Selamatkan Penghuni DAS Ciliwung

Oleh: Anthon P Sinaga

Ilustrasi

Ilustrasi

HAMPIR tiap tahun para penghuni DAS (daerah aliran sungai) atau bantaran Sungai Ciliwung terancam banjir. Bila hujan tiba, mereka siap-siap mengemasi barang-barangnya untuk diselamatkan ke tempat yang lebih tinggi, serta seperti tanpa komado mereka secara otomatis melakukan siaga empat hingga siaga satu untuk menghadapi banjir kiriman paling ringan sampai yang terberat.

Pokoknya, setiap musim hujan, mereka harus siap siaga. Ironisnya, musim hujan tak bisa lagi diprediksi, akibat perubahan iklim global. Sehingga, praktis mereka harus bersiaga hampir sepanjang tahun. Apakah penderitaan mereka ini terus dibiarkan? Berita mengembirakan, muncul pekan lalu.

Pemerintah Pusat yang dalam hal ini Kementerian Pekerjaan Umum bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, mulai awal tahun 2012 merencanakan manata Sungai Ciliwung dan daerah aliran sungainya. Yang lebih menggembirakan, karena pemerintah berjanji akan merelokasi penghuni DAS Ciliwung dengan sangat manusiawi.

Direktur Sungai dan Pantai Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, Pitoyo Subandrio mengatakan hari Kamis (24/11) pekan lalu, program ini untuk kebaikan masyarakat. Khsusus bagi penghuni bantaran sungai akan dilakukan penataan, bukan penggusuran. Dasarnya, adalah memanusiakan manusia. ”Kebutuhan dan keinginan mereka akan ditampung dan diwadahi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta, Sarwo Handayani mengatakan, Pemprov DKI akan menerapkan resettlement solution framework, yaitu program relokasi warga bantaran sungai dengan dasar studi sosiologi, lingkungan dan berbagai faktor lain. Sistem ini digunakan dalam program JEDI (Jakarta Emergency Dredging Initiative) atau pengerukan 13 sungai di Jakarta yang mendapat bantuan dana pinjaman dari Bank Dunia.

Sebenarnya, Pemprov DKI harus lebih berperan menyelamatkan warganya. Hal ini dikaitkan pula dengan peringatan khusus dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pekan lalu kepada Gubernur Fauzi Bowo, agar melaksanakan antisipasi kemungkinan banjir di Jakarta. Presiden mengingatkan, kemungkinan adanya ancaman curah hujan ekstrem pada awal tahun depan.

Sebanyak 71.000 Keluarga

Menurut data dari Ditjen Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum, saat ini tercatat 71.000 keluarga, atau sekitar 350.000 jiwa warga DKI Jakarta yang tinggal di bantaran Sungai Ciliwung, yang harus direlokasi. Yakni, mulai dari Kampung Melayu, Bukit Duri sampai Manggarai.

Menurut Pitoyo, program penataan Ciliwung secara menyeluruh, yang disebut Solusi Total untuk Ciliwung, membutuhkan biaya sekitar Rp2,1 triliun. Jika dapat berjalan sesuai target, program ini bisa selesai tahun 2015. Namun ditegaskan, pihaknya tidak akan membangun bantaran sungai, sebelum warga pindah ke tempat yang lebih baik. Untuk itulah butuh kerja sama dengan pihak Pemprov DKI Jakarta, dan instansi lainnya.

Di sinilah perlu kerja sama Pemerintah Pusat dan Pemprov DKI untuk segera membangun tempat penampungan bagi penghuni Ciliwung yang akan direlokasi. Perlu dibangun rusunawa (rumah susun sewa) atau rusunami (rumah susun milik) bagi penghuni bantaran Ciliwung, agar apa yang disebut ”memanusiakan manusia” benar-benar terwujud.

Soal lokasi rumah susun, menurut Pitoyo, pihaknya berencana membuat sodetan Kali Ciliwung di Kalibaru dan Kalibata. Dengan menyodet sungai 250 meter saja, akan bisa mendapat tanah cekungan bekas sungai yang cukup luas untuk lokasi pembangunan beberapa blok rumah susun. Lalu tunggu apa lagi.

Hal inilah yang harus disambut oleh Pemprov DKI. Gubernur Fauzi Bowo bisa menggunakan momen ini untuk meminta uluran tangan Presiden SBY menyediakan dana khusus dari Pemerintah Pusat untuk kepentingan rakyat kecil di Jakarta. Pemerintah, menurut SBY, sangat serius mewaspadai ancaman banjir akibat kemungkinan terjadinya curah hujan estrem. Penghuni DAS Ciliwung harus diselamatkan.

”Atensi khusus, saya berikan kepada DKI Jakarta. Empat tahun terakhir Jakarta relatif selamat dari bencana banjir. Namun, tahun depan, situasi bisa berbeda apabila curah hujan cukup tinggi di negeri ini,” kata Presiden hari Jumat (26/11) di kantornya, sambil mengutip peringatan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) tentang ancaman curah hujan ekstrem beberapa waktu mendatang. ***

Berita Terkait

Older Post

Komentar

Komentar