Rukun Agawe Santoso

indexbbbbbbbbb

Oleh:Fauzi Aziz

JUDUL ini adalah ungkapan dalam bahasa Jawa yang dalam bahasa Indonesia  maksudnya kira-kira kerukunan akan membuat kehidupan ini menjadi sentosa. Rasanya semua sepakat dengan pesan moral tersebut. Yang tidak sepakat hanya orang-orang yang tidak waras.

Rukun adalah modalitas pembangunan. Sentosa adalah tujuan pembangunan. Secara konseptual yang tersirat berarti jika kita tidak pernah rukun sebagai modal dalam proses pelaksanaan pembangunan, maka jangan berharap negeri ini akan menjadi aman dan tenteram.

Proses yang bergejolak dan terus berulang setiap waktu akan menjadi tidak produktif bagi pelaksanaan pembangunan. Artinya jangan terlalu berharap bila kehidupan masyarakat selalu bergejolak dan sampai menimbulkan konflik, negeri ini akan aman dan tenteram. Dampaknya buruk karena menghambat jalannya roda pembangunan.

Aman, tenteram tanpa ada konflik adalah iklim paling baik bagi upaya perbaikan kehidupan masyarakat. Pemimpin dan tokoh masyarakat yang gemar membuat gaduh dan senang melihat jika masyarakatnya bergejolak,  itu adalah orang-orang yang tidak waras. Mereka patut dijewer karena menciptakan distabilitas. Oleh sebab itu, pemimpin dan para tokoh masyarakat dituntut pandai mengelola kerukunan, bukan pandai memanajemeni konflik.

Kita tidak usah munafik, karena faktanya secara sosial masyarakat kita masih mudah “bergejolak” dalam berbagai riak gelombang yang terjadi karena banyak faktor,  yang salah satunya adalah ketidakadilan. Nasionalisme memudar sejak globalisasi dan digitalisasi. Di antara kita pasti ada yang merasa bangga telah menjadi bagian dari masyarakat global karena lingkungannya memungkinkan sehingga bangsa ini juga menghadapi tantangan dalam menggalang semangat nasionalisme warganya.

Kerukunan di negeri ini harus dipelopori para pemimpin, tokoh masyarakat karena suri tauladan sesuai budaya kita harus dimulai dari atas. Pengamalan Pancasila juga harus dimulai dari atas. Jangan menyuruh masyarakat mengamalkan Pancasila, tetapi para pemimpin dan elit bangsa negeri ini justru tidak Pancasialis.

Kita mempunyai problem kebangsaan, paling tidak sulit berkonsolidasi padahal hidup di era globalisasi dan digitalisasi, kita membutuhkan keterpaduan dan kerjasama untuk menghadapi persaingan. NKRI memerlukan kerukunan dan kebersamaan. Jika tidak, maka menjadi sebuah ancaman persatuan dan kesatuan.

Demokrasi kita bukan liberal tetapi demokrasi Pancasila. Ekonomi kita juga bukan ekonomi liberal, tetapi ekonomi konstitusi yang terpimpin secara idiologis dan strategis oleh nilai-nilai Pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum yang harus ditegakkan.

Rukun agawe santoso adalah filosofis. Berbangsa dan bernegara harus tunduk pada sebuah idiologi, yakni Pancasila. Kalau dewasa ini kita menjadi pragmatis, maka berarti bangsa ini dididik untuk menjadi bangsa yang tidak berfalsafah atau tidak mempunyai idiologi sehingga mudah dibentur-benturkan satu sama lain.

Ancaman paling nyata adalah mengurus negeri ini dilaksanakan secara transaksional. Membuat aturan main berbangsa dan bernegara seenaknya sendiri tanpa visi dan misi yang dipandu secara idiologis. Perpecahan di antara komponen bangsa adalah hal yang sangat ditunggu oleh pihak luar yang ingin “menginvasi” Indonesia untuk menguasai aset bangsa.

Ini bisa terjadi karena pemimpin dan elitnya bersikap pragmatis dan transaksional.

Masyarakat kita sekarang ini gampang marah. Mudah marah adalah pintu gerbang masuknya iblis sehingga mudah ditarik ke lingkungan yang mudah memanas yang ujungnya berantem dan paling bahaya kalau sudah bersifat SARA.

Rukun agawe santoso adalah falsafah jawa yang universal.Dan ini baik jika yang tersirat bisa difahami dengan baik dan benar. Rukun agawe santoso juga bernilai idilogis, karena patut menjadi panduan kita untuk mempererat tali persaudaraan sesama anggota masyarakat.

Para pemimpin dan para elit suka menganjurkan agar kita menghargai kemajemukan, tetapi makna kemajemukan sendiri difahami berbeda-beda sehingga membingungkan. Kemajemukan kalau dikelola dengan model pragmatis transaksional akan menjadi senjata makan tuan, yakni malah berpotensi memunculkan konflik yang pada ujungnya makin menjauhkan nilai kerukunan dan kesentosaan.

Membangun jembatan sangat mudah jika ada sarananya. Membangun kerukunan dan kesentosaan tidaklah mudah karena prosesnya tidak bersifat instan seperti membangun jembatan tadi. (penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi).

Berita Terkait

Komentar

Komentar