Sampah Jadi Uang, Uang Jadi Sampah

Oleh: Sabar Hutasoit

 

ADA dua perisiwa menarik di negeri ini. Yang satu kejadiannya di Jawa Timur yang satunya lagi di ibukota Jakarta. Pelakunya sama-sama kepala daerah. Disebut menarik, karena kedua peristiwa itu nafasnya bertolakbelakang, di Jawa Timur, sampah dikelola menjadi uang, di Jakarta, uang dikelola menjadi sampah.

Ceritanya begini. Ada patung bambu di Bundaran HI Jakarta dinamai Getah Getih yang dibangun oleh Gubernur Anies Baswedan 11 bulan lalu. Biaya pembangunannya tidak tanggung-tanggung sebesar Rp 550.000.000.

Semula menurut Anies, patung bambu yang menggambarkan dua anak manusia sedang bersenggama itu sebagai hiasan dalam menyemarakkan Asean Games 2018.

Tapi kemudian instalasi seni bambu Getah Getih itu dibongkar pada Rabu (17/7) malam oleh Dinas Kehutanan DKI dengan alasan sudah mulai rapuh karena faktor cuaca.

Sudah jelas kritik bermunculan walau kritimitu terlambat. Misalnya dari

kalanganDPRD DKI Jakarta. Reaksi yang terlambat datang dari DPRD DKI. Fraksi Nasdem menyebut sejak awal bambu ini adalah pemborosan karena tidak direncanakan dengan matang. Kenapa kalimat ini tidak didengungkan saat Anis membangunnya 11 bulan lalu?

Kata Nasdem, itu salah satu pemborosan karena memang DKI ini selalu ada kegagalan dalam perencanaan. ‘’Tidak terserapnya anggaran itu pun banyak dikarenakan kegagalan dalam perencanaan karena tidak direncanakan dengan matang,” kata Ketua Fraksi NasDem DPRD DKI Jakarta Bestari Barus.

Beda dengan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur yang berencana membangun Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa). Usulan ini merupakan tindak lanjut dari pembangunan PLTSa pertama di Indonesia yang berlokasi di Kota Surabaya.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak menjelaskan Sidoarjo dipilih lantaran jumlah sampah di kabupaten itu cukup tinggi, yakni mencapai seribu ton per hari. Selain itu, hasil kajian dan rancangan pembangunan PLTSa juga sudah disiapkan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo.

Menurutnya, bila rancangan proposal perencanaan pembangunan PLTSa di Sidoarjo rampung, maka ia akan segera melaporkannya ke Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa.

Setelah itu, Khofifah akan mengajukan usulan tersebut kepada pemerintah pusat melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Melihat dua peristiwa yang bertolakbelakang ini, dituntut sikap dan kreatifitas pimpinan daerah yang pro warganya, bukan hanya memenuhi selera pribadi pimpinan daerah yangsama sekali tidak adafaedahnya kepada warga.

Dengan menghamburkan Rp 550.000.000 dan hanya bertahan 11 bulan kemudian berubah jadi sampah, ini akan menyakiti hati warga, khususnya yang hidupnya pas-pasan. (penulis adalah seorang wartawan)

 

Berita Terkait

Komentar

Komentar