SEMINAR TUBAS – Tingkatkan Peran Pers Gelorakan Peduli Lingkungan

Laporan: Redaksi

ilustrasi

SEMINAR- Suasana seminar yang diselenggarakan SKM Tunas Bangsa –tubasmedia.com/roris

JAKARTA, (TubasMedia.Com) – Peran pers menggelorakan semua pihak untuk peduli lingkungan sangat penting. Peran demikian mesti ditingkatkan dalam bentuk pemberitaan masalah lingkungan secara komprehensif, termasuk menyangkut siapa yang melanggar ketentuan, bagaimana sanksinya, dan siapa eksekutornya.

Demikian antara lain rumusan kesimpulan seminar nasional dengan tema “Strategi Pers Meliput Masalah Lingkungan” yang diselenggarakan oleh Surat Kabar Mingguan Tunas Bangsa (Tubas) di Hotel Desa Wisata TMII Jakarta, Selasa (7/5).

Seminar ini menghadirkan pembicara Drs Fauzi Aziz yang menyampaikan topik “Industri dan Lingkungan” serta Ir. S.M. Doloksaribu, M.E,ng., membawa topik “Melihat Bumi dari Bumi”, dengan moderator Enderson Tambunan. Seminar dihadiri, antara lain, kalangan pers, anggota DPR, pejabat dari Kemenperin, dosen, dan mahasiswa.

Sebelum seminar dimulai, Penerbit Tunas Bangsa meluncurkan buku Pesona Tetangga, karya Sabar Hutasoit, Pemimpin Redaksi SKM Tubas. Buku Pesona Tetangga, yang diperkaya dengan kata pengantar dari anggota Komisi VI DPR, Dr. Ir. Lili Asdjudiredja, dan Kontributor Utama Tubas, Dr. Ir. Budi Darmadi, mengupas tentang perkembangan infrastruktur dan fasilitas umum di Singapura dan Malaysia. Pada peluncuran dan seminar itu, Lili Asdjudireja dan Sekretaris Ditjen Industri Unggulan Berbasis Teknologi Tinggi, Syarif Hidayat, menyampaikan pandangannya mengenai perkembangan infrastruktur, industri, dan penanganan lingkungan di Indonesia,

Kesimpulan lainnya dari seminar, pengendalian pertumbuhan penduduk hendaknya ditingkatkan agar tekanan terhadap bumi dapat dikurangi. Pengendalian itu bukan hanya urusan negara kita, juga negara-negara lain yang sudah menyatakan komitmen tinggi untuk penyelamatan bumi dari pemanasan global.

Dalam konteks di negara kita, ketersediaan anggaran yang memadai sangat penting, agar program penanganan lingkungan dapat berlanjut dengan melibatkan masyarakat. Sebab disadari, tanpa melibatkan partisipasi masyarakat, upaya menangani masalah lingkungan sulit mencapai sasaran.

Selain itu, pers diharapkan terus mengingatkan negara-negara maju untuk memenuhi komitmennya membantu negara-negara berkembang terkait dengan pengendalian pemanasan global, seperti yang disepakati pada pertemuan-pertemuan internasional mengenai masalah lingkungan.

Saling Membutuhkan

Dalam makalahnya Fauzi Aziz, pensiunan pejabat tinggi di Kementerian Perindustrian, mengemukakan, industri dan lingkungan adalah dua entitas yang berbeda, yang dalam praktiknya saling berhubungan dan saling membutuhkan.

Ia berpendapat, Industri tidak akan bisa didaur hidup bila mengabaikan aspek lingkungan. Oleh sebab itu, pada era sekarang dan waktu mendatang, pembangunan industri harus berpegang pada prinsip keberlanjutan dan berwawasan lingkungan.

Indonesia yang sedang giat membangun perekonomian tidak bisa melepaskan diri dari masalah lingkungan. Pasal 33 ayat (4) UUD 1945 secara eksplisit telah mengamanatkan, “Perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan dan kesatuan ekonomi nasional.”

Dikemukakan, industri yang mengutamakan efisiensi dan produktivitas penggunaan sumber daya secara berkelanjutan, harus mengupayakan agar proses produksi yang dijalankan dapat diselaraskan dengan fungsi lingkungan hidup supaya output-nya memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pembicara S.M. Doloksaribu, pakar lingkungan dan dosen Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta, mengemukakan, kesadaran tentang keadaan Bumi kita, berkembang sejak paroh terakhir abad yang lalu. Kesadaran bertumbuh ketika temuan dan peringatan ahli ditanggapi secara positif oleh banyak orang, baik kelompok-kelompok masyarakat maupun masyarakat politik pengambil keputusan kebijakan publik. Pesan bahwa Bumi kita dalam keadaan sakit direspons dengan berbagai upaya resmi dan tidak resmi, untuk menghindari keadaan yang lebih buruk.

Setidaknya, untuk mengetahui situasi lingkungan sekarang ini, sebenarnya kita harus melihat sedikit agak jauh ke belakang, yakni saat dimulainya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (ipteks), pertumbuhan penduduk, serta pertumbuhan kebutuhan. Puncak dari kegiatan yang mengandalkan kemampuan ipteks untuk menjawab pertumbuhan dan perkembangan kebutuhan itu terjadi ketika Revolusi Industri di Inggris dan seluruh Eropa daratan lebih dari 200 tahun lalu.

Pencarian sumber daya alam (terbarui dan tak terbarui) hingga kini adalah upaya memenuhi kebutuhan yang terus-menerus meningkat. Pencarian rempah-rempah dan bahan makanan lain, bahan-bahan kayu, mineral dan energi dari negeri-negeri di luar Eropa, telah membawa keadaan baru, sekitar lima ratus tahun silam, ketika penjelajahan dunia baru menghasilkan kolonialisme dan eksploitasi empat benua di luar Eropa.

Dikatakan, salah satu dokumen penting dari KTT Rio+20 adalah Masa Depan yang Kita Inginkan. Dokumen ini berbicara tentang masa depan dengan kondisi daya dukung yang semakin menurun. Menurut SM Doloksaribu, tidak ada pengecualian tentang siapa yang harus lebih bertanggung jawab atas situasi lingkungan sekarang ini. Manusia dan kemanusiaan kita berada di dalam realitas biosfir yang ringkih/sensitif. Untuk memberikan kesadaran dan tanggung jawab yang lebih besar agaknya kita harus lebih sering melihat Bumi dari dalam, walau melihat dari luar tetap akan menolong kita untuk memahami keseluruhan. (ender)

Topik :

Berita Terkait

Komentar

Komentar