Road to ASEAN FTA 2015

Oleh: Fauzi Aziz

Fauzi Aziz

Fauzi Aziz

BELAJAR, berlatih, bekerja keras dan menjaga kekompakan. Inilah modalitas atau bekal untuk menuju meraih prestasi gemilang pada laga ASEAN FTA tahun 2015 yang berarti tinggal 3 tahun lagi. Berarti harus memerlukan persiapan yang matang. Menyiapkan kondisi domestik yang menyehatkan secara politik, ekonomi, sosial, budaya, serta ketertiban dan keamanan agar tidak menimbulkan kerawanan dan keguncangan sosial dan ekonomi.

Sikap kita sebagai bangsa adalah bersifat final dan tidak bisa ditawar-tawar untuk menyiapkan kondisi domestik. Peringkat untuk menjadi negara dengan PDB nomor 7 di dunia pada tahun 2030 sudah dita ngan, meskipun masih dalam tahap perkiraan. It is a momentum yang harus disikapi bersama secara baik dan terkelola. Kuncinya adalah produktivitas, efisiensi, daya saing dan managable.

Basi kelihatannya, tapi kalau kita belajar dari sukses yang diraih oleh bangsa lain di dunia dalam membangun peradabannya, faktor kunci itu tidak pernah tidak ada sebagai standar minimum. Di luar itu, tentu masih banyak faktor yang bisa memengaruhinya, seperti tata nilai berdasarkan kearifan lokal yang berlaku di masyarakat dan agama dan jika dipakai akan menjadi energi positif untuk memajukan sebuah peradaban.

Soal belajar, berlatih, dan bekerja keras, secara relatif bangsa ini sudah kenyang. Bayangkan kita belajar, berlatih, dan bekerja keras sudah dari zaman sebelum merdeka. Zaman Majapahit, kita pernah berjaya sampai mempunyai pengaruh di kawasan Semenanjung Malaka, lintas wilayah dan lintas negara. Di bidang ekonomi, sebelum krisis tahun 1998, Indonesia pernah mengalami zaman keemasanya, meraih tingkat pertumbuhan ekonomi di atas 7% rata-rata per tahun.

Jika kita buka kembali sejarah, maka semua itu terjadi karena di dalam negeri dilakukan persiapan dengan matang. Kita kenal doktrin berdikari di zaman Bung Karno. Kita tahu ada GBHN dan Repelita pada zaman Orba, dan sekarang ini ada MP3EI. Semuanya dilakukan dengan tujuan yang sama, yaitu membangun kemandirian sebagai bangsa.Yang beda hanya caranya.Yang berbeda kebijakan, strategi dan progamnya. Dan semuanya dengan kelebihan dan kekurangannya pasti menghasilkan capaian kinerja yang tidak bisa disamaratakan.

Kekompakan

Berkat belajar, berlatih, dan kerja keras semuanya bisa diraih sesuai dengan prestasi di zamannya. Yang belum ada adalah kekompakan.Yang belum berhasil adalah kerja sama, kerja bersama dan koordinasi.Yang masih karut-marut adalah poltik dan hukum. Orang bilang gaduh, transaksional, abal-abal. Jadi soal law and order yang masih perlu banyak dibenahi.

Dalam konteks yang seperti ini, masalah utama yang masih mengganggu pikiran kita kalau mau disederhanakan cuman satu, yaitu “kepemimpinan dan manajemen”. Misi utamanya adalah mengonsolidasikan seluruh unsur kekuatan komponen bangsa dan menjadi sebuah tim kerja yang kompak dan solid.

Soal belajar, berlatih, dan bekerja keras, rasanya tidak boleh berhenti, karena di sepanjang waktu memang tetap dibutuhkan oleh bangsa manapun. Road to ASEAN FTA tahun 2015 di dalam negeri memang membutuhkan persiapan yang matang untuk bisa meraih sukses. Semua berpulang kepada kita sendiri. Yang bisa membangun dan memajukan sebuah peradaban adalah kita semua sebagai bangsa. Yang pada akhirnya bisa memporakporandakan sebuah peradaban juga bukan siapa-siapa, kecuali bangsa kita sendiri.

Pilihan yang baik selalu hanya ada dua, yakni menjadi pemenang atau menjadi pecundang. Menjadi beradab atau tidak beradab. Mengakhiri kehidupan dengan baik atau mengakhiri kehidupan dengan buruk. Semoga kita sukses di FTA ASEAN tahun 2015. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar