“Ruwatan Jembatan Merah”, Mengenang Keberanian Pejuang

Laporan: Redaksi

Ilustrasi

Ilustrasi

SURABAYA, (Tubas) – Acara “Ruwatan Jembatan Merah” diselenggarakan pada Senin, 8 Agustus 2011 mulai pukul 15.30. Semua peserta mengenakan kostum pakaian tempoe doeloe dan pakaian adat.

Acara ini diawali dengan berjalan kaki dari Tugu Pahlawan sampai Jembatan Merah. Kemudian dilanjutkan dengan musikalisasi puisi yang bertemakan kemerdekaan, monolog tentang cerita perjuangan rakyat Surabaya pada 1945 dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Ada pula acara Larung Rakit yang berisi makanan dan Tabur Bunga di Kali Mas di bawah Jembatan Merah sebagai simbol penghormatan atas keberanian pejuang dulu dalam mempertahankan kemerdekaan.

Koordinator acara, Catur Wibowo, dalam siaran persnya yang diterima Tubas, pekan lalu, mengatakan, penyelenggaraan ruwatan ini sebagai rangkaian refleksi 66 tahun kemerdekaan Indonesia.

Penyelenggaranya, Serikat Buruh Kerakyatan-Komite Persiapan Konfederasi Serikat Nasional (SBK-KP KSN), Forum Advokasi Mahasiswa Universitas Airlangga (FAM Unair), Serikat Kedaulatan Mahasiswa untuk Rakyat (SKMR), Serikat Mahasiswa Indonesia (SMI) Surabaya dan Ikatan Keluarga Orang Hilang Indonesia Jawa Timur (IKOHI Jatim).

Dikatakan, ketika kita melihat atau pun melewati Jembatan Merah, mungkin akan terlihat sangat biasa seperti jembatan pada umumnya. Secara fisik memang jembatan ini tidaklah besar. Mungkin timbul pertanyaan, apa istimewanya Jembatan Merah? Apakah menjadi istimewa karena jembatannya dicat warna merah? Bukan fisiknya yang membuat jembatan ini terlihat besar, tetapi sejarahnya.

Jembatan Merah didirikan atas perjanjian Paku Buwono II dari Mataram dengan VOC sejak 11 November 1743, yang mempunyai nilai sejarah dan politik yang tak ternilai. Di tempat tersebut salah seorang pimpinan angkatan bersenjata Inggris yang bernama Brigadir Mallaby tewas terbunuh pada 1945. Jembatan Merah memang merupakan salah satu saksi bisu betapa gigih dan beraninya arek-arek Suroboyo dalam perang 10 November Surabaya melawan tentara Sekutu dan NICA-Belanda yang hendak menguasai kembali Surabaya.

Dikemukakan, penyelenggaraan acara “Ruwatan Jembatan Merah” diharapkan dapat mengingatkan kita kembali tentang cerita keberanian dan pantang mundur para pejuang kemerdekaan. “Sehingga kita semua bisa mengambil pelajaran dan meneladani keberanian dari para pejuang dulu dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia,” katanya. (roris)

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.