Rupiah Merespon Positif Tetapnya BI Rate

rupiah

JAKARTA, (tubasmedia.com) – Dengan antisipasi kenaikan suku bunga BI rate akan dinaikkan memberikan kesempatan bagi Rupiah untuk melanjutkan kenaikannya.

Di sisi lain, penguatan tersebut juga terbantukan dari terapresiasinya Yuan terhadap US$ setelah rilis data-data neraca perdagangan Cina mengalami kenaikan dan angka inflasi dinilai stabil. Selain itu, penurunan pada nonfarm payrolls dan government payrolls AS juga membuat laju US$ menurun.

Berbeda dengan IHSG, laju Rupiah kembali tertekan setelah berada dalam tren penguatannya dalam beberapa hari terakhir. Kembali turunnya Yen setelah merespon negatif langkah PM Jepang, Shinzo Abe, untuk menunda rencana kenaikan pajak penjualan dan lebih memfokuskan pada pemilu bulan depan.

“Laju US$ memanfaatkan pelemahan tersebut untuk kembali terapresiasi,” tutur Analis PT Woori Korindo Securities Indonesia, Reza Priyambada, Jakarta, Senin (17/11/14).

Di sisi lain, melemahnya Taiwan Dollar dan Rubel Rusia terkait kondisi internal masing-masing turut berimbas pada pelemahan sejumlah mata uang emerging market dan terdepresiasinya Rupiah. Pelemahan pada Won seiring dengan penilaian laju ekspor KorSel berpotensi menurun sejalan dengan pelemahan Yen yang memberikan kesempatan pada para eksportir Jepang untuk lebih besar melakukan penjualan barangnya.

Tetapi di sisi lain, laju Yen juga sedang melemah seiring belum jelasnya langkah Pemerintah Jepang untuk menunda kenaikan pajak penjualan. “Laju Rupiah mampu bergerak positif setelah terimbas penguatan pada Yuan dan Won,” jelas Reza.Melambatnya retail sales dan industrial production China membuat adanya spekulasi terhadap langkah pemerintah China untuk memberikan stimulusnya untuk menopang pertumbuhan ekonominya.

Di sisi lain, tetapnya suku bunga acuan KorSel direspon positif Won. Begitupun dengan Rupiah yang juga terimbas positif akan tetapnya BI rate. Rp12.233-12.000 (kurs tengah BI). (angga)

Humbanghas
Humbanghas

Berita Terkait

Komentar

Komentar