari pihak keluarga murid sendiri, juga memegang peranan penting dalam meningkatkan kualitas pribadi murid. Ada sebagian keluarga yang peduli, dan ada pula yang acuh tak acuh. Keluarga yang berperan dalam pendidikan moral dan karakter, terkadang memberikan contoh yang tidak diharapkan. Padahal murid menghabiskan separuh waktunya di rumah.

Dapat dibayangkan bagaimana perilaku murid di sekolah, bila keluarga memberikan contoh yang negatif. Tawuran, berkelahi, berani dengan guru dan tindakan asusila merupakan realita dari perilaku keluarga yang tidak kondusif dengan perkembangan psikologi murid. Dan realita ini telah terjadi di sekitar kita.

Globalisasi dan perkembangan teknologi, tidak bisa dijadikan kambing hitam penyebab penurunan moral murid Indonesia. Keluarga sebagai tempat bernaung murid, semestinya mampu untuk memberikan rambu-rambu dan larangan dalam akses dan pergaulan. Tetapi mereka sibuk dengan urusan pribadi, tanpa mau meluangkan waktu untuk bersosialisasi dan mendengarkan keluhan dari murid atau anak mereka sendiri.

Lingkungan sekolah, sebagai tempat belajar, mestinya mengakomodir kemampuan dan keinginan dari murid dengan aturan yang pas tanpa melanggar hak-hak mereka. Kemampuan sekolah yang terbatas, bukan sebagai alasan untuk membiarkan murid berbuat liar tanpa kendali. Ketegasan dan pengakuan murid atas guru dan almamaternya, merupakan penghormatan yang tak ternilai harganya. Dan ini jarang dimiliki oleh sekolah atau guru.

Dan tentu saja, karakter pribadi dari siswa, yang membuat semua tindakan yang dilakukan menjadi lebih berarti dan berakhir dengan hasil yang positif. Selamat hari Pendidikan Nasional 2011. Semoga bertambah dewasa dan memahami arti dan makna pendidikan yang sesungguhnya. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar