Sambung Menyambung Menjadi Satu, Itulah Indonesia

fa-5

Oleh: Fauzi Aziz

 

JUDUL ini mengingatkan kita akan syair lagu mars kebangsaan yang sudah lama diciptakan. Generasi muda sekarang, barangkali tidak banyak tahu. Sementara, generasi tua, banyak yang sudah lupa. Barangkali juga tak peduli lagi.

Apalah artinya sebuah lagu, mungkin seperti itu komentarnya. Padahal kalimat “sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia”, maknanya sangat kontekstual dengan kondisi bangsa pada saat ini, bahkan di masa yang akan datang.

Pertama, sambung menyambung menjadi satu adalah satu kesatuan yang tidak putus dan bahkan “diharamkan” bila dengan sengaja diputus, atau ada yang secara sengaja memutus satu kesatuan Indonesia, yang kita kenal NKRI.

Ancaman untuk memutus sambungan yang terikat erat dan kuat atas Indonesia pasti “penjajah” dalam wajahnya yang baru. Perlawanan rakyat semesta yang akan menghadapi jika ada memutus sambung menyambungnya ikatan pisik dan batin bangsa Indonesia yang kini sedang terus membangun dan mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatannya.

Kedua, dalam dimensi ekonomi, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia, dapat difahami sebagai suatu konsep pembangunan ekonomi harus dibuat dalam satu arsitektur dan konstruksi yang kokoh dan kuat dalam satu kesatuan sistem ekonomi nasional.

Ini bermakna bahwa sistem ekonomi terkait dengan kegiatan dan prosesnya harus berjalan efisien. Konsep supply chain dan pentingnya integrasi ekonomi secara tersirat sudah diamanatkan oleh konsep sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia atau secara tegas bisa dimaknai sebagai “itulah ekonomi Indonesia”.

Sumber daya alam kekayaan bangsa Indonesia berarti harus diolah secara sambung menyambung, bisa berpindah antar daerah atau antar wilayah tanpa harus dihambat atas nama kekuasaan atau kewenangan untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.

Pekerjaan yang bersifat administrasi di pemerintahan pusat dan daerah tetap penting, tetapi tidak boleh untuk menciptakan sekat-sekat administrasi secara rigid, sehi ngga proses produksi dan distribusi barang dan jasa antar daerah menjadi terhambat.

Tugas pemerintah dalam urusan ekonomi membuat kanalisasi jika ada sumbatan administrasi atau birokrasi. Tugas pemerintah pusat dan daerah adalah sebagai pembuka jalan atau pemberi jalan agar kegiatan dan proses ekonomi dapat bekerja secara efisien dan mekanisme pasar dapat bekerja secara optimal sehingga rakyat tidak terbebani harga barang dan jasa yang mahal.

Jadi makna sambung menyambung dalam dimensi ekonomi itulah Indonesia yang harus membangun kesatuan ekonomi nasional.

Ketiga, dalam dimensi budaya, sambung menyambung menjadi satu itu lah Indonesia adalah mencerminkan semangat bhineka tunggal ika. Berbeda-beda budaya tapi satu tujuan, membangun Indonesia dengan banyak warna-warni budaya nasional sebagai salah satu modal dasarnya.

Budaya bangsa yang beraneka ragam adalah sumber inspirasi kelokalan yang bernilai tinggi sebagai energi positip untuk menstimulasi Indonesia berkemajuan. Karena itu, dengan alasan apapun budaya bangsa harus dipertahankan. Nilai-nilai luhurnya harus digali kembali, dipilah dipilih yang cocok dengan zamannya,

Keempat, pada akhirnya kita harus menciptakan arsitektur dan konstruksi Indonesia dalam satu semangat sambung menyambung menjadi satu. Pembangunan tol darat laut dan udara adalah sama pentingnya untuk mewujudkan semangat tersebut. Begitu pula pembangunan sarana dan prasarana informatika dan telekomunikasi harus dilakukan secara merata.

National Economic Supply Chain (NESC) adalah keniscayaan agar integrasi nasional di sektor ekonomi benar-benar dapat menjembatani kepentingan produsen dan konsumen secara berimbang. Produsen tetap bisa memupuk keuntungan secara wajar dan konsumen dapat tercukupi kebutuhanya dengan harga dan kualitas yang baik serta terdistribusi tepat waktu.

Jadi, Indonesia memerlukan tiga modal utama untuk menjadi bangsa yang kuat dan unggul di dunia, bilamana kita berhasil mengembangkan konsolidasi politik; mengintegrasikan sistem ekonomi yang tidak tersekat-sekat administrasi pemerintahan yang rumit karena alasan kekuasaan dan kewenangan; dan akhirnya perlu mengintegrasikan nilai budaya unggul yang berasal dari berbagai daerah. (penulis adalah pemerhati masalah sosial ekonomi).

Berita Terkait

Komentar

Komentar