Site icon TubasMedia.com

SDM dan Infrastruktur Transportasi Pulau-Pulau Terluar

Oleh: Efendy Tambunan

PEMBANGUNAN nasional bervisi maritim melalui program tol laut oleh presiden terpilih Jokowi sangat cocok dengan kondisi Indonesia sebagai negara kontinental. Konektivitas transportasi (tol laut) akan menghubungkan seluruh wilayah nusantara, termasuk pulau-pulau terluar, yang terintegrasi dalam visi bahari. Pusat-pusat pertumbuhan berbasis bahan baku lokal akan disebar di seluruh nusantara sehingga konektivitas dan kinerja logistik lebih efisien.

Gencarnya semangat membangun infrastruktur transportasi menyebabkan upaya pembangunan kualitas SDM seolah olah luput dari perhatian. Padahal, kunci mengejar pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat yang bermukim di pulau-pulau terluar, adalah meningkatkan produktivitas nasional. Salah satu upaya yang dilakukan adalah meningkatkan kualitas SDM.

Hingga saat ini, pertumbuhan ekonomi didorong oleh pertumbuhan konsumsi sementara infrastruktur lemah. Fakta di lapangan, barang-barang konsumsi dari luar lebih menguasai pasar karena unggul dalam kualitas dan harga. Artinya, barang produk dalam negeri tidak menjadi tuan di negerinya sendiri. Produk dalam negeri kurang kompetitif karena rendahnya nilai tambah dan buruknya infrastruktur transportasi.

Pada umumnya, kualitas produk barang Indonesia relatif rendah. Produk berkualitas rendah sangat sensitif terhadap biaya transportasi. Semakin jauh jarak sentra produksi dengan konsumen, maka harga barang semakin tidak kompetitif. Dengan kondisi geografis kontinental dan permukiman penduduk dan sentra produksi yang tidak menyebar merata menyebabkan harga barang di tingkat konsumen jauh diatas harga pabrik. Warga di pedalaman dan pulau-pulau terluar membeli barang lebih mahal padahal di wilayah-wilayah tersebut, perputaran uang rendah.

Menurut kamar dagang dan industri (KADIN), Jakarta menguasai perputaran uang 70 persen sementara perputaran uang di pulau-pulau terluar dan wilayah pedalaman hanya kecipratan saja. Selain perputaran uang rendah, infrastruktur transportasinya juga buruk. Artinya, pulau-pulau terluar dan wilayah pedalaman merupakan potret wilayah tertinggal yang sulit diakses.

SDM Pulau Terluar

Berdasarkan kunjungan dan survey penulis minggu lalu ke Pulau Mentawai, pulau ini lebih cocok dikembangkan sebagai tempat wisata, sentra perikanan dan pengolahan minyak kelapa. Kendalanya adalah lemahnya kualitas SDM di sektor tersebut. Di sektor angkutan laut sudah relatif baik dengan hadirnya kapal cepat (Mentawai Fast)dengan kapasitas 200 penumpang, Kapal Feri (Ambu-Ambu), Kapal Perintis (Sabuk Nusantara) dan Kapal Dagang (Sumber).

Menurut penulis, meningkatnya pelayanan angkutan laut tidak berdampak besar terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di pulau-pulau terluar. Peningkatan nilai tambah produk pertanian dan perikanan adalah salah satu upaya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. Produk pertanian bernilai tambah akan menciptakan lapangan kerja baru dan menambah pendapatan warga.

Nilai tambah produk pertanian di pulau-pulau terluar dan pedalaman dapat diusahakan melalui peningkatan kualitas SDM masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah meningkatkan ketrampilan warga dan pendampingan secara berkala oleh para tutor dan instruktur. Selain peningkatan ketrampilan warga, peningkatan nilai tambah produk pertanian dan perikanan dapat dilakukan melalui proses pengolahan yang memerlukan investasi dan teknologi pengolahan yang lebih modern.

Penulis sebagai salah satu tim tenaga ahli pembuatan proposal Akademi Komunitas di Kabupaten Kepulauan Mentawai mengusulkan program studi diploma satu dan dua yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat Mentawai. Program studi (prodi) yang dibuka meliputi Prodi Pariwisata, Pertanian, Perikanan dan Otomotif. Program Studi di Akademi Komunitas bertsifat buka tutup. Jika permintaan suatu program studi sudah jenuh, program studi tersebut boleh ditutup dan program studi baru dibuka.

Sistem pendidikan Akademi Komunitas sangat cocok di pulau-pulau terluar. Diharapkan, kehadiran Akademi Komunitas berbasis Kabupaten dapat meningkatkan kulaitas sumber daya manusia sesuai dengan kebutuhan masyarakat di pulau-pulau terluar. Kolaborasi antara Akademi Komunitas dengan perusahaan akan meningkatkan kualitas lulusan akademi tersebut.

Selain peningkatan kualitas SDM dan investasi teknologi pengolahan, tantangan lainnya adalah bagaimana menciptakan angkutan logistik di pulau-pulau terluar lebih efisien. Sistem logistik pulau-pulau terluar harus dibangun dan terintegrasi dengan sistem logistik nasional. ***

(Penulis: Dosen Teknik Sipil UKI dan Pendiri Toba Borneo Insitute)

Exit mobile version