Ruhut: Saya Bukan Kutu Loncat

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

JAKARTA, (Tubas) – Siapa yang tidak kenal dengan Ruhut “Poltak” Sitompul. Gayanya yang eksentrik, kontroversial dan kocak memudahkan orang mengingat anggota DPR dari Partai Demokrat yang satu ini. Pria kelahiran Medan 24 Maret 1954 mengaku sudah jompo, sudah bau tanah tinggal menunggu dipanggil Tuhan yang mahakuasa.

Dalam berpolitik Ruhut tampil beda. “Semua orang tahu dulu saya kader Golkar dari mulai pengurus kecamatan sampai tingkat nasional. Tapi saya belum pernah menikmati hasil dari golkar, karena saya seorang idealis. Tetapi saya puas di era Reformasi Golkar kalah tetapi tahun 2004 Golkar bangkit kembali” ungakpnya.

Ruhut mengaku dalam dalam hidup tidak pernah abu-abu. Pilihannya hitam dan putih. Semua orang kenal Ruhut sebagai artis sinetron “Gerhana” sebagai si Poltak Raja minyak dari Medan.

Sebagai manusia Ruhut punya rasa kecewa. Ruhut mengakui Akbar Tandjung pahlawan Golkar. Dia sedih konggres Golkar di Bali Akbar disingkirkan dengan tidak fair. Oleh karena itu dengan berat hati menemui Akbar Tajung dan menyatakan mundur dari partai Golkar.Banyak orang sinis terhadap langkah Ruhut “Poltak” Sitompul yang loncat ke Partai Demokrat. “Saya bukan kutu loncat” katanya.

Ruhut masih ingat betul pertemuannya dengan Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tahun 2005 melalui Ketua Umum Partai Demokrat Hadi Utomo. “Saat itu SBY mengatakan Partai Demokrat menang tujuh persen dan berpesan agar supaya satu orang membawa satu orang supaya PD bisa menang 14 %,” kenangnya. Ruhut merasa tertantang dengan harapan SBY itu.

Tidak hanya itu kenangan Ruhut. Dalam sebuah pertemuan di Cikeas, SBY minta di Partai Demokrat juru bicaranya Ruhut Sitompul, Andi Malarangeng dan Anas Urbaningrum ” Saya kaget ketika SBY menambahkan dalam suasana seperti ini kita perlu Ruhut Sitompul” ungkapnya. (rudi kosasih)

Humbanghas
Humbanghas

Berita Terkait

Komentar

Komentar