Saktinya Daster Putih

Oleh: Sabar Hutasoit

 

TIDAK ada niat tulisan ini untuk mendiskreditkan atau memposisikan daster putih ke tempat yang salah. Akan tetapi ingin menuliskan kalau daster putih apalagi dipadukan dengan peci atau sorban putih, kesaktiannya sangat besar dan teramat menonjol dan sudah teruji, semua mental berhadapan dengan daster putih.

Si pemakai daster dan peci putih secara mendadak berubah posisi menjadi orang yang punya power atau ‘’kekuatan’’ dan sepertinya bisa dan dapat melakukan aksi apa saja, bahkan memprorak-porandakan apa saja sepertinya tidak ada hambatan.

Kelihatannya ada kekuatan extra yang teramat sakti melekat pada daster dan peci putih dan anehnya siapapun diantara aparat negara tidak bisa berkutik bila berhadapan dengan para pria yang mengenakan daster dan peci putih dimaksud apalagi ditambah embel-embel habib di depan nama pemakai daster dan peci putih itu, duh illah, lengkaplah sudah kesaktiannya.

OK, plis, jika kesaktian itu digunakan untuk megawal penegakan hukum atau melawan si perusuh serta mengusir orang-orang yang mempecundangi aturan pemerintah, kita dan semua warganegara republik akan senang dibuatnya.

Akan tetapi sebagian besar dari pria berdaster dan berpeci atau bersorban putih itu, tampilannya sangat menakutkan, menyeramkan apalagi jika turun berombongan naik sepeda motor dengan suara knalpot yang sangat hingar bingar memekakkan telinga sembari mengibas-ngibaskan alat apa saja yang ada di tangannya sambil teriak allahuakbar

Tak Segan

Tidak hanya itu melakukan pelanggaran atas aturan dan peraturan pemerintah juga, mereka sangat berani dan tidak ada rasa sungkan atau segan.

Paling tidak mereka tidak menyegani daster dan peci putih sebagai seragam kebesaran para nabi. Harusnya mereka yang mengenakan baju kebesaran para habib tersebut sudah wajib menjaga wibawa dan nama baik serta nama besar habib.

Namun nyatanya mereka tidak peduli dengan wibawa yang penting melawan dan melawan. Seperti yang terjadi baru-baru ini di Surabaya Jawa Timur, seorang pria berdaster dan berpeci putih tidak segan melawan petugas negara di jalan raya sambil adu jotos padahal dirinya sedang dicegah karena melakukan pelanggaran terhadap pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Lucunya, kendati si pria berdaster putih telah melanggar PSBB, si petugas negara yang sempat melaporkannya ke polisi, balik menyambangi rumah si pelanggar lalu membungkukkan badannya sembari minta maaf.

Kita jadi bingung menonton adegan tersebut dimana sebelumnya si pelanggar berada di posisi yang salah, tiba-tiba dia disambangi dan disembah sambil minta maaf. Ini buktinya daster dan peci putih itu sangat sakti.

Coba kalo pemilik mobil itu tak bersorban, sudah ditindak dan disuruh balik arah seperti puluhan ribu kendaraan yang melanggar PSBB dan disuruh balik arah. Ini seorang pria berdaster putih sangat ditakuti.

Pertanyaan kita, sejak kapan ada tertulis di buku hukum kita si pelanggar hukum disambangi ke rumahnya lalu disembah dan minta maaf. Harusnya kan diadili secara hukum yang berlaku. Ini tidak coy…

Malah ditempatkan menjadi orang yang wajib disembah dan harus minta maaf kepadanya.

Ngeri kali yah negeri ini, hukum kalah dengan daster putih. Para pemangku kepentingan negeri ini tidak sadar, bahwa dengan takutnya aparat negara kepada pria berdaster putih, maka wibawa hukum kita di mata warga masyarakat sudah anjlok dan tak berwibawa.

Selain itu akan rame-rame warga NKRI tidak lagi peduli terhadap penegakan hukum karena nyatanya ada masyarakat istimewa yang bisa mengalahkan undang-undang dan hukum negara hanya dengan mengenakan dasterdan peci putih yang kalau kita beli di pasar, harganya berkisar antara Rp 60.000 hingga Rp 100.000 per helai. (penulis seorang wartawan tinggal di Jakarta) 

Berita Terkait

Komentar

Komentar