Seratus Persen Logam, Bahan Baku ‘’Handicraft’’ Desa Tumang, Masih Diimpor

Sriyanto memperlihatkan kap lampu dengan bahan baku aluminium hasil produknya yang siap untuk diekspor

 

BOYOLALI, (tubasmedia.com) – Seratus persen bahan baku tembaga, kuningan dan aluminium yang menjadi bahan utama perajin handicraft tembaga di desa Tumang, Boyolali, Jawa Tengah, diimpor dari berbagai negara antara lain China, Italia, Korea dan India.

Tidak kurang dari 10 ton dalam satu bulan tembaga impor yang dibutuhkan kurang lebih 200 perajin handicraft dan jumlah tukang tidak kurang dari 1.000 orang dengan nilai Rp 2,25 miliar.

Hal itu diutarakan Sriyanto, pemilik UD Intermedia Logam yang ditemui wartawan di desa Tumang, Cipogo, Boyolali pekan silam. Sriyanto adalah satu dari 200 perajin logam dan sudah 20 tahun kegiatan ini digeluti Sriyanto.

Namun menurut Sriyanto ada yang aneh dalam praktek impor tembaga dimaksud. Katanya, kalau para perajin hadicraft tembaga di desa Tumang mau mengimpor langsung bahan baku tembaga, harganya menjadi jauh lebih mahal dibanding jika mereka membeli bahan-bahan impor dari importir yang berlokasi di Surabaya.

Ini aneh, katanya, jika beli barang impor dari para importir yang umumnya berlokasi di Surabaya, harganya lebih murah dibanding jika mereka mau mengimpor seendiri dari negera-negara pemroduksi tembaga-tembaga dimaksud.

‘’Logikanya, jika kami mengimpor langsung, harga harusnya kan lebih murah dibanding jika kami beli dari importir. Tapi yang terjadi tidak demikian. Dimana kesalahannya ?,’’ tanya Sriyanto.

Karenanya, Sriyanto meminta pemerintah mengatur kembali tata niaga impor bahan-bahan tembaga agar para perajin yang tergolong industri kecil tidak terbebani.

Hal lain yang disampaikan Sriyanto adalah, kenapa Indonesia tidak memproduksi tembaga-tembaga tersebut sementara pangsa pasar tembaga itu cukup besar di dalam negeri.

Apalagi untuk kebutuhan para perajin tembaga di Tumang, kata Sriyanto seharusnya pemerintah memberi perhatian serius. Kenapa ? Menurut Sriyanto perhatian serius pemerintah untuk desa Tumang teramat penting karena desa Tumang adalah desa yang nihil pengangguran dan kondisi ekonomi warga Desa Tumang, rata-rata sudah berada pada tingkat stabil.

‘’Tidak ada satu orangpun di desa ini warga yang menganggur, nol persen, seluruhnya sudah punya pekerjaan dan ekonomi disini-pun sudah mapan,’’ lanjutnya menjelaskan bahwa dengan 200 perajin tembaga, mempekerjakan sedikitnya 1.000 orang tukang mulai dari pemahat, pandai besi, pemasaran, maupun pengusaha kerajinan.

Seluruh produk kerajinan di Desa Tumang dengan tujuan pasar internasional, dikerjakan dengan tangan atau hand made dan tidak satupun menggunakan mesin.

Menurutnya, handicraft berbahan baku logam produk Desa Tumang sangat laris di pasar mancanegara. Saingan Desa Tumang adalah Maroko dan India, namun produk Tumang tetap lebih unggul.

Karena itu Sriyanto mengharap kepada pemerintah agar segera menerbitkan tata niaga impor logam atau, pemerintah “memaksa” produsen logam memproduksi logam yang dibutuhkan Desa Tumang dengan harga yang lebih terjangkau. (sabar)

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published.