Safequard Belum Optimal Bendung Produk Impor

Laporan: Redaksi

ilustrasi

MENGAMATI PESAWAT – Wakil Menteri Perindustrian Alex SW Retraubun bersama Sekjen Kemenperin Anshari Bukhari (paling kanan) dan Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat (dua kanan)sedang mengamati replika pesawat TNI AU AI-2317 pada Pameran Produksi Indonesia (PPI) 2013 di Bandung. –tubasmedia.com/sabar hutasoit

BANDUNG, (TubasMedia.Com) – Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API), Ade Sudrajat, mengatakan selama ini kebijakan safeguards masih belum dioptimalkan untuk membendung derasnya produk impor Tekstil dan Produk Tekstil (TPT). Pelaku usaha meminta kepada pemerintah agar proses penetapan instrumen tersebut dipercepat.

“Upaya pemerintah dalam menetapkan safeguards hanya penggolangan beberapa harmonize system (HS) dari sektor hulu dan sektor hilir TPT. Saat ini, hanya 5 HS dari 1060 HS dan beberapa turunan TPT yang mampu direalisasikan pemerintah,” katanya saat ditemui di Pameran Produksi Indonesia (PPI) 2013 di Bandung, Kamis.

Ade menambahkan, produk impor yang sering mendominasi pasar TPT Indonesia berasal dari China, Vietnam, Kamboja, Bangladesh dan Korea Selatan. Selain itu, produk yang diimpor merupakan stok lama.

“Pemerintah diharapkan membuat regulasi yang mendukung sektor industri. Saat ini, persoalan Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE), sampai penetapan naiknya tarif tenaga listrik (TTL) pada tahun depan akan menghambat kinerja industri TPT dalam negeri,” katanya.

Di bagian lain keterangannya disebutkan bahwa pemerintah saat ini berada dalam pusaran yang tidak benar. Cukup banyak perdebatan yang dilakukan para pemangku kepentingan negeri ini yang tidak berdaya guna kepada kepentingan rakyat bahkan perdebatan tersebut merebut seluruh kepentingan rakyat.

Lihat tuh, katanya, partai di negeri ini cukup banyak dan semua petinggi dan para kader partai sibuk mengurus kepentingan partainya masing-masing dan tidak lagi memperdulikan rakyat.Bahkan lanjutnya, penguasa negeri ini sok sibuk mengurus kepentingan luar negeri sementara di dalam negeri sendiri masih berantakan.

‘’Dalam negeri saja, amburadul, boro-boro ngurus negeri orang. Harusnya kita mulailah dari diri sendiri, baru ke orang lain,’’ katanya. (sabar)

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar