Sampah Berserakan, Dinas Kebersihan DKI Keluhkan Kurangnya Lokasi Penimbunan

Oleh: Anthon P Sinaga

ilustrasi

DINAS Kebersihan DKI Jakarta hingga saat ini belum memiliki terobosan untuk menangani masalah sampah. Padahal Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sudah mengeluarkan anggaran rata-rata Rp 1 triliun setiap tahun. Produksi sampah rata-rata tiap hari di Jakarta saat ini diperkirakan antara 6.500 ton hingga 7.000 ton.

Kepala Dinas Kebersihan DKI Jakarta, Saptastri Ediningtyas mengakui, sampah sebanyak itu tidak mampu diangkut sekitar 780 truk sampahnya ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) di Bantar Gebang, Bekasi. Soalnya, sebagian besar armadanya sudah berusia lebih dari 10 tahun.

Masalah pengelolaan sampah memang terus menjadi persoalan di kota-kota besar dan kecil di Indonesia. Soalnya, sampah belum bisa didayagunakan untuk lebih bermanfaat seperti di negara tetangga menjadi bahan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) atau menjadi pupuk kompos atau dipres menjadi balok-balok yang bisa digunakan mereklamasi pantai.

Dinas Kebersihan DKI, dari dulu hanya berpikir konservatif menyadiakan armada pengangkut sampah, mencari lokasi penimbunan sampah (LPS) dan tempat pembuangan akhir (TPA). Mestinya harus berpikir modern, antara lain melakukan studi banding ke negara yang berhasil mengelola sampahnya dengan baik, seperti Jepang, Kuala Lumpur dan Singapura.

Saat ini Dinas kebersihan hanya mengeluhkan kurangnya lahan LPS yang saat ini hanya 210 lokasi di Jakarta. Idealnya, katanya, setiap RW harus menyediakan 1 LPS. Hal ini sudah diminta lewat ratusan kelurahan di Jakarta, dimana tiap kelurahan terdiri atas 5 sampai 10 RW. Berarti kalau dipatuhi, bisa mendekati seribuan LPS.

Ditargetkan tahun 2015 setiap LPS dilengkapi kamera pemantau (CCTV) yang berjejaring satu dengan yang lain. Lewat pengamatan dari CCTV, onggokan sampah dapat segera diketahui, sehingga truk-truk sampah dapat dikerahkan ke LPS yang tumpukan sampahnya banyak.

Teorinya memang masuk akal, namun apakah armada truk sampah gampang dialihkan dengan kondisi armada tua dan lalu lintas yang padat, masih diragukan. Hal itu pula yang mungkin membuat permintaan Dinas Kebersihan ke semua RW di Jakarta, kurang ditanggapi. Mereka tidak mau lingkungannya nanti menjadi busuk karena gudang sampah, walaupun dijanjikan setiap LPS akan dibangun dengan teknologi ekologi berupa penghalau polusi udara. Yakni, membuat sabuk hijau disekeliling LPS dengan menanam pohon penghalau polusi udara, seperti bambu, cendana, dan melati. Masyarakat sudah tidak percaya lagi dengan janji-janji.

Sebenarnya, dengan anggaran yang cukup besar, rata-rata Rp 1 triliun setiap tahun, Dinas Kebersihan DKI Jakarta sudah bisa menciptakan sistem pemusnahan dan pemanfaatan sampah yang lebih maju dan efektif. Antara lain menggunakan teknologi baru membangun pabrik kompos yang menghasilkan sampah organik, atau membangun PLTSa yang bisa menghasilkan listrik.

Contoh kota Bandung saja, kini sudah berencana membangun PLTSa, yang harga satu unit hanya Rp 88 miliar. DPRD Kota Bandung sudah menyetujui rencana itu. Sesungguhnya, dengan alokasi anggaran Dinas Kebersihan DKI sebanyak Rp 1 triliun setahun saja, setidaknya 10 PLTSa atau senilai Rp 880 miliar sudah bisa dibangun untuk mengolah seluruh sampah di DKI Jakarta.

Dengan membangun 10 unit PLTSa, berarti bisa disebar masing-masing 2 unit di lima wilayah kota Jakarta. Sehingga, pengangkutan sampah di masing-masing wilayah pun lebih dekat dan menjadi lebih murah, tidak perlu harus terpusat ke TPA Bantar Gebang,Bekasi, dengan kendala kemacetan lalu lintas.

Hal ini sejalan pula dengan rencana Pemprov DKI Jakarta yang akan mengubah pola pengangkutan sampah berbasis zona, untuk meningkatkan efektivitas pengangkutan dari permukiman. Di setiap kecamatan akan ditempatkan sejumlah truk sampah dan petugas yang bertanggung jawab.

Sehingga, kalau di semua wilayah kota ada PLTSa, maka biaya angkut dari kecamatan sudah pasti lebih murah dan jarak angkut lebih dekat dan lebih lancar. Dinas Kebersihan DKI sudah waktunya berpikir modern, menciptakan inovasi baru untuk mengelola sampah Jakarta. ***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar