Semua Kecap Nomor Satu

Oleh: Sabar Hutasoit

Ilustrasi

Ilustrasi

YA memang. Sepanjang sejarah peradaban dunia, belum pernah kita temukan kecap nomor dua, semuanya nomor satu. Akibatnya, setiap ada pihak atau produsen yang mengklaim diri atau produknya nomor satu, pasti dijawab dengan kalimat setengah menggoda dengan sebutan ‘’kecap selalu nomor satu’’.

Rasanya demikian halnya dengan sejumlah pasangan bakal calon (balon) gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta yang mulai ‘’gasas-ganasnya’’ menjaring simpati masyarakat. Tak hanya turun ke bawah, mereka juga mulai melontarkan sejumlah janji jika nanti terpilih.

Janji. Namanya saja janji, bisa dipenuhi dan tidak jarang diingkari, apalagi janji dalam konteks kampanye. Tanpa ada niat menuduh para balon ini ingkar janji, namun pengalaman kita, atau paling tidak pengalaman sekelompok masayarakat menyimpan sejuta kekecewaan atas realisasi dari janji yang diucapkan para calon pemimpin saat kampanye.

Jujur saja, mana mungkin ada seorang atau sepasang calon pemimpin saat kampanye tidak mengumbar janji-janji manis, indah, elok, sopan, santun, lembut dan sebagainya ? Bahkan sebelum naik panggung kampanye para calon itu terlebih dahulu mempelajari teknik-taknik kampanye yang bisa memikat hati para pendengarnya.

Para tim juru kampanye (jurkam) juga lebih dulu mendata apa-apa yang sebenarnya diinginkan para konstituen apakah perbaikan jalan, pengaliran air bersih, berobat dan sekolah yang murah, butuh gedung sekolah yang layak, mengatasi banjir, sembako yang tidak mahal dan banyak lagi. Nah, kebutuhan-kebutuhan itulah yang biasanya dikupas tuntas lewat panggung kampanye dan semua calon pemimpin menyatakan siap memenuhinya.

Banjir yang terus menerus melanda Jakarta ? Serahkan kepada ahlinya. Hasilnya, jangankah dicegah, malah lokasi banjir semakin meluas. Berobat murah ? Wou… lihat tuh rakyat miskin ditolak dari rumahsakit karena tak mampu membayar uang muka.

Ketika mengumbar janji di panggung kampanye, rasanya tidak ada hambatan mensejahterakan rakyat, segala-galanya gampang, dengan catatan semua junji itu akan diwujudkan jika pengumbar janji itu terpilih.

Hasilnya ? coba lihat. Semua pengumbar janji di panggung kampanye setelah mereka terpilih apa yang kita rasakan dan apa saja yang mereka perbuat berkaitan dengan janji kampanye tadi. Jauh api dari panggang bukan?

Memang nasib rakyat hanya sampai mendengar janji saja. Untuk menikmati isi janji itu rasanya ntar dululah, belum tiba saatnya. Orang bijak mengatakan, rakyat itu nasibnya hanya sebatas dihitung, belum tiba pada diperhitungkan. Artinya, saat menjelang pemilihan, apakah itu pemilihan anggota legislatif, pemilihan presiden, pemilihan gubernur, pemilihan bupati dan sebagainya, rakyat seketika itu dihitung. Untuk apa ? Untuk mengetahui kekuatan konstituen masing-masing calon.

Akan tetapi setelah pemilihan berakhir, dan mereka-mereka yang mengumbar janji itu terpilih, jangankan memenuhi janji, rakyat yang menghantar mereka ke kursi kekuasan, tidak dikenal lagi.

Karenanya, bagi para calon pemilih (konstituen) hati-hatilah dan pintar-pintarlah menjatuhkan pilihan. Jangan tergiur hanya karena isi pidato kampanye yang menyenangkan telinga dan jangan tergiur pula oleh karena adanya bagi-bagi uang (kalau ada).

Tapi tetapkan pilihan dari hati yang paling dalam sebab begitu kita tetapkan pilihan, kepentingan hidup kita sebagai warganegara, selama lima tahun berada di tangan mereka yang kita pilih. Jadi jangan menyesal.***

Berita Terkait

Komentar

Komentar