Sekali Lagi, Belajar dari Ketegasan Singapura

Oleh: Supriyanto Martosuwito

 

TAK biasanya saya kecewa pada pengamat luar negeri dan akademisi serta guru besar UI,  Hikmahanto Juwana. Kekecewaan juga saya tujukan kepada Muhammad Farhan, presenter yang jadi anggota DPR RI.

Dalam wawancara dengan Kompas TV,  Hikmahanto Juwana mencari masalah baru, dengan mengompori Farhan yang sedang blunder.

Anggota DPR RI M. Farhan menyalahkan mengapa Singapura memberikan alasan penolakan kedatangan Abdul Somad. Politisi Nasdem yang duduk di Komisi 1 ini juga heran, mengapa penjelasannya membuat masalah baru.

Padahal Singapura memberikan penjelasan itu karena ada desakan dari berbagai pihak di Indonesia. Ada juga Nota Diplomatik dari KBRI di Singapura.

Kementerian Dalam Negeri Singapura kemudian menjawab, Abdul Somad Batubara ditolak kehadirannya karena kotbah bom bunuh diri di Palestina. Juga karena menyebarkan segregasi dan merendahkan komunitas agama lain dan secara terbuka menyebut kafir.  Sikap yang demikian tak bisa diterima di wilayah Singapura yang multiras dan multi agama.

Setelah dijelaskan, masih disalahkan juga.  “Ada penghakiman oleh Singapura terhadap WNI,” begitu kata Farhan.   Sehingga serba salah:  dijawab salah, tidak dijawab juga salah.

Nampaknya, mereka ingin penjelasan Singapura sesuai keinginan semua orang di Indonesia. Ya, manalah mungkin?

Secara umum, kinerja para politisi kita di Senayan memang  mengecewakan. Pengecualian pada Adian Napitupulu, Budiman Sudjatmiko  dan Rieke Diah Pitaloka dan Meutya V. Hafid.

Salut

Saya dan sebagian besar dari kita di sini salut karena Imigrasi  Singapura tegas.  Alih alih mengharap Singapura “menghormati” Indonesia, justru kita di Indonesia berharap penegak hukum kita tegas seperti Singapura. Berkat ketegasan hukumnyalah Singapura maju sejahtera seperti sekarang, sedangkan hukum kita cenderung cincai cincai.

Untunglah ada pejabat teras Singapura, mengulangi ketegasannya, yaitu Menteri Hukum dan Dalam Negeri Singapura, K. Shanmugam. Dia  menegaskan negaranya tak akan membiarkan orang-orang seperti Ustad Abdul Somad (UAS) mendapatkan pengikut di negara itu.

“Kami tidak akan membiarkan orang seperti Somad memiliki kesempatan untuk mendapatkan pengikut lokal atau terlibat dalam aktivitas yang mengancam keamanan dan keharmonisan komunitas kami,” kata Shanmugam saat merespons pengusiran UAS, seperti dikutip The Straits Times. 

“Posisi kami sangat sederhana. Orang seperti ini, kami tidak akan membiarkan mereka masuk.” kata Shanmugam seraya meminta masyarakat Singapura untuk berhati-hati menyikapi keterlibatan pengkhotbah luar negeri dan ajaran yang memecah belah.

“Gunakan penilaian Anda. Anda tahu apa yang menjadikan Singapura maju. Anda tahu apa yang baik untuk diri Anda dan komunitas,” tuturnya.

“Semua orang bebas melangsungkan ibadah mereka di sini. Setiap orang bebas percaya atau tidak percaya Tuhan, atau mempercayai Tuhan mana pun yang mereka mau. Namun, kita tak perlu melewati batas dan menyerang orang lain. Ini bukan kasus yang unik dalam komunitas tertentu. Jika kalian melihat penceramah dari Indonesia, mereka menyerang Kristen, mereka menyerang non-Muslim,” ucapnya.

Mendagri Singapura mengklaim pihaknya sudah memantau gerak-gerik penceramah kondang Abdul Somad  Batubara yang mempengaruhi dan meradikalisasi warga di negaranya, Senin (23/5).

Shanmugam berkata, beberapa orang yang diselidiki berdasarkan Undang-Undang Keamanan Dalam Negeri Singapura (Internal Security Act – ISA). Salah satu dari warga yang terpapar yakni anak berusia 17 tahun. Anak itu meyakini bom bunuh diri sebagai tindakan kemartiran.

Pelaku Bom

Remaja itu telah menonton ceramah UAS di YouTube. Ia percaya perjuangan kelompok ISIS dan mati sebagai pelaku bom bunuh diri akan mendapat surga sebagai ganjarannya.

“Jadi Anda bisa lihat ceramah Somad  telah berdampak di dunia nyata,” ujar Shanmugam dikutip Straits Times.

Penegasan Mendagri Singapura mendapat dukungan dari para tokoh muslim senior di negeri jiran .  Para tokoh tersebut juga menyerukan umat Islam setempat untuk menolak para penceramah yang memiliki pandangan yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam dan universal tentang kemanusiaan dan kasih sayang.

Religious Rehabilitation Group menanggapi dengan rasa malu yang mendalam dan penyesalan yang mendalam kepada seorang rekan pengkhotbah yang tampaknya memiliki dan menyebarkan pandangan yang bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan Islam dan universal yang diterima, belas kasih dan cinta tanpa syarat kepada orang lain,” kata kelompok itu dalam sebuah posting Facebook, Selasa (24/5/2022)   seperti dikutip The Straits Times.

“Kami berdiri teguh dengan posisi Pemerintah Singapura bahwa pandangan yang memecah belah dan segregasi tidak memiliki tempat di negara ini.”

Sikap tegas pemerintah Singapura dan ulama di sana penting. Sebab jika lemah dan menyerah pada tekanan kaum ekstrimis Indonesia, akan menjadi senjata kaum Islamis Indonesia dalam menekan pemerintahan di sini. ***

Berita Terkait

Komentar

Komentar