Segelas Ketulusan

Oleh : SM. Darmastuti

Ilustrasi

Ilustrasi

SEBUAH kalimat bijak yang saya dapat dan terus kuingat-ingat adalah : ingatlah akan kebaikan orang yang kita terima, tetapi sebaliknya kalau kita berbuat baik kita harus cepat melupakannya. Ibarat menghanyutkan daun di sungai yang akan hilang mengikuti alirannya, darma yang kita lakukan akan sempurna apabila kita tidak lagi memperhitungkan apalagi mengharapkan balasan atas kebaikan yang kita lakukan.

Pada suatu hari, seorang remaja miskin yang bekerja paruh waktu sebagai penjaja keliling menyadari bahwa uang yang ada di kantongnya tinggal 10 sen. Dia sudah terlalu jauh berjalan dari rumahnya, kecapekan, lapar dan haus. Dia merasakan betapa beratnya harus mencari uang sendiri guna keperluan sekolahnya.

Ketika dia semakin lelah, dia berpikir akan meminta segelas air pada rumah yang akan didatanginya kemudian. Dia begitu gembira ketika seorang wanita cantik membuka pintu rumah dan menjamunya dengan makanan dan juga segelas susu. Wanita cantik yang melihat seorang remaja yang kelaparan dan kehausan itu tidak sampai hati hanya memberinya segelas air seperti yang dia minta.

“Berapa hutang saya pada anda kak?” tanya lelaki remaja itu setelah makan dan minum.

“Tidak ada hutang-hutangan. Ibu saya mengajarkan: kita tidak boleh menghitung kebaikan yang kita berikan,” jawab wanita muda itu sambil tersenyum tulus.

“Baiklah, kalau begitu aku mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya dari lubuk hatiku.” Remaja lelaki yang bernama Howard Kelly itu kemudian pamit pulang. Dia merasa kuat lahir batin. Badannya segar karena mendapat asupan yang baik, demikian juga keyakinanya yang hampir hilang pada Tuhan dan pada kebaikan manusia kembali tumbuh.

Bertahun-tahun kemudian, wanita cantik yang telah menjadi ibu paruh baya itu sakit berat. Dokter di kotanya menyarankan dia untuk berobat ke rumah sakit di kota besar tempat seorang dokter spesialis kondang berpraktek. Dokter itu sangat terkenal karena kepandaiannya mengobati penyakit-penyakit yang langka.

Dr. Howard Kelly, dokter ahli yang sangat dihormati banyak orang, diundang untuk memberi konsultasi tim dokter. Ketika dia mendengar nama kota pasien kiriman itu, dia langsung mendatangi ruang tempat wanita tersebut dirawat. Howard dengan mudah mengenali siapa dia, dan segera kembali ke ruang konsultasi untuk memutuskan bahwa dia sendiri yang akan menangani dan memberi perhatian khusus pada pasien itu.

Wanita itu dapat melewati saat-saat kritisnya dan akhirnya dinyatakan sembuh total. Ketika bagian keuangan mengkonfirmasi ongkos pengobatan yang harus dimintakan pada pasien, Dr. Howard Kelly menuliskan sesuatu pada nota penagihan. Wanita paruh baya yang menerima amplop berisi nota tersebut tadinya begitu yakin bahwa dia akan kena ongkos pengobatan mahal yang harus dicicil seumur hidupnya. Tapi betapa kagetnya ketika dia membaca apa yang tertera di nota penagihan. Bukannya angka, melainkan sebuah kalimat, “Telah lunas dibayar dengan segelas susu …” Tertanda Dr. Howard Kelly.

Remaja kehausan yang dulu pernah ditolongnya, membalas menolong dengan ketulusan yang sama seperti apa yang pernah dia lakukan. Dr. Howard Kelly adalah pendiri Divisi Gyneacologic Oncology di Rumah Sakit Universitas Johns Hopkins pada tahun 1895. Divisi di rumah sakit bergengsi di Amerika itu terus berkembang, dan sampai sekarang masih menjadi ikon.

Oleh karena itu, memang sebaiknya kita dapat berbuat baik kepada orang lain dengan tanpa mengharapkan keuntungan, kemasyhuran apalagi mengharap hadiah dari perbuatan baik kita. Dunia akan sejahtera apabila kita semua melakukannya. ***

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar