Semua Bangsa Menghadapi Persaingan Global

Oleh: Fauzi Aziz

111114-bb1

JUDUL tulisan ini memberikan catatan realitas bahwa dalam lingkungan global nyaris tidak ada negara yang mampu bersaing sepanjang masa. Ketika Tiongkok pada abad ini muncul sebagai negara adidaya ekonomi, ternyata Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa yang makmur menghadapi persoalan GDP yang cenderung stagnan.

Kadang di atas, kadang di bawah. Kadang berhasil menjadi pemenang, tetapi pada saat yang berbeda harus menerima menjadi pecundang. Dalam ekonomi, dan dalam kehidupan apa saja, fenomena seperti itu bisa datang dan pergi. Ancaman yang paling ditakuti ketika satu negara bangsa gagal membangun daya saing adalah matinya kegiatan ekonomi nasional dan lokal, kemudian muncul pengangguran dan ujungnya jatuh miskin.

Negeri kita berada di mana? Jawabannya, negeri kita kaya raya dan punya prospek untuk bisa menjadi adidaya ekonomi pada 2050. Tetapi, pada kondisi yang sama, bisa dikatakan negeri kita belum mampu mengurus rumah tangganya dengan baik, sehingga daya saingnya secara total bermasalah. Negeri ini mengalami sebuah kondisi yang menurut Stiglitz terjangkit penyakit paradox of plenty.

Situasi ini memberikan pemahaman, meskipun Indonesia kaya akan sumber daya alam, tetapi sebagian rakyatnya tetap terjerembab dalam kemiskinan. Indonesia kaya, tetapi dalam memakmurkan bangsanya kurang “setiti”, kurang tekun berbenah, sehingga selalu tertinggal dalam membangun daya saing internasional.

Laman: 1 2 3

Berita Terkait

Komentar

Komentar